Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
17. Puisi tema saintifik


__ADS_3

Dan matahari itu pun terbit. Rama bangun pagi-pagi. Dibukanya jendela kamarnya. Maka menyelusuplah seberkas cahaya dari semburat matahari pagi. Di ruang tengah, Raden Muhammad sedang menyeruput kopi hitam. Beliau sedikit terkejut melihat anak bujangnya bangun lebih pagi. Ditengoknya Rama tengah berjalan ngebut dengan membawa handuk. Terheran-heran beliau menyaksikan ada yang beda dari Rama.Setelah mandi, dengan rambut masih basah, Rama kembali masuk ke kamarnya. Bapaknya yang sebentar lagi pergi membuka toko tiba-tiba berbicara padanya.


“Tumben kau, Nak, bangun pagi-pagi.”


Tatapan Rama ke arah dinding kayu, mencari jawaban yang pas untuk berkilah. Jangan sampai bosnya tahu kalau dia ingin bertemu dengan Masayu.


“Anuuu, Pak, anuuu.”


“Anu apa, Raden?”


“Nak ketemu sama kawan.”


“Kemas? Kiagus?” Sebab setahu beliau hanya dua orang itulah kawan akrab Rama yang sering main ke rumah.


“Bukan, Pak, tapi kawan yang lain.”


Setelah mengiyakan, Rama masuk ke kamarnya, lalu berpakaian rapi, ala anak kampus tentunya. Kemeja hitam, gelang,celana hitam nan ketat yang lingkaran ujung celananya berukuran lima belas, dan sepatu kets, menjadi setelannya hari ini.


“Ke pasar? Usahlah kau buka nama, Raden, ini sudah September.”


“Bukan ke pasar, Pak, tapi ke kampus kawan, di Plaju.”


Jupiter MX hitamnya berhenti sesampai di depan toko bapaknya. Sahutan Pak Joko disambut senyum dan sapa oleh Raden Muhammad ketika baru turun dari motor. Kawannya sesama pembuat nomor plat kendaraan dan stempel itu juga baru sampai di toko. Rama meninggalkan bapaknya. Tak terasa Rama sudah masuk ke lorong jalan menuju kampusnya Masayu. Di dekat gerbang Rama bertanya kepada satpam. “Di mana Gedung A, Pak?” Lalu petugas keamanan kampus menunjuk gedung yang paling awal, tak jauh dari gerbang, masuk sedikit ke parkiran, itulah gedungnya. Melihat ada tempat parkir yang kosong, dia menyisipkan motornya di tengah parkiran yang mulai ramai.Rama menebar pandangan ke sekitaran. Dilihatnya sosok gadis yang lagi duduk sendirian di bangku yang ada di depan salah satu kelas.


Mana Rama? Kok dia belum datang juga sih? Hm, padahal kan dia sudah janji mau ke kampus aku. Hm, padahal kan dia sudah janji mau buat puisi untuk aku. Aku dak bisa buat puisi bertema saintifik. Dasar! Kami ini kan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra, bukan MIPA. Bagaimana kalau Rama dak nepati janjinya? Mati aku! Hm, Rama, kau lagi di mana sekarang?


Oh, matanya yang jernih. Oh, alisnya yang tebal dan melengkung. Oh, hidungnya yang mancung untuk standar hidung orang Nusantara. Oh, sungguh memesona. Namun tak hanya itu, Rama terpana oleh rambut hitam berkilau yang terjulur dan poninya yang terbentang telah menantang mata Rama untuk terus memandang dan memandang. Oh, tak tahu Rama berapa banyak “oh” lagi yang ada. Oh, Rama menaikkan lehernya seperti jerapah karena ada perempuan bertubuh penuh yang menghalangi pandanganya. Oh, bukan main oh-nya. Oh, seperti Elfin Pertiwi Rappa, seorang gadis Palembang yang menjadi Runner-up Puteri Indonesia 2014. Oh, miripnya. Melayu nian pokoknya.


Pikir Rama, kakinya saja putih bersih, apalagi wajahnya. Ada seorang pengamat percintaan bilang, cowok mesti lihat cewek dari kakinya dulu, baru wajahnya, sebab kalau kakinya saja sudah bagus, apalagi wajahnya. Sebabnya sekarang banyak orang yang mempermak wajahnya sedemikian rupa, sehingga kadang wajahnya putih banget, sedangkan lehernya cokelat, apalagi kakinya, kadang ada kuraplah, kadaslah, kutu airlah, goresan lukalah, boroklah. Banyak lagilah pokoknya.


Nah, dari gelang berwarna ungu itu juga. Huh, bukan main. Rama menyeberang jalanan kampus dan terus mendekati Masayu. Merek sepatunya sama. Bukan main. Badannya singset. Bukan main. Badannya tinggi bak teller bank. Bukan main. Duduknya tegap bak seorang Polwan. Bukan main. Tatapannya menandakan bahwa dia gadis yang cerdas lagi berintelegensi. Bukan main. Dan, ah, Masayu memperbaiki tata letak poninya. Benar-benar bukan mainlah pokoknya.


Di luar dugaan, Masayu lebih indah dari seribu khayalan.


“Ayu...,” sapa Rama setelah melewati parit. Nyaris kakinya tercebur karena matanya tak sedikit pun berkedip. Dia tidak mau meninggalkan momen yang paling mengesankan ini.


Dan Masayu, pembicaraan dengan dirinya terputus karena Rama sudah ada di depan matanya. Oh, dagunya yang teguh dan rahangnya yang bagus beraturan. Oh, alisnya yangmelengkung. Oh, hidungnya yang mancung untuk kelas hidung orang Melayu. Oh, bibirnya yang tipis, bertanda bahwa bujang satu ini tak banyak cincong. Oh, pipinya yang mulus. Oh, cara berdirinya, lumayan tegap, agak bungkuk sedikit, menandakan dia orang yang konsisten tapi kadang-kadang labil. Oh, matanya… matanya… matanya! Biji matanya yang cokelat. Apakah bawaan lahir, ataukah karena sering tertembak sinar ultraviolet yang bedengkang di Pasar 16? Oh, apalagi badannya yang agak sedikit atletis, mengindikasikan bahwa bujang satu ini tak malas bekerja, padahal sekarang menganggur.

__ADS_1


Masayu jengkel. Celana yang dipakai Rama ada koyak. Dengkulnya yang putih dan bulunya yang aduhai jadi nongol. Rama mendaratkan pantatnya ke kursi. Otomatis dengkulnya makin menyembul karena tarikan dari sisi celana yang lain. Parfum yang lekat dan identik dengan Menara Eiffel masuk ke dalam lubang hidung Rama. Dengan senang hati dia mengendus aroma yang menyentuh itu.


“Belum masuk?” tanya Rama.


“Bentar lagi.”


“Sendirian? Mana Dita dan Devrie?”


“Dak tahu. Mungkin mereka sudah di kelas.”


Rama membuka tasnya. Resleting tasnya susah dibuka sebab itu adalah tas yang pernah dikenakannya semasa SMA. Agak rusak sedikit. Dia mengambil selembar kertas dan memberikannya kepada Masayu.


Masayu membaca tulisannya sekilas, lalu tersenyum. “Kau punya bakat juga rupanya. Hebat nian.”


“Aih. Biasa sajalah, Yu. Lagi pula itu puisinya jelek.”


“Berapa lama buatnya?”


“Semenit.”


Masayu berdecak kagum. “Terima kasih, Ram. Kapan-kapan kita belajar bareng yeh?”


“Aku ke kelas dulu ya, Ram. Mau belajar dulu nah.Daaa….” Masayu melambaikan tangannya.


***


Sebelum perlombaan dimulai, Masayu membaca puisi karya Rama yang berjudul Gelembung Cinta.


Mana sisi saintifiknya? Ah, judul kan kadang-kadang menyimpang dari isi yang terkandung, apalagi makna yang tersirat.


Tertuanglah texapon, berlendir-lendir dan lengket


Serupa hidup, kalau diremas, kadang jijik


Tapi nikmatnya sejagat bila teresapi


Tertumpahlah air tanpa mineral

__ADS_1


Bak serupa hidup tanpa cinta


Sengsara rasanya bila hati kosong dan hampa


Terlungsurlah garam


Serupa asmara, meski dikit


Mau tak mau mesti ada


Hidup dan cinta terkocok-kocok


Berbuih, jadi pasta


Kenyal dan licin


Ditambahi gliserin, ABS, dan NaOH


Bak keluarga, sahabat, dan sekitar


Saling melengkapi dan mengisi


Menyatulah semua


Teraduk-aduk menjadi satu


Makin berbuih, makin berbusa, makin terasa


Dibubuhi pewarna dan pewangi


Laksana hidup yang penuh warna-warni


Serupa cinta yang semerbak menghunjam sanubari


Menunggu, menanti


Hingga jadilah gelembung cinta

__ADS_1


Tak kentara indahnya, tak terperi eloknya.


__ADS_2