
“Harusnya kemarin kita nge-band,” seru Vio merengut.
“Memang,” timpal Kiagus.
“Ingat, Jok, jangan sampai gara-gara cewek urusan band kita jadi hancur. Yang kemarin itu jadikan pelajaran sajalah,” tambah Rama.
Pagi ini mereka menuju ke studio rental band. Sekarang adalah awal dari misi besar mereka untuk membangun sebuah band lagi. Di dinding-dinding ada gambar alat-alat musik dan tampak ada seseorang yang tengah memainkan gitar. Agaknya dia merupakan sosok yang memacu semangat bagi orang yang masuk ke sini.
Vio tak sabar, dengan tak gentar semangat berkobar di menyambar bass yang sedang terkapar. “Akhirnya! Akhirnya! Aku bisa nyentuh benda ajaib ini lagi!” jeritnya. Dengan semangat Vio agak membesarkan volume suara bass di sound system. Biar nanti suaranya pecah membahana.
Kiagus mengambil posisi yang mantap untuk menunaikan tugasnya. Beberapa saat dia memain-mainkan stik drumnya, memelantingkannya ke atas laksana seorang pemain sirkus yang sedang beratraksi di depan khalayak.Sementara Rama mulai memijak tombol-tombol untuk efek dari suara gitarmya.Rama menghidupkan tombol on pada mic.
“Cek… cek… satu dua tiga… cek.”
JREENGG… JREENGG!!!
Vio mulai check sound. DEM… DEM… DEM DEM… DEM.
“S.I.D. Bukan Pahlawan!” cetus Vio.
Rama tersenyum lebar, lebar nian. “OKE!”
Lagu pertama tuntas. Namun Rama mengeluh, “Gus, kau kurang menjiwai main drumnya.Terus kau, Vi, jangan ragu-ragu pas pindah kunci. Keraguan kau itu bakal mengganggu konsentrasi yang lain.”
“Oke, oke, Bos,” teriak Vio. “Sekarang coba lagu Menginjak Neraka!”
Lagu itu, pikir Rama, bukan main punk-nya!
***
Mereka memulai aktivitasnya seperti biasa sehabis latihan. Kiagus menuju Pasar 16 Ilir. Sambil duduk Kiagus merogoh kantung celananya dan mengambil HP Nokia-nya. Seharusnya benda yang sudah tak mutakhir ini tak pantas dipakai lagi.
__ADS_1
Lagi apa, Devrieya? Kuliah ya?
Kalimat yang tadinya dipikirkannya kini tertuang di dalam pesan singkat. Dan Kiagus sudah bisa menebak, sibuk atau tidaknya Devrieya, dia pasti menunggu lama. Tepat lima belas menit berselang, bergetarlah HP-nya.
“Ya.”
Singkat, padat, jelas, dan lugas balasan dari Devrieya. Kiagus menanyakan pada Devrieya sekarang ini sedang belajar apa. Dua puluh menit kemudian terasa ada gempa kecil di kantung celananya.
TIT TIT… TIT TIT!!!
“Belajar Bahasa Indonesia.”
Kiagus menggaruk jidat. Kemudian dia menanyakan bahwa pelajaran itu enak atau tidak. Setengah jam kemudian HP di kantongnya kembali berontak. Kesunyian selama itu pupus tatkala ada balasan.
“Enak.”
Tak terhitung sudah berapa jumlah tanda tanya yang sudah dikorbankannya. Seperti halnya Kiagus yang sudah beralih profesi sebagai wartawan, Vio juga telah beralih profesi, yaitu sebagai tukang ojeknya Dita. Bunyi si Karbon berhenti ketika sudah sampai tak jauh dari gerbang kampus. Untuk hari ini Vio memasang setelan yang mirip anak kuliahan; berkemeja, bercelana jins, dan memakai tas selempang kecil. Dita menghampirinya—dia membonceng Dita sampai ke kosan—ngobrol-ngobrol sebentar—pulang. Itulah aktivitasnya, sedikit lebih beruntung daripada Kiagus.
Bagaimana dengan Rama? Khayalannya berubah-ubah setiap harinya. Seperti halnya sinetron yang banyak episode. Tidak hanya piawai mengatur skenario, dia juga paham bagaimana membuat setiap cerita khayalannya jadi tampak unik dan menarik; membuat latar dan suasana dalam adegan yang tidak itu-itu saja; cerita yang direkanya amat menghibur dirinya sendiri, sehingga dia seolah menonton bioskop dalam kepalanya sendiri dari hasil karya otak kanannya sendiri.
Di sana dia dinner dan lagi-lagi sempat-sempatnya menggambarkan ada suara alunan lagu yang mengisi ruangan restoran, lagu Lady Rose. Padahal dia tidak pernah sekalipun seumur hidup—di dunia nyata tentunya—makan di restoran. Rama bermaksud untuk mengabadikan momen ketika sedang berdua bersama Masayu, yaitu mengajak foto berdua. Wajah mereka berdua lekat sekali. Hingga layar HP pas untuk mereka saja, selfie. Saking hebatnya Rama dalam merangkai cerita fiktif, dia tidak pernah meng-cut setiap adegan yang dibuatnya. Jiwa sutradara diam-diam dimilikinya rupanya.
Diam-diam Rama mulai nakal. Karena dia membuat adegan tak ada siapa-siapa di restoran kecuali mereka berdua saja, otomatis dia mempunyai peluang emas untuk bertindak sesuatu dan memuaskan hasratnya. Dia melihat sekeliling. Padahal memang tak ada orang yang lihat. Sesaat dia menahan napas yang terasa berat. Jantungnya berdegup kencang. Rama mengawasi bibir Masayu yang merah, basah pula, mengulum-ngulum lagi, seksi sekali, enak sekali kalau dikulum-kulum. Rama mendekatkan wajahnya ke wajah Masayu dan matanya terus tertancap pada bibir Masayu yang basah mengulum-ngulum menggoda-goda dengan limpahan ruah jutaan gejolak nafsu yang amat-teramat menggairahkan. Tangannya merangkul leher Masayu. Tangannya mengelus-elus leher Masayu... dan bibirnya makin dekat, dan… dan… dan….
Tak urung lagi, bertabrakanlah.
Kalau saja dia tidak berhenti berkhayal, entah sampai mana adegan-adegan seru yang dilarang Kementerian Agama ini terus dirangkainya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Rama memicing-micingkan matanya sambil tersenyum-senyum sendiri. Bangun dari khayalannya. Meskipun cuma sebatas khayalan, itu semua sudah melahirkan sebuah chemistry darinya terhadap Masayu.
Apa yang dilakukan Rama, Vio, dan Kiagus terus berlangsung hingga satu pekan dan berlangsung secara monoton.
***
__ADS_1
Deru angin senja menyambut Dita tatkala pintu sudah dibukanya. Diawasinya Vio yang sedang duduk berlagak sok keren di atas jok si Karbon.
“Ke Jakabaring?”
“Yes, Dit. Sore-sore di Minggu ini banyak orang yang nongkrong di sana. Kau pasti senang pas di sana.”
“Terserah kau saja, Vi. Asal kau jangan culik aku.”
“Idak bakal aku culik, cuma aku masukkan ke dalam bui asmara cintaku ini, nianlah.”
“Gombal!”
“Untung tidak gembel.”
Dita melihat langit. “Tapi ini baru jam tiga. Masih panas nian nah.”
“Jangan sampai kita telat di acara sore ini.”
“Memang ada acara apa di sana?”
“Kaulihat saja nanti, Dit. Ayo pergi!”
TROTOT TOT TOTOT TOT!!!
Keinginan Vio untuk jalan berdua dengan Dita akhirnya kesampaian juga. Walau tak bawa duit lebih, dia sudah tahu bahwa nanti mereka berdua hanya nongkrong dan berbincang sambil melihat pemandangan-pemandangan di Jakabaring. Tak lebih. Tidak bakal ada makan-makan. Tidak bakal ada pesta-pesta.
Jalan A. Yani mereka terabas. Lurus tanpa jeda hingga akhirnya bertemu dengan perempatan. Pas di Fly OverSimpang Jakabaring, lalu belok kiri. Di sana ada Masjid Al-Fathul Akbar. Setelah melewati kantor DPRD Kota Palembang, mereka melewati kantor tempat orang-orang yang membela kebenaran atas nama hukum serta memberantas tindakan kriminal, alias Mapolresta Palembang. Lurus lagi, terus lagi, sampai. Belum masuk kompleks olahraga terbaik di Tanah Air, mereka sudah melihat banyak orang-orang hilir-mudik dengan sepeda motornya. Ada yang lagi nongkrong di jembatan.
BRUM! BRUM! BRUM!
“Aku dak tahu orang-orang di sini siapa yang mengundang.” Omongan Vio tertelan oleh udara yang menerpa-nerpa. Nyaris tak terdengar oleh Dita yang lagi mengerling-ngerling di sekitar jalan. Di kiri-kanan adalah tanah luas terbentang yang hijau dan ada beberapa gedung yang menjulang.
__ADS_1
“Ramai nian di Jakabaring,” kata Dita.
***