
“Lagi jaya. Mentang sudah terkenal,” celetuk Dita.
“Ini kan berkat doa dan dukungan kamu semua. Tanpa kamu-kamu, kami dak bakal seperti ini,” balas Vio.
“Mentang juga sudah gemuk.”
“Kurus salah, gemuk salah. Jadi aku harus bagaimana, Dit? Aih.”
“Jangan terlalu kurus, jangan terlalu gemuk. Jadi kau makan ala kadarnya saja. Standar makan untuk anak SMP. Jangan makan ala sumo.”
“Sudah dapat gawaian, Jok?” tanya Rama.
“Masih seperti kemarin. Ada pastinya gawaian. Di rumah makan,” jawab Vio.
Rama terkejut. “Kau dak pernah cerita.”
Kiagus ikut berkomentar, “Hebat nian kerja di rumah makan. Tambah gemuk kau, Jok!”
“Ya di rumah… makan. Bosan makan, ya tidur, kadang nonton TV, dengar musik. Banyaklah pokoknya.”
Motor matic berwarna pink berhenti di depan pagar kos.
“Hai,” sapa Masayu. “Sorry terlambat.”
“No masalah! Sori nian. Karena lidah aku ni ada kebarat-baratan, jadi ya begitulah. Aku pernah dua tahun di Inggris,” seru Vio.
“Nguli?” sergah Rama.
“Bukan.”
“Jadi tukang sampah?”
“No.”
“Jadi Wawi?”
“Di sana katek tempat buka nama seperti di Pasar Enam Belas, Buyan*.”
“Jadi?”
“Nyari gadis elok serupa Dita. Nyesel nian aku nyari-nyari sampai jauh di sana, rupanya dia ada di Palembang.”
Rama mengendus aroma parfum yang identik dengan Menara Eiffel itu. Namun segera didenguskannya dengan cepat. Rama dan Masayu entah kenapa seolah berada dalam situasi yang tidak mengenakkan sama sekali.
“Dit, makin hari kau ni makin elok bae,” seru Vio.
“Gembel.”
“Gus, kau dipanggil Dita nah.”
__ADS_1
“Aku kan sudah pensiun jadi gembel,” beber Kiagus ikut-ikutan.
“Aku baru magang dua minggu.”
Dita mendadak menunjuk Vio sambil mengeluarkan klaim jelek. “Pantas aku kemarin-kemarin lihat kau di bawah Jembatan Ampera, duduk ngapar, bertopi buruk, lusuh, tangan menadah, muka sedih, terus di dekat kau ada mangkok yang berisi duit receh, pakaian hitam putih.”
“Dit, kau tega nian ngomong seperti itu.”
“Mau marah? Muka pelawak seperti itu.”
“Ngapa aku dak tahu yeh?” Vio menggaruk jidatnya. “Makasih, Dit, atas infonya.Kok aku baru sadar kalau aku ni gembel.”
“Sama-sama, Sayang.”
“Perasaan, kita pernah ngembel bareng. Di mana yeh, kalau dak salah di bawah Plai Oper Simpang Polda, kau ingat?”
“Oh, iya, di bawah fly over. Aku baru sadar kalau kita ni kan satu angkatan. Makasih atas infonya.”
“Kita hampir saja terkena serangan hebat dari amnesia mendadak.”
“Untung.” Dita mengelus dada.
“Dit… Dit, kasian, kau sudah tertular sindrom gilo dari aku. Ha-ha.”
“Bukannya aku yang nulari penyakit jiwa itu?”
“Tengkiyu peri mach atas informasinya.”
“Aku gagal di tes kesehatan. Alasannya menjengkelkan nian. Karena badan aku kurus. Katanya, dak pantas PNS kurus, dikirai kurang gizi. Kau enak sekarang, Dit, gembel PNS, mau naik golongan tiga pula. Gaji kau dibayar pemerintah. Pasti punya BPJS, jadi kalau kau sakit karena memorsir waktu untuk ngembel, kan bisa berobat gratis.”
“Jadi kau sekarang masih honor?”
Vio manggut-manggut semacam kerasukan jin disco. “Nanti kalau ada lagi bukaan PNS untuk gembel, aku pasti lulus.”
“Pasti dulu karena masih cacingan.”
Rama membenarkan posisi duduknya lalu membuka bungkus plastik. “Makasih nian. Sekarang akumau baliki barang kau.”
Masayu terperanjat. Buru-buru dia membalas, “Ram, aku sudah beri kepada kau, jadi untuk apa kaubaliki lagi?”
“Aku dak bisa menerimanya.” Rama membuka ranselnya. “Maaf nian lama di aku. Baru sekarang aku bisa baliki buku puisi kau. Makasih sekali lagi.”
Dipegangnya lipatan celana hitam dan dasi merah. Dipegangnya juga buku puisinya.
“Tanpa ini, mungkin kami dak bisa menang di kontes kemarin.”
“Selamat. Semoga kamu bertiga sukses.” Mendadak Masayu berpamitan pulang. Ditaruhnya semua barang tadi ke dalam jok motornya.
***
__ADS_1
Rama melepaskan lamunan paginya karena terkejut melihat kedatangan ibunya.
“Ini, Nak, kopinya. Dak ada masalah kan gawaian kau?”
“Dak ada, Bu. Aman-aman bae.”
Dari ruang depan Rama mengawasi jalanan. Perlahan dia menyeruput kopinya. Bapaknya menghampirinya.
“Raden, Bapak mau ngomong sama kau, Nak.”
Rama merapikan posisi duduknya. Kaki kiri yang tadi bertelekan di atas paha kanannya kini turun.
“Bapak dak senang dengan cara kau berpakaian dan hobi kau nge-band itu. Bapak khawatir kalau nanti kau berperilaku dak baik. Sudah lama Bapak ingin ngomongi ini sama kau, dan memang Bapak sengaja untuk dak ngomonginya karena Bapak harap kau sadar sendiri, Nak. Jujur, Bapak dak senang dengan kau yang sekarang ini, jadi anak punk. Bapak dak senang.”
“Tapi Pak, yang penting kan Rama dak berkelakuan buruk.”
“Semua orang tahu kalau anak punk itu buruk, Raden. Ubahlah cara kau berpakaian. Jangan seperti berandal. Sopan dikit. Karena pakaian itulah kau sampai pernah dituduh copet.”
“Rama janji bakal menuruti semua omongan Bapak dan Ibu. Rama rela dak kuliah. Rama sudah kerja sekarang. Rama berusaha nyari calon bini Wong Palembang. Terus Rama bakal berusaha untuk beribadah. Tapi tolonglah, Pak, tolong nian, inilah jiwa Rama, susah untuk dilepas. Rama bukan berandal, Pak. Pakaian seperti ini belum tentu ada pengaruhnya dengan watak Rama.”
***
Dilewatinya toko pempek Cek Khadijah. Belum buka. Dia terus berjalan dengan membawa sepikul omongan bapaknya tadi. Langit mendung, dan tidak salah lagi, turunlah hujan. Hingga deras. Untung siang ini Rama sudah berada di toko pempeknya Cek Khadijah.
Rama dipersilakan duduk oleh Cek Khadijah. Dia melihat rintik-rintik hujan yang membasahi jalanan. Ada beberapa orang yang menumpang berteduh di depan toko pempek Cek Khadijah. Tak lama berselang, Nyayu tiba di sana bersama seorang perempuan dewasa.
“Ini ayuk aku,” kata Nyayu memperkenalkan perempuan berjilbab besar.
“Nama Ayuk Ajeng. Nah ini keponakannya Nyayu. Namanya Dewi Lestari.”
Rama melihat seorang anak kecil yang kira-kira baru berumur dua tahun. “Anak pertama, Yuk?Cantik, mirip ibunya. Lucu nian.”
Nyayu berceletuk. “Hati-hati Dewi, nanti kau digombali oleh Mang Cik Rama.”
“Jadi belum lama kenal Nyayu?” tanya Ajeng.
“Iya, Yuk. Tapi kami seperti sudah saling kenal sejak kecil saja.”
Nyayu yang sedang meladeni pembeli diam-diam menguping pembicaraan itu.
Vio menarik tali pancingnya dengan kencang. Dia sampai termundur-mundur. Tangannya semangat mencengkeram gagang putaran tali pancing.
“Ah, paling dapat sandal lagi kau,” kata Rama bercanda.
“Nanti dulu, Ram. Ah, berat nian. Sepertinya ini paus.”
Celana pendek berwarna hijau menjadi kado isitimewanya yang kesekian di sore ini. Rama dan Kiagus terkekeh.
“Musi sudah tidak seperti dulu lagi,” kata Rama. “Lihatlah airnya makin keruh dan cokelat. Ikan makin lama makin berkurang di sini. Sampah berserakan. Limbah dialirkan ke parit, dari situ menuju anak-anak sungai, terakhir bermuara ke Sungai Musi. Sungai kita makin tercemar.”
__ADS_1
“Bapak aku dulu sering banyak dapat ikan, Ram. Apalagi belida. Huuu, bukan mainlah ikan khas Palembang satu itu.”
“Sampai-sampai jadi ikon kota. Dan sekarang populasi ikan belida makin terancam. Bisa-bisa punah di Sungai Musi ini.”