Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
15. Jakabaring


__ADS_3

Vespa Vio melewati bundaran, lalu berbelok ke kiri dan tiba di gerbang Stadion Gelora Sriwijaya, markas besar Laskar Wong Kito. Vio merogoh koceknya dan mengeluarkan duit lima ribu rupiah, lalu diberikannya kepada petugas di dekat gerbang.Kemegahan Jakabaring Sport City mulai tampak. Banyaknya pepohonan di sekitaran kompleks membuat udara di sini amatlah sejuk. Tidak hanya muda-mudi yang hobi jalan-jalan ke Jakabaring, ada juga keluarga yang tak segan menghabiskan waktunya di sini untuk menghilangkan segala penat serta mencari hiburan. Mereka membentang tikar, mengeluarkan bekal, menyeruput teh hangat, sembari melihat mentari terbenam.


Vespa Vio berhenti tepat di depan gedung olahraga Lapangan Tembak. Tepat di depannya terhampar danau buatan. Bergelombang-gelombang kecil airnya. Serupa kaca danau itu. Terlihat pantulan berkas cahaya mentari senja. Dedaunan di pinggiran danau bergoyang-goyang dilamun angin, bermegal-megol laksana bergoyang dangdut. Di atasnya, mega yang mulai lembayung terpencar-pencar.Vio dan Dita duduk di pinggiran danau. Pantat Vio yang tepos dan pantat Dita yang berisi telah membuat rerumputan tergencet.


“Tengoklah, seperti kerja kelompok saja,” seru Vio, matanya belingsatan.


Dita melihat ada dua orang, cewek dan cowok lagi asyik berdua di arah jam tiga. Terus, berderet-deret seperti toko-toko di Jalan Sudirman. Di arah jam sembilan juga begitu. Ada sepasang kekasih yang lagi asyik bercakap, terus lagi, ada lagi orang berdua-duaan, terus bergeser lagi, ada lagi.


Dita nyengir.


“Bagaimana bisa pemikiran bujang dan gadis di Palembang ini bisa sama? Pergi ke Jakabaring. Duduk nongkrong.”


“Mana acaranya?”


“Ya itu, acara pacar-pacaran, Dit. Kita diundang di acara ini, tenang saja!”


“Pacaran?!”


“Jelas.”


Dita melengos. “Minum obat cacing dulu!”


“Nanti aku akan minum. Tenang saja.”


“Minum obat gemuk juga!”


“Sadis nian omongan kau, Dit.”


“Mana mungkinlah aku pacaran dengan cungkring.”


“Kalau aku gemuk, kau mau jadi pacar aku?”


Dita terdiam.


“Mau, dak?”


“Eeee… eee. Bagaimana yeh?”


“Nanti aku akan berusaha untuk gemuk, Dit. Janji.”


Dita mengembuskan napas. “Kalau kau sudah dak kerempeng, aku mau jadi pacar kau, Vio. Tapi….”


“Tapi apa?”

__ADS_1


“Sudahlah. Pokoknya kau harus gemuk dulu. Malulah aku punya pacar yang badannya seperti bambu runcing.”


Dalam hati, Vio berjanji bakal melakukan apa pun untuk merenggut hati Dita.


“Nian, mau jadi pacar aku kalau aku sudah gemuk?”


“Iyaaaaa… Viooo!”


Untuk mendapatkan sesuatu yang diingin-inginkan kadang banyak cara untuk menuainya meski itu terkadang terasa ganjil. Kondisi fisik merupakan satu hal penting untuk meningkatkan kepercayaan diri, rupanya. Siapa pun orang di dunia ini, demi mendulang sesuatu yang diimpikan, bukankah harus bersusah payah terlebih dahulu?


“Kenapa kau dak kuliah?”


“Duit dari mana aku bisa kuliah? Nanti kau akan kuajak ke rumah aku. Akan aku kenalkan sama emakku.”


Dengan cepat Dita menoleh . “Idak ah, kita kan baru kenal. Nanti keluarga kau mikir yang idak-idak lagi.”


“Mikir apa, Dit?”


“Ya pokoknya dak enak sajalah.”


“Jangan dimakanlah kalau dak enak. Kasih kucing saja.”


“Memangnya makanan?” Hampir satu jam. Hanya beradu hawa napas. Tidak makan dan minum. Dita mulai menampakkan gejala-gejala yang membuat kantong Vio merasa tertekan. Dia mengusap-usap leher dekat tenggorokannya. Vio tahu bahwa Dita merasa haus. Tapi vio bersikap apatis karena tidak punya duit sepeser pun, jadi harus bagaimana lagi? Lagi, Dita menempelkan tangannya ke leher bagian depan.


Vio berpura-pura tolol.


Dita mengambil uang dua puluh ribu di saku celananya dan memberikannya pada bujang buntu itu. “Beli minum!”


“Oh.” Lagi-lagi Vio berakting. “Kemarau?”


“Cepat sana!” Dita seperti mengusir anjing.


Vio kembali dengan membawa dua botol minuman ringan, seringan pikirannya, seringan dompetnya, seringan apa pun hingga dia terasa terbang, dengan membawa senyum mengembang. Pantatnya yang tepos mendarat di atas rumput yang tadi sudah tergencet. Obrolan mereka terus berlangsung sampai matahari semakin menukik ke barat. Senja pun berganti malam. Vio tak mau bertindak konyol dengan cumbuan murahan, berciuman, berpelukan, serupa halnya dengan apa yang dilakukan orang-orang kebanyakan. Bukan tidak mau, tapi statusnya sekarang ini masih tahap PDKT. Alangkah lancang dia mau merusak sistem perpacaran di Indonesia dan mengikuti kurikulum percintaan ala Barat. Cukup ngobrol, ketawa-ketawa, senang, nyaman, sudah. Cukuplah itu untuk menghibur hatinya.


Otak dari bujang tengil itu memendam sebuah misi jelek untuk menjelek-jelekkan orang dari belakang. Memang jahil. Melayu nian pokoknya. Dari jarak yang lumayan agak jauh, yang pastinya suara mereka berdua tidak didengar oleh orang yang sedang bercumbu mesra itu, mereka menyoroti setiap apa pun yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang sedang berangkulan itu. Vio melihat tangan dari si cowok melilit badan si cewek. Mesra nian, pikir Vio.


“Kakak nak Adek tula.” Omongan yang biasa digunakan oleh bujang Palembang itu maksudnya—pokoknya Kakak maunya Adik saja. “Adik sayang, dak, dengan Kakak?” Vio memuntahkan suara yang dibuat-buat. Bibirnya maju-maju supaya suaranya sedemikian lucu. Bukannya cuek, Dita justru satu pemikiran dengan Vio. Rupanya mereka berdua sudah kompak. Nota kesepahaman telah tertulis di atas kertas bermaterai ternyata.


“Ya sayanglah, Kak. Adik cinta mati sama Kakak.” Suara yang dikeluarkan Dita seperti bonek Susan. Lucu-lucu menggemaskan.


“Nian apa, Dik?” balas Vio, suaranya kali ini mirip dakocan tertumbur mobil.


“Nian, Kakak.”

__ADS_1


“Katanya cinta mati. Mau mati untuk Kakak?!”


“Mau dong, Kak. Asal Kakak mau juga mati untuk Adik.”


“Apa pun bakal Kakak lakui untuk Adinda tersayang. Sekarang kalau Adinda bersedia, Kakanda bakal nyebur di danau ini, nianlah.”


“Nian, Kakanda?” Dita mendesah-desah seperti kuntilanak tertabrak kereta api.


“Nian, Adinda.Kan Kakanda belum mandi.”


Vio melihat kepala cewek sedang bersandar di bahu si cowok. Dikeluarkannya suara seperti suara seorang pria sejati, yang serak, dan pas di tenggorokannya ada sentuhan bass organ tunggal.


“Dinda, cium dong.”


“Kakanda nakal,” desis Dita malu-malu kucing, padahal mau-mau anjing.


“Sudah satu abad tidak ciuman. Pingin, pingin, pingin, pingin, Dinda.”


“Busuk! Tidak mau! Gosok gigi dulu makanya. Tuh, ada bangkai tikus nyangkut di gigi depan Kakanda.”


“Plis, Dinda.”


“Mulut, apa tong sampah sih?”


“Cium, Dinda, cium.”


“Kakanda nih, sudah sebulan dak pernah gosok gigi.”


“Baru sebulan. Biasanya setahun, Dinda.”


Vio memperbaiki posisi duduknya. Mulai sok romantis. “Dinda tahu, dak, kalau Dinda nih sama seperti bulan?”


“Gombal. Memangnya kenapa, Kanda?”


“Kar….”


“Wajah Dinda bolong-bolong yeh? Mentang-mentang banyak bekas jerawat, disangka mirip bulan. Jahat nian yeh Kakanda nih!”


“Bukan Dinda, bukan. Tapi, Dinda tuh sudah menerangi relung hati Kakanda yang gelap, sehingga teraaaaaaaaaaa….” Mulut Vio terbuka lebar. “…aaaang, nian. Terang niaaaaan, Din.”


“Gombal!”


“Dinda, ciiiuuuuuummmm.” Mulut Vio tambah monyong.

__ADS_1


__ADS_2