
Mahoni dan trembesu menjadi penyejuk petang ini. Apalagi mereka berenam tengah duduk di sebuah pondok di Kambang Iwak Besak. Desau angin membuat obrolan mereka jadi tambah enak. Riak air kambang menjadi pusat pemandangan di taman.
Mendadak Vio memuntahkan suara false-nya yang amat tak enak didengar. “Kemesraan ini… janganlah cepat berlaluuu….”
“Sudah aku omongi kau itu katek bakat jadi penyanyi,” caci Rama.
“Iya, Ram. Iyaaaa… suara kaulah yang bagus. Jangankan nyanyi, diam saja kau sudah bagus!”
“Suara kentut kau saja jelek, Vio, apalagi suara yang kaukeluarkan.”
“Iya. Orang tuli saja, atau parahnya orang yang dak punya kuping saja tahu kalau suara aku nih jahatnya minta ampun. Mending dengar gonggongan anjing rabies lagi.”
“Kau ingat, Jok, waktu kau ingin adzan di langgar, tapi dak dibolehi oleh penjaga langgar?”
“Oh, ingat, Jok. Parah nian.”
“Itulah kenapa aku dak mau diajaknya karaokean,” seloroh Dita.
“Tapi aku rela dak nyanyi, Dit, asal bisa dengar suara emas kau itu. Nah, apalagi Dita, suaranya bagus nian. Pantas jadi penjaga toko baju di Pasar Enam Belas. Mampir, mampir, bajunya, bajunya, sayang anak, sayang anak. Ha-ha”
“Vio, omongilah kalau ada yang mau diomongi sama Dita. Kan besok dia mudik. Bakal lama dak ketemu,” ujar Masayu.
“Kami kemarin jalan ke Jakabaring. Terus makan jagung bakar. Yeh, Vi?” seloroh Dita lagi.
Rama memprotes keras, “Ke Jakabaring terus. Ketahuan nian kalau buntu.”
“Foto-foto di sekitar stadion. Ngomongi orang, ngatai orang, ngejek orang. Banyaklah aktivitas seru di sana. Sebentar,” Vio merapikan posisi duduknya dan tangannya bergerak-gerak semacam melakukan body language, “aku mau menganalisis peristiwa yang mencengangkan kemarin. Sekarang anak-anal alay dan gadis-gadis spesies cabe-cabean sudah bertebaran di mana-mana bahkan merajalela. Banyak nian di Jakabaring. Prosedur berkendara yang salah sering mereka aplikasikan. Boti, alias bonceng tiga, pahanya ke mana-mana karena anderok sebatas dengkul mereka menganga terkena angin. Aku takut generasi orang-orang keren, seperti kita-kita ini, bakal punah seperti keberadaan komodo. Jadi kita harus melestarikan budaya punk dan cara berpakaian pesienebel ala pink seperti cewek-cewek ini.”
Vio pernah melakukan cross check di lapangan tentang kasus lain yang lebih intens. Dan akan dibeberkannya di forum sekarang ini. “Remaja-remaja tanggung yang kencingnya belum lurus dan hidungnya tak berhenti lagi mengeluarkan ingus, sekarang benar-benar gilo. Ini bisa disebut trabel.”Maksud Vio adalah trouble. “Suporter bola, pakaiannya serba hitam, nyuri cara berpakaian ala punk, banyak membuat onar. Mereka tawuran, saling serang, menujah, menyiram pakai air keras, membuat keributan saja. Ulah mereka dak benar. Citra punk jadi rusak. Selaku penggemar punk, aku dak rela reputasi punk menjadi terjun bebas seperti ini. Rama, kau pernah ngomong sama aku dan Kiagus, dengan berkarya kita bisa mengubah dunia. Lihat saja, setelah kita dikenal dan disegani kelak, kita akan mengangkat nama punk, genre punk, cara berpakaian punk, dan yang pasti kita harus menghapuskan sistem yang salah dalam pergaulan dan perkawanan, terutama percintaan di Palembang ini. Dan yang paling penting, Jok, kita mesti mengubah pola pikir orang dalam memperlakukan punk. Jangan sampai para penggila punk terus berbuat onar, membuat kekacauan, dan hobinya membuat orang resah. Kita harus meluruskannya, supaya orang banyak dak menilai punk itu jahat, seram, sering brutal, dan anarkis. Kita mesti menjadikan punk itu baik, benar, dan bagus.”
“Jadi nanti ikut kontes?” tanya Masayu.
“Pasti.” Vio menyerobot. “Pertama-tama, kami ingin dikenal oleh kawan-kawan, terus jadi band indie yang tersohor di Palembang.”
“Kami doakan supaya sukses kamu bertiga. Dan kalau sudah jadi orang terkenal, jangan lupai kami bertiga ni,” kata Masayu berharap.
“Pasti, Yu. Karena kamu, terutama… kau Dit, kami bisa seperti ini.”
“Kami akan terus memberikan doa dan support kepada kamu bertiga,” ujar Dita berseri-seri.
“Kami yakin bakal jadi band punk terkenal. Ram, kau nih diam saja. Ngomong oy!”
“Iya, Vi. Mimpi kita ingin terkenal. Terus bisa konser bareng dengan Superman Is Dead dan Endank Soekamti. Dan kita akan memijakkan kaki di Olympus!”
__ADS_1
Masayu kagum akan mimpi mereka dan terlebih pada Rama. Dengan jelas dia mendengar perkataan Rama barusan yang terdengar datar tanpa nada. Intonasinya terkadang membuat makna pembicaraan nyaris menyimpang. Namun, jika dilihat dari raut wajah yang jauh dari sifat munafik, tentulah Masayu yakin akan semua itu dan percaya bahwa ketiga bujang ini bakal berhasil bahkan melampaui impian mereka.
“Kapan kontesnya, Ram?”
“Bulan depan, Yu. Kami akan fokus latihan dulu. Dan kami juga diwajibkan oleh panitia membawakan satu lagu sendiri.”
“Sudah ada lagunya?”
“Sudah, lagu kami pas masih SMP dulu. Untung Kiagus masih nyimpan manuskrip lagunya. Lirik dan kunci lagunya ada di sana.”
“Sip.” Masayu mengacungkan jempol sambil tersenyum. “Good luck!”
“Apalagi yang bisa kami bantu?” tanya Dita.
“Nantikalau badan aku capek, pegal-pegal, kau pijiti aku bae, Dit. He-he. Dak pakai ples-ples, Dit. Aih, yasaman, kau nih, pelit nian,” ejek Vio sengit.
“Bayarnya per detik.”
“Bayar pakai cinta.”
Pempek panggang yang ada di bungkus plastik tinggal tersisa satu.
“Habisilah, Jok!” kata Rama pada Vio.
Kiagus menggeleng.
Dita berkomentar, “Kamu bertiga ni, Wong Palembang nian.”
Yaris merah itu tiba di parkiran. Suara klaksonnya memekik-mekik, sehingga percakapan mereka terhenti. Dan tak lama berselang seorang lelaki berpenampilan sporty keluar dari mobil. Dia memadupadankan sepatu Adidas merahnya dengan celana training merah dan kaos yang juga bermerek Adidas berwarna oranye. Tubuhnya yang atletis tambah fresh berkat model pakaiannya sekarang. Terang, berwarna, segar, dan memikat mata para perempuan. Dia menjadi pusat perhatian tatkala beberapa saat melakukan peregangan dan pemanasan. Tipe lelaki semacam dia benar-benar diidam-idamkan oleh para perempuan, terlebih bagi mereka yang punya gairah nafsu untuk bercinta.Dia berjalan sebelum berlari, lagi-lagi untuk pemanasan. Dan tak sempat berlari, mendadak dia melihat seorang gadis yang tak asing baginya.
“Sayang,” sapa Dodi, tak percaya.
Dan Masayu menjauhkan posisi duduknya dari Rama. “Kok kau dak bilang-bilang kalau mau joging di K.I hari ini, Dodi?”
“Sayang, dari siang tadi aku BBM kau, terus berulang kali nelepon kau. Kau taruh di mana HP-nya?”
“Maaf.” Masayu mulai resah. Dia ketakutan.
“Dak apa-apa, Sayang.” Dodi makin mendekati Masayu. “Kau ngapa dak ngomong kalau lagi di sini? Aku khawatir, Sayang.Ini kawan-kawan kuliah kau, Sayang?”
“Aku Rama.”
Melihat Rama mengulurkan tangan, Dodi menyambutnya dengan kehangatan. “Aku Dodi, pacarnya Masayu.”
__ADS_1
Rama makin lemas.
“Aku Vio.”
“Kalau nama aku Kiagus.”
“Jurusan apa?”
“Kami bukan kawan kuliah pacar kau, Jok,” tegas Rama. “Kami dak kuliah.”
Dodi manggut lagi. Sambil memperhatikan cara berbusana ketiga bujang itu, Dodi sudah mengira-ngira bahwa mereka tidak berpendidikan. Tidak salah lagi.
“Pantas.”
Mendadak Masayu mengajak Dodi untuk pergi.
***
Geliat aktivitas di Kambang Iwak tak berhenti, makin ramai, namun di salah satu pondok kayu ini, hening mencekam. Rama tercenung. Siku lengannya yang bertelekan di atas paha menopang badannya yang lunglai. Berulang kali dia menjambak dan mengacak-acak rambut Emo-nya hingga terlihat kusut. Benarlah dugaannya waktu itu. Buku puisi Masayu. Dia berbicara dengan keras dan tegas. Tidak seperti biasanya. Pecahlah hening.
“Kenapa kamu berdua dak pernah ngomong kalau Masayu sudah punya pacar, ha?”
Tak ada suara.
“Jawab!”
Bahkan Vio dan Kiagus pun tak mampu membela Dita dan Devrieya.
“Semua dak bakal seperti ini kalau kamu berdua ngomong dari jauh-jauh hari bahwa Masayu sudah punya pacar.”
Tak pernah dia marah seperti ini. Sekalipun tak pernah.
“Taik! Bastard!” Dia mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api dari saku celananya. Dia menyulut api pada rokok itu, diisapnya dalam-dalam hingga memenuhi ruang mulutnya, dan dikeluarkannya dengan cepat.
“Harusnya ngomong kalau Masayu sudah punya pacar! Rongsok!”
Rama beranjak. Vio dan Kiagus tak mampu mencegahnya.
***
Pertemuan pertama di Kambang Iwak, semua khayalan tentang keindahan, tatapan ketika di kampusnya Masayu, puisi, celana Levi’s, litotes, traktir makan mi ayam, nonton bioskop, makan di restoran mewah, acara di malam pergantian tahun, clubbing di CS, tentang setujunya orangtua Masayu, harapan—semua hanyalah sandiwara. Rangkaian-rangkaian cerita itu menjadi titik-titik. Kemudian titik-titik itu membentuk sebuah garis bulat. Sebulat keputusannya untuk menghapus semua harapannya.
Harapan yang lain sedang menunggunya, sebuah harapan selanjutnya, yang akan membawanya keluar dari belenggu ini.
__ADS_1
“Bu….” Rama terengah-engah. “Besok Rama akan ngantar Ibu ke Pasar Dua Puluh Enam Ilir. Terus… Rama pengen ketemu dengan Nyayu.”