Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
31. Biliar


__ADS_3

Pintu kos membuka.


“Kapan sampainya, Dit?” tanya Vio.


“Jam sebelas tadi. Soalnya aku pergi pagi-pagi nian.”


Mereka duduk di kursi yang ada di beranda.


“Kau tambah putih saja, Dit.”


“Kan di sana aku di rumah saja.”


“Apa Palembang yang panas?”


“Ya, panas nian Palembang. Di dusun juga panas, tapi di Palembang ini kan panasnya karena banyaknya kendaraan, macet, terus sesak. Oh, iya, aku ada oleh-oleh nah.”


Dita menyodorkan sekantong buah duku dan rambutan.


“Wah, makasih nian yeh, Dit. Lebaran ke rumah. He-he.”


“Itu dari kebun sendiri di dusun. Kebetulan sekarang lagi musim.”


Seorang laki-laki melewati pagar kos.


“Nah, ini kakak aku, namanya Budi.”


Vio berjabat tangan.


Lelaki itu masuk ke dalam tanpa banyak cincong.


“Kakak kau ni kena autis?”


“Kurang ajar! Dia memang pendiam. Dak hobi bergaul.”


“Belum digauli mungkin.”


“Mulut kau!”


“Maaf. Atau barangkali kena stroke lidah. Jadi susah ngomong.”


“Kau ni, Vi!”


“Oh iya, dia kan calon kakak ipar.”


“Tadi dia yang ngantar aku ke sini. Nanti sore dia balik lagi ke dusun.”


“Naik?”


Dita mengarahkan pandangannya ke depan, ke arah mobil mahal yang berada di dekat pagar. “Nanti kita jalan-jalan yuk! Giliran, biasanya kan aku terus yang nebeng, sekarang gantian, kau yang nebeng sama aku.”


Vio melongok. Perlahan ludahnya melungsur ke kerongkongan. “Pake mobil?”


“Ya. Sekarang saja perginya.”


“Si Karbon bagaimana?”


“Biari dulu di sini. Dak mungkin hilang. Siapa pula yang mau nyurinya?”


Sebentar Dita masuk ke dalam kos dan meminta ijin dengan kakaknya yang sedang asyik mendengarkan musik. Dita masuk ke mobil duluan. Lalu Vio, kepalanya kejeduk sebab kurang menunduk pas masuk ke dalam mobil.


“Kampungan!”


Vio mengusap-usap kepalanya yang nyaris benjol. “Kau bisa nyetir?”


“Yup!”


Mobil itu melaju…..


Sembari membenarkan pantatnya, sebab first naik mobil mewah, Vio celingak-celinguk mengawasi kiri-kanan jalan.


“Devrie belum ke Palembang?”


“Masih di dusun, mungkin lusa baru ke Palembang,” jawab Dita sambil mengharmonisasikan persneling, gas, dan kopling dengan membabi buta.


“Jangan ngebut-ngebut, Dit!”

__ADS_1


“Santai. Nyawa kita kan ada tiga.”


“Ya, cuma duanya kan utang.”


“Kan enak mati di dalam mobil.”


“Dit… Dit….”


“Slow. Aku sering was-was kalau dibonceng kau naik vespa butut itu. Sekarang giliran!”


Pas di Jakabaring, trek lurus dan sepi dari pengendara lain, Dita semakin enjoy menginjak gas sehingga Vio keringat dingin.


“Aku pengen nguji adrenalin kau. Katanya punya nyali.”


Mobil melesat lebih dari seratus kilometer per jam…..


Vio tersandar. Jemarinya kencang mencengkeram sabuk pengaman. Matanya membelalak, tapi mendadak memejam. “Diiiiiiiit!!!” Mulutnya terbuka lebar.


“Cemen! Pakaian punk, tapi hati pink.”


Vio mulai mengatur napas lagi saat mobil mulai melaju dengan pelan.


“Maaatiiii… gilo nian!” komentar Vio terengah-engah. Dia memegangi dadanya yang tadi naik-turun. Napasnya satu-satu.


Mereka berhenti di kompleks JSC. Suasana hijau di sekitaran. Dita masih saja tersenyum-senyum melihat Vio yang gugup sekali.


“Maaf,” pintanya.


“Santai saja, Dit. Sekarang aku mau nagih janji kau. Kan, mau jawab sekarang.”


“Soal itu. Pas di dusun, aku memikirinya dengan matang-matang, Vio.” Dita mulai serius. “Aku sedikit tahu banyak tentang kau. Aku bisa nilai kau. Dari segi apa pun.” Dita menunduk. “Maaf, Vio.”


“Maaf ngapa?”


“Mulai sekarang aku dak bisa jadi kawan kau lagi.”


“Ngapa ngomongnya seperti itu?”


“Aku… ak… aku dak bisa. Aku dak bias.”


“Apa?” Vio mulai panik. Mata dan kupingnya fokus. Baru kali ini Vio benar-benar serius. Selama dua mingguan ini dia menunggu, selama itu pula dia galau memikirkannya, memikirkan apakah cintanya akan diterima. Kalaupun saja ditolak, entah, mungkin nasibnya bakal sama seperti Rama.


“Dit? Dak bisa nerima aku?”Seketika hati bujang itu remuk redam. “Serius?” lirihnya tak percaya.


“Aku… aku dak bisa menolak. Dan sekarang kau bukan lagi kawan aku… tapi… pacar aku.” Sekonyong-konyong Dita langsung mencubit perut Vio dengan gemas.


Vio tersandar lagi sambil mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan.


***


Vio keluar dari studio.


“Masuk bae.”


“Aku dan Devrie di luar saja, Sayang. Panas kuping kami dengari lagu-lagu kamu itu.”


“Aih, dak enaklah kan kalau kamu berdua di luar, lagi pula panas seperti ini. Tenang saja, Rama sudah dak marah lagi. Jangan takut.”


Dita mengawasi Devrieya. Pandangannya bertanda sebuah ajakan.


“Ya sudah kita masuk,” kata Devrieya.


Rama mendekatkan mic, lalu mencetuskan sebuah lagu. “Lagunya Endank Soekamti, Semoga Kau di Neraka.”


“Gus?”


“Aku sudah belajar, Vi.”


Rama membuka intro. Lalu dengan gesit dia mengguncang gitar sekaligus bernyanyi.


“Semoga kau… di neraka… bersamanya.”


Belumlah usai satu lagu penuh, mendadak Rama menghentikannya.


“Ngapa, Ram? Ngapa berhenti?” tanya Vio heran.

__ADS_1


“Lagu lain saja! Lagu ciptaan kita yang untuk dibawakan pas kontes nanti. Kita belum fix nian lihai menyanyikan lagu itu.”


Kiagus membuka lagu itu dengan pukulan drum berulang-ulang, lalu disambut melodi yang dimainkan oleh Rama dan bass yang dibetot-betot oleh Vio. Suatu saat mereka bakal terkenal lantaran lagu itu.


***


“Gus, kita represing yuk. Jengah seminggu ini latihan terus,” ajak Vio.


“Refreshing di mana, Jok?”


“Main biliar di PS. Sekalian kita ngibur Rama.Kamu berdua ikut yeh?”


“Tapi jangan malam nian pulangnya,” balas Dita.


“Wokeh!” Vio kembali masuk ke studio. “Ram?”


Mendadak Rama menghapus air matanya.Vio menepuk-nepuk pundak Rama. “Ram, yakinlah kita bakal berhasil! Janganlah kau sedih, Kawan. Aku juga kadang suka nangis kalau mikirimasa depan band kita, mikir nasib kita kelak.”


Sungguh Rama bukan sedih karena itu, tapi sesuatu yang lain.


Sesampai di Palembang Square, mereka berlima menuju Kantor Billiard. Suara dentuman bola biliar mengisi sekeliling ruangan yang dipenuhi musik disko ini. Asap rokok mengepul-ngepul di tengah riuh rendah keasyikan orang yang sedang menyodok. Dita dan Devrieya duduk tak jauh dari meja lima. Sembari men-chalk stiknya, Vio melirik-lirik Dita, mengharap dukungan dan pujian.


“Dit, aku ni master biliar di Dua Puluh Enam Ilir.”


“Ngarang. Wong Palembang nian kau ni.”


“Serius.”


“Serius ngarangnya?”


“Nianlah.”


“Siapa?”


Vio membusungkan dada sambil mengeluarkan klaim, “Aku!”


“Siapa nanya?”


Kiagus yang memecah lima belas bola karena tadi Vio yang menyuruhnya. Lalu… tuuummm… taaarrr!!! Seluruh bola terpencar, berhamburan, bergerak ke segala arah. Sekarang ini gaya Vio mantap luar biasa. Ditambah sesumbarnya tinggi sekali, namun skill olah sodoknya jauh panggang dari api. Sekira bisa menyodok bola putih saja, syukur. Jarang memasuki bola, tapi ocehannya menggunung. Vio membungkukkan badannya, lalu menyodok. Tuuummm, jauh melenceng.


“Aih, stiknya ini dak bagus.Mejanya juga agak miring.”


Dita meledek, “Otak kau yang miring. Benar kan kau ini menderita radang selaput otak. Suka ngawur.”


Giliran Kiagus. Dia memilih bola angka kecil. Dengan hebat dia mampu menceploskan tujuh bola secara beruntun dan hanya menyisakan bola angka delapan, dan itu adalah bola terakhir. Meski sudah unggul telak, Kiagus tak mau sombong. Dia biasa-biasa saja, tak banyak gaya, tak banyak cincong. Dengan sengaja dia tidak memasukkan bola hitam itu.


“Aih, kau ni menang nasib, Gus.”


Vio menyodok lagi, dan… masuk.


“Huuu… yes.Biasa-biasa, itu belum seberapa.” Padahal, dia baru memasukkan satu bola. Dilihatnya bola angka empat yang sudah nangkring di pinggir lobang ujung kiri. Sesaat, dengan kepongahannya yang luar biasa, dia mengeluarkan style, persis gaya Cristiano Ronaldo sedang merapikan rambutnya. Tuuummm… bola putih melesat dengan cepat, namun… taaarrr… bola warna ungu membentur bantalan karet sebelah kiri.


“Agggrrrhhh! Agus ngugupi aku.”


“Aku diam dari tadi, Idiot.”


Kiagus bersiap dan tak butuh banyak berpikir, sebab si raja terakhir tak jauh dari lobang. Pluk! Kiagus berhasil menjungkalkan Vio.


“Menang nasib.Agus ni, lahir di atas meja biliar. Baru lahir saja sudah diberi mainan berupa stik dan bola biliar.”


Kiagus membalasnya dengan senyum. “Katek musuh. Cemen! Ram, ayo kita main. Malas main dengan orang yang biasa main comberan.”


Rama berdiri cool sambil men-chalk stiknya. Gayanya santai. Seperti tak bisa main biliar sama sekali. Dia mempersilakan Kiagus yang memecah buah. Bola sembilan masuk. Kiagus bola bilangan besar. Pertarungan mulai sengit karena Kiagus berhasil membelasakkan empat bola secara beruntun. Sekarang giliran Rama menyodok. Dikekernya bola putih dan disejajarkannya dengan bola angka dua. Tuuummm… masuk. Terus sampai Rama berhasil memborong tujuh bola sekaligus tanpa hambatan apa pun. Pas mau menyodok bola terakhir, Vio berdiri sambil berkicau, “Maaatiii… gilo nian kawan satu ini! Hebat nian main! Aih, bukan musuh ini!”


“Diamlah!” sergah Rama. “Mau belajar? Datang ke rumah, bawa kopi sama rokok.Pecundang!”


Vio melengos. “Bukannya kau lihai karena sudah aku ajari, Ram. Masa kau lupa?!”


“Minggir sana.” Dengan enjoy Rama mencemplungkan bola hitam tanpa ada kesulitan sedikit pun.


“Aku pula yang main, Ram.”


“Ah. Kau tuh belajar dulu yang banyak, Idiot. Dak usah dulu main, nanti kau malu saja.”


Skor berakhir imbang.

__ADS_1


“Wah, gilo nian kawan. Bukan main, susah nian ngalahi kau ni, Gus,” ujar Rama terheran-heran.


“Pengen belajar, Ram? Besok ke rumah bawa kopi sama rokok. Bakal aku beri buku panduannya juga.”


__ADS_2