
Otak Vio terisi file-file humor. Selain merupakan sosok yang paling aneh di antara mereka, juga merupakan jenis manusia yang paling menghibur. Vio laksana dosen bersenang-senang yang sering memberikan kuliah bertemakan humor. Dia sering membuka forum-forum komedi untuk membuat suasana tidak kering, membosankan, dan monoton. Vio mengerti prosedur untuk membuat orang lain bisa ngakak. Setidaknya orang lain itu bakal nyengir. Dia paham bagaimana menjalankan birokrasi dalam bersenda gurau dan mengerti bagaimana cara menginterpretasikan sebuah ide yang konyol menjadi sebuah inspirasi unik bagi orang lain. Dia serupa pahlawan tanpa jasa dalam soal bagaimana bisa membuat orang lain merasa terhibur. Alisnya yang tak beraturan, pipinya yang kempot, rahangnya yang tak sedap pandang, dan bibirnya yang agak tebal itu merupakan satu kesatuan yang utuh yang menunjukkan bahwa dia sosok pribadi yang ganjil sekaligus absurd. Sambil menyandarkan badannya di tumpukkan kardus, dia mulai mengumbar pengalaman pribadinya.
“Dulu, waktu masih SD, cerita ini belum pernah aku ceritai pada siapa pun. Sebab ini adalah cerita seru. Sekaligus aib yang paling menyedihkan.” Wajahnya mulai aneh. Dia bak alien yang sedang tersasar. Sementara Rama dan Kiagus mulai memperbaiki posisi duduknya.
“Aku nangis pas pulang dari sekolah dan emakku terkejut nian. Lantas nanyai ngapa aku nangis. Lalu aku jawab kalau aku tadi di sekolah dilempari bunga oleh cewek.”
Barulah Rama angkat lidah, tapi Vio memotong, “Aku tambah makin nangis saja. Aku omongi pada emakku kalau cewek itu melempari bunga sekaligus pot bunganya juga.”
Vio mengaku pernah bertemu dengan seorang pengemis yang meminta sedekah. Waktu itu Vio masih SMA dan di saku celananya ada uang seratus ribu rupiah. Dia bermaksud ingin bersedekah kepada perempuan itu sebanyak dua puluh ribu. Berkatalah Vio kepada pengemis yang tengah menggendong bayi itu, “Nanti kembaliannya delapan puluh ribu, ya, Bi?”
Ada-ada saja, memberi sedekah tapi minta kembalian.
Lantas, lanjut Vio, setelah beberapa saat si pengemis kembali lagi padanya.
__ADS_1
“Kok sembilan puluh ribu, Bi, kembaliannya?”
“Anggap saja sepuluh ribu aku sedekah padamu, Nak.”
Meledaklah tawa.
Waktu itu Vio lagi masih remaja sekali. Pas dia masih kelas dua SMP. Alkisah, dia naik angkot jurusan Ampera-Plaju yang berwarna merah pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Waktu itu ongkos untuk pelajar dikisarkan sekitar Rp300. Vio duduk di belakang tepat berada di dekat kenek. Di perjalanan, kenek menagih ongkos pada remaja tanggung itu. Dan Vio, yang di kantong celananya ada banyak duit sebab dia banyak meraih untung jualan di pasar, menyodorkan pada kenek duit lima ribu selembar, tunai. Kontan sang kenek terperanjat, “Dik, ini masih pagi!”Vio kecil takut melihat si kenek kesetanan. Seolah lelaki itu sedang memegang garpu raksasa pemberian dari iblis jahat. Dengan cepat Vio merogoh koceknya lagi dan menambah lima ribu lagi, jadi sepuluh ribu, untuk ongkos pergi ke sekolah dari Jalan Merdeka ke Jalan A. Yani yang paling tidak jaraknya dua kilometer, tuntas. Kenek tambah terkejut saja. “Woi, Dik, kau ni ngerti dak sih?! Ini nih masih pagi!” sergahnya sambil memberengut.
Vio tambah ngeri melihat awan amarah yang menggelayut di wajah kenek. Dia keringat dingin setelah dibentak oleh kenek yang berkulit hitam itu. Tambah bingung saja Vio. Tak tahu dia harus berbuat apa lagi. Dan karena terus tertekan, ditambah dia merasa si kenek terus berusaha memaksanya memberikan ongkos yang lebih besar, akhirnya seluruh duit di saku celananya, yang sebenarnya semua duit itu adalah jatah ongkos dan uang makan selama satu bulan untuk keperluan sekolahnya. Dua puluh ribu lagi! Si kenek terperangah memegang uang tiga puluh ribu yang diberikan oleh remaja tolol itu. Dan ketika Vio turun dari dari angkot, dia berlari dengan sekencang-kencangnnya. Sementara si kenek angkot ternganga mulutnya serupa ikan mas koki.
Kembali flashback ke masa SMP-nya. Tepatnya ketika Vio masih kelas satu. Dia pernah salah naik bus kota, seharusnya dia naik bus kota jurusan Plaju yang arahnya ke kiri pas tiba di lampu merah. Eh, justru dia naik bus kota jurusan Kertapati yang arahnya ke kanan. Dengan terpaksa dia turun, lalu berjalan kaki menuju simpang empat Jakabaring dan menunggu-nunggu bus kota jurusan Plaju. Masih cerita dalam perjalanan, dia berkisah pada Rama dan Kiagus bahwa dia pernah diterjang dari bus kota karena tidak punya ongkos, terpaksalah dia merengek-rengek di hadapan kenek yang berjiwa antagonis itu agar tak dilengserkan dari bus kota.Vio mengaku pernah membeli satu pempek, tapi kuah cuko-nya satu mangkok penuh, sebab cuko itu untuk persediaan di rumah pas dia mau bikin pempek sendiri.
“Vi, kau ingat dak dengan cerita kita dulu, pas kita dikejar-kejar anjing di Kampung Kapitan?” tanya Rama tersenyum-senyum.
__ADS_1
Tersentak, ingatan Vio berkejar-kejaran menuju masa lalunya beberapa tahun silam.
Ceritanya, waktu itu mereka habis memancing di pinggiran Sungai Musi, tepatnya di Kampung Kapitan, 7 Ulu. Karena bosan, mereka menjahili anjing yang tengah rehat di depan sebuah rumah besar peninggalan orang-orang Cina.
“Gug! Gug!” gonggong Vio.
Binatang yang memang sudah bosan dengan hidupnya sendiri itu lantas berang. Matanya melotot-lotot memandang tiga orang yang sedang mengoloknya. Si anjing ganas marah besar karena kredibilitasnya sebagai spesies binatang seram dan wibawanya sebagai pemegang kuasa daerah itu telah diinjak-injak. Lantas anjing yang bau tanah itu mengejar mereka bertiga.
Vio, yang menjadi biang keladi kejadian itu, mengambil start duluan untuk melarikan diri. Sementara Rama dan Kiagus mulai memijakkan satu kaki untuk tumpuan menyimpan energi, lalu telapak kakinya yang lain berayun gesit. Melesat kabur. Mereka bertiga pontang-ponting.
“Gug! Gug! Gug!” teriak si anjing rabies sambil berlari mengejar tiga penjahat amoral itu. Lidahnya menjulur-julur dan liurnya terkucur-kucur. Mentang-mentang dia tidak berperan aktif dalam pelaksanaan sila ke-2, bukan berarti binatang boleh diintimidasi dan dicabik-cabik harga dirinya, oleh karena itu darah menjalar ke mukanya. Ketiga bujang itu sungguh tidak punya rasa prikebinatangan.
Rama, Vio, dan Kiagus berlari kencang dan tak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Arah utara merupakan pelarian positif, dan setelah berlari tepat di bawah Jembatan Ampera, mereka berlari terbirit-birit menuju 10 Ulu, terus sampai Kampung Arab di 13 Ulu. Mereka menoleh ke belakang. Bau-bau dari binatang itu sepertinya sudah tidak ada lagi. Mereka aman.
__ADS_1
“Gara-gara kau, Jok, kita hampir kena gigitan anjing kurapan itu.”