Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
9. Sulit dimengerti


__ADS_3

Seseorang tak mungkin hanya menjadi orang yang bersikap realistis, menerima semuanya, tidak mau berusaha, dan seolah tak punya impian dalam menjalani hidup. Tidak mungkin. Dan bagi seorang pemimpi sejati, bukan juga berarti dia tak boleh menerima apa darinya sekarang dan tak sanggup menerima kenyataan. Penempatan untuk kedua sisi itu mesti pas dan bijak sehingga apa yang kadang-kadang jadi penghambat dalam hidup ini bisa teratasi.


Kadang-kadang sulit dimengerti.


Itulah isi kepala Rama.


Contoh saja, dia pernah berkhayal punya band, dan band khayalannya sudah mampu menyaingi Superman Is Dead yang sudah Go International! Dia mengobral khalayalannya, “Band kita konser di Los Angeles,Turin, Stadion Wembley, terus di Tokyo, dan berbagai kota besar lainnya yang terkenal di dunia. Album pertama kita laku satu juta kopi pada tahun pertama. Nama band kita jadi trending topic di sosial media apa pun.”Tak sampai di situ, Rama berkhayal namanya ada di Google dan sering di-search orang, riwayat hidupnya masuk Wikipedia dan dibaca oleh ribuan penggemar setia. Dalam pada itu, Rama sempat berpikir kalau di masa tuanya nanti ada orang yang membuatkan buku khusus biografi tentang semua perjalanan hidupnya. Termasuk ketika dia jadi Wawi, hingga sukses di industri musik dunia.


Lanjut dalam khayalnya, lingkar pinggang untuk ukuran celana Vio tak lagi 27, melainkan sudah 30 sebab dia malu anggota bandnya ada yang kurang gizi. Semua penampilan dari ketiga personel itu bertema Emo Punk. Maksudnya, berambut Emo dan berbusana ala anak punk. Saking tinggi tingkat khayalannya, dia merasa nyaris menjadi orang gila. Dan gilanya itu lebih parah daripada Vio.


***


Rama melihat wajahnya di kaca spion. Dia menarik rambutnya ke belakang. Peci yang dipasangnya agak susah melekat di kepala karena rambutnya yang bertambah lebat.


“Tidak usah ganteng-ganteng nian. Di dalam sana tidak ada gadis,” celetuk Vio.


Azan Jumat berkumandang. Mereka bertiga mengambil wudhu lalu masuk ke dalam masjid. Setelah shalat, mereka berkeliling di sekitar pelataran Masjid Agung.


Bunyi mesin gilingan tebu yang saling beradu-adu saling timpal dengan suara penjual es dawet asli Banjar. Lolongan penjual pempek bentrok dengan seruan pembeli sate. Pedagang alat canggih yang dipasang di antena untuk mengusir semut-semut televisi bertengkar dengan pengincar batu cincin yang sedang menawar harga. Alunan lagu shalawat yang disetel penjual CD islami ditelan oleh ributnya penjual pakaian yang sedang mengobral.


“Keramaian di Pasar Enam Belas sekarang mungkin agak mengendur. Tapi coba lihat di Masjid Agung,” ujar Rama.


“Ini masjid apa pasar?” tanya Vio.


“Sekiranya berjualan di luar masjid ya dak apa-apa. Dak ada yang larang. Bukankah Nabi kita dan sebagian sahabat beliau berdagang?”


Mereka mendekat ke lapak penjual sepatu.


“Yang ini berapa harganya, Kak?” Vio mengambil Converse “jiplakan” berwarna hitam.


“Seratus lima puluh. Bisa ditawar,” balas si penjual.


“Gus?” desis Rama.


“Tujuh puluh bisa, Kak?” tawar Kiagus.

__ADS_1


“Modalnya enam puluh, Dik. Delapan puluhlah kalau mau.”


Mereka bertiga berdiskusi.


“Kakak beli di agen mana modalnya enam puluh?” tegas Kiagus bertanya.


“Kak,” ujar Rama, “kawan aku ni juga jual sepatu, jadi tahu.”


Si pedagang marah. “Sudah sana kalau dak mau beli.”


“Pedagang yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang selalu jujur dan orang-orang yang mati Syahid. Itu kata Nabi. Maaf Kak, bukan sok ngajari. Kakek-nenek kami juga pedagang. Kami sudah diajari sejak kecil.”


***


Masayu tak perlu banyak waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus dan terutama untuk mencari kawan akrab. Waktu dua minggu dikira cukup baginya untuk menentukan siapa yang bakal menjadi sahabat setianya selama kuliah. Dua kawannya itu adalah Dita dan Devrieya.


“Nanti kawani aku ke Pasar Enam Belas yeh?” ujar Masayu.


“Oke. Pengen beli apa?” tanya Dita.


“Bukan beli sesuatu sih, tapi ada perlu lain.Nanti aku jelasi.”


“Kapan rencana mau ke Pasar, Yu?”


“Minggu depan mungkin. Nanti aku kabari lagi kalau jadi.” Kuping Masayu tak kelihatan lagi karena ditutupi rambut. Dan rambutnya itu lebat dan berkilau. Sepintas Masayu cocok jadi model iklan shampoo. Sementara Dita dan Devrieya, jangan ditanya! Seolah mereka amat kenal dengan artis Barat dan Hollywood, seperti Emma Watson, Miranda Kerr, Julia Roberts, Christina Aguilera, Angelina Jolie, dan banyak lagi. Maka kepribadian khas Nusantara mereka menjelma menjadi kepribadian Barat nan liberal. Bukan main. Mereka berkepribadian selebritis. Bukan main. Wajah mereka menggoda. Bukan main. Mereka mempunyai bibir merah merona-rona. Bukan main. Dita dan Devrieya mempunyai suara syahdu yang agaknya mirip suara perempuan di bandara yang memberi tahu tentang keberangkatan pesawat. Bukan main. Mahasiswa yang akhlaknya jongkok dan IPK-nya jauh kurang dari tiga bahkan tak menyentuh angka dua sudah pasti bakal terjengkang lesu tatkala melihat kecantikan mereka. Bukan main. Cowok mata keranjang dan berhidung belang sudah tak kuasa menahan diri. Benar-benar bukan main.


Dua minggu masa kuliah berlangsung. Kepada mereka bertiga, banyak sudah mahasiswa penggila cewek yang mengajukan proposal cinta untuk mengikuti seleksi. Tapi mereka bertiga dengan teramat sangat membusungkan dada dan melengos menampik semua proposal yang masuk. Soal Masayu, sudah tahu. Karena sudah ada Dodi. Mana mungkin selingkuh. Untuk Dita dan Devrie? Bagaimana dengan mereka berdua? Apa tak ingin punya pacar di kampus? Jauh-jauh datang dari dusun sana, mengubah segala macam pola hidup dan penampilan, bergaya, jadi urban, apa tidak ingin punya pacar dan hidup fun di kota?


Masayu tengah duduk di bangku yang ada di depan kelasnya. Tak ada lagi mata kuliah.


“Nah itu dia,” ucap Masayu.


“Ayo, Sayang, aku antar,” ajak Dodi. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.


“Aku hari ini mau ngumpul sama kawan aku. Kau pulang duluan saja, Dod.”

__ADS_1


Gedung-gedung kampus yang berdindingkan keramik putih jadi tampak berkilat-kilat karena ditimpa oleh sinar mentari siang yang terik. Deruman kendaraan mengisi jalan di sekitar kampus yang mulai padat karena banyak mahasiswa yang berjalan ingin pulang.


Kos Dita dan Devrie tak jauh dari kampus. Di sana memang banyak kos-kosan. Rumah padat penduduk tersusun rapi di sana.


Pintu kos terbuka dan ketiga gadis masuk.


“Lemak, dak, kalau ngekos?”


“Kan belum sebulan, Yu, jadi belum terasa nian. Nantilah kalau sudah lama baru bisa dirasai lemak atau idak. Tapi, kalau untuk sekarang ini, ya nyaman-nyaman saja.”


Beberapa saat mereka berbincang soal kuliah tadi pagi. Lalu pembahasan beralih ke hal lain.


“Jadi kau ni Wong Palembang nian, Yu. Lemak yeh tinggal di kota?”


“Emmm… begitulah. Soalnya aku dak pernah tinggal di luar Palembang. Pergi ke dusun. Atau ke luar kota. Jadi aku dak tahu betul, Dit.”


“Oh. Nanti ajak kami jalan-jalan mutar-mutar Palembang yeh? He-he-he. Mau hunting. Hang out. Nongkrong.”


Masayu tersenyum. “Siplah.”


Pantas saja kedua gadis itu tak berani merespons cowok-cowok dikampus yang sedang getol ingin PDKT. Rupanya mereka takut kalau ada apa-apa sebab mereka belum paham cara hidup di tempat orang.


“Oh ya, tadi itu pacar kau, Yu?”


Masayu manggut.


“Wong Palembang?”


“Bukan. Dari Muara Enim.”


Dita menyenggol badan Devrieya.


“Kami dari Muara Enim.”


Kemudian Dita menanyakan segala sesuatu tentang Dodi, mulai dari rumahnya di mana, asal sekolahnya, ciri-ciri orangnya seperti apa, sampai sekarang indekos di mana. Percakapan mereka terus bergulir tiada berhenti. Mulut gadis memang begitu. Bawelnya minta ampun. Apalagi kalau topik yang dibahas amat relevan dengan pengetahuannya. Ditambah bahas masalah cowok. Sampai dapat satu kesimpulan bahwa Dita dan Devrie sedikit tahu tentang Dodi walaupun tidak kenal dekat.

__ADS_1


“Bapaknya kaya.”


“Katanya sih playboy,” timpal Devrieya.


__ADS_2