
Cek Molek baru saja pulang dari Pasar 26 ilir.
“Nak, di pasar ada sebuah toko manisan yang lagi butuh pegawai.”
Rama mengecilkan volume suara TV. “Kuli, Bu?”
“Iya, jadilah, Ram, setidaknya untuk cari duit jajan kau saja. Daripada menganggur.”
“Berat nian gawaian itu, Bu.”
“Jualan ikan mau? Ada kawan Ibu yang nawari gawaian itu. Paling kau motong-motong ikan.”
“Ibu nih. Mada’i beri gawaian itu pada Rama?”
“Ya sudah, besok pagi ikut Ibu ke pasar.”
***
Senja nan indah. Tepat di hadapan Vio dan Dita sekarang adalah bentangan danau buatan. Sore ini mereka ke tempat yang pernah mereka kunjungi beberapa bulan yang lalu.
“Kata kau mau jawab sekarang, Dit.”
“Mengapa sih kau bisa cinta sama aku? Apa sih lebihnya aku?”
“Dit, kau itu lebih indah dari apa yang aku lihat sekarang ini.”
“Gembel.”
“Serius. Nianlah. Aku ingin lebih dari cuma kawan, Dit.”
“Tapi ngapa bisa?” Dita sudah mengakui pencapaian Vio. Bahkan sudah over target. Biasa memakai ikat pinggang, sekarang tidak lagi. Biasa memakai kaos ukuran S, sekarang sudah L. Biasanya memakai kaos kaki, sekarang Dita melihat hanya ada sepatu dan beberapa helai bulu kaki. Pipi Vio sudah tembam. Tapi gemuknya tidak bagus. Lebih banyak lemak daripada otot.
“Vio, aku dak bisa jawab sekarang. Nanti selesai mudik dan sudah ada di Palembang lagi baru bisa aku jawab.”
“Nanti badan aku kurus lagi, Dit. Jadi pikiran. Susah-susah gemuki badan tiga bulan, eh tiga hari tanpa kau dan mikiri ini, berat badan aku nanti bisa lima puluh lagi.”
“Memang berat kau sekarang berapa?”
“Tujuh puluh.”
“Aku cuma tanya berat badan, Jelek. Dak termasuk berat dosa.”
Dita merasakan tangan yang kasar itu sedang berusaha menggenggam tangannya.
“Berapa lama kau jadi kuli bangunan, ha?”
“Aku dak nguli.”
“Aih, apalagi kalau nguli yeh?”
“Dit,” kata Vio lembut,“kalau mau jadi pacar aku, ayo! Kalau dak mau, awas!”
__ADS_1
“Maksa?”
“Sepenuh jiwa dan raga. “
“Pokoknya setelah aku mudik baru diberi jawaban.”
Deru angin membawa harapan dan cinta Vio ke waktu dua minggu lagi.
***
Dilihatnya ibunya sudah berada di luar, siap mengunci pintu rumah.
“Baguslah dikit pakaian kau itu, Nak. Cobalah kaupakai baju koko, atau kemeja, jangan pakai kaos hitam. Celana juga, cari yang dak sempit.”
“Rama dak punya celana yang longgar, Bu. Ada, tapi celana Bapak.”
“Pakailah celana Bapak sana.”
Rama masuk dan mengganti pakaiannya. Persis waktu dia berkunjung ke rumah Masayu tempo hari.
“Nah, kan lemak lihatnya. Kau jadi tambah cakep, Ram.”
Pas di Jalan Merdeka, mereka berbalik arah. Kampung Sekanak tepat di seberang 26 Ilir. Di sekitar gapura ada becak yang berderet-deret. Di jalan sekitar Pasar 26 berjejer-jejer toko yang menjual pempek. Jupiter MX itu berhenti di depan toko pempek tempat Cek Molek bekerja.
“Kau tunggulah di sini.”
Rama duduk di atas motornya. Di dalam toko, Cek Molek berbincang dengan Khadijah, si pemilik toko. “Tadi diantar anak bujang aku, Cek. Raden Rama, sekarang lagi di parkiran.”
“Sebulan yang lalu ada yang mau melamar Nyayu. Anak seorang pengusaha. Katanya, buka showroom mobil di Veteran.”
“Cek tolak?”
“Ya. Karena bukan bujang Palembang, sepertinya dari Jakarta.”
“Jadi sudah sering Cek Khadijah dan Mang Cik Bastiar menolak lamaran orang?”
“Ya, Cek Molek. Itu semua karena kami merasa dak pas. Nyayu adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Kami dak mau dia senasib seperti yang nomor dua, ayuk*-nya, Ajeng, walau menikah dengan anak dari orang kaya, tapi dak ada garis keturunan Palembang. Anak pertama aku bujang. Namanya Masagus Kurniawan, nikah sama gadis yang tinggal di Tangga Buntung. Yang nomor tiga bujang juga, Masagus Ramadhan, kawin sama gadis yang rumahnya di Satu Ilir. Sekarang dia sama bininya beli rumah di sana. Alhamdulillah, anak aku itu kerja di PT Pusri. Rumah mereka tak jauh dari tempat kerja,” beber Khadijah.
Sedangkan yang keempat juga bujang, sudah berkeluarga juga. Nama anaknya Masagus Oktariasnyah. “Dapat bini orang Palembang yang tinggal di Empat Ulu.”
Cek Molek mengangguk takzim mendengarkan penjelasan Khadijah. “Jadi tinggal Nyayu saja yeh Cek yang belum kawin. Bagaimana kuliahnya di Raden Fatah, Cek?”
“Baru selesai ujian dia.”
Juluran anderok pink tampak dari balik pintu. Langkah kakinya sungguh anggun. Pelan, karena anderoknya menjulur melewati mata kaki. Dia mengenakan kaos warna putih, tak ada motif dan corak apa pun. Tampak simpel. Cek Molek sudah tahu dan mengenalnya karena hampir setiap hari ketemu dan berbincang. Senyumnya menjadi sapa yang diam.
“Nyayu, di depan ada anaknya Cek Molek. Bujang yang sering diceritakan. Mau kan ketemu sama dia?”
“Jangan sekarang, Bu. Malu.”
“Mada’i sudah rapi seperti ini, tapi urung ketemu Raden?”
__ADS_1
“Bu..., besok-besok sajalah ketemunya.”
“Ayolah, Nak. Belum tentu ada hari esok seperti halnya sekarang ini.”
Karena terus dipaksa oleh ibunya akhirnya Nyayu menuruti kemauan ibunya. Akan tetapi dengan syarat Rama yang menghampiri. Bukan dia. Maka Cek Molek keluar dan bertemu dengan Rama yang lagi melamun.
“Rama, ayo masuk dulu, Nak.”
Khadijah berucap, “Nyayu, ambilkan sepiring pempek untuk anaknya Cek Molek. Campur saja.”
Nyayu melewati Rama. Jalannya menunduk sehingga dia tak melihat Rama. Diambilnya piring. Lalu ditaruhnya beberapa pempek di atas piring. Oh ya, dia kan dak suka pempek rebus.
Rama melihat botol yang berisi cuko. Hanya itu yang dipandangnya. Lalu sekonyong-konyong matanya menangkap juluran anderok pink yang tadi barusan melewatinya. Sekarang disorotinya ayunan langkah yang elok itu. Kepalanya perlahan-lahan mendongak dan sorot matanya sedikit-sedikit naik. Lalu… matanya tertumbuk pada wajah gadis itu. Oh, hidungya mancung untuk kelas pribumi. Oh, matanya teduh dan melankolis. Oh, pipinya kalis. Oh, wajahnya pure. Oh, tatapannya innocent.
Nyayu menggeletakkan piring. Dengan cepat Nyayu berbalik dan meninggalkan Rama. Dengan segera Rama menghentikan kegilaan ini karena aroma pempek membuatnya mengendus-endus. Pempek goreng, lagi hangat! Dia menelan ludah sebab sudah beberapa hari tidak makan pempek. Sehari tidak makan pempek, bagi Rama, sama saja tidak sedang berada di Palembang.
Dilihatnya Nyayu sedang melayani pembeli. Diperhatikannya setiap gerakan tangan yang lembut itu. Tapi Rama hanya bisa menangkap badan yang kurus tidak dan gemuk juga tidak, serta mampu mengawasi kerudung pink yang turut menutupi pundak. Rama tak mampu menangkap wajahnya lagi. Ah, rupanya dia berimajinasi, membayangkan Masayu sudah mau memakai kerudung seperti halnya Nyayu.
Khadijah berdiri di dekatnya, “Jangan sungkan-sungkan, Raden, makanlah.”
“Iya, Cek.” Rama melempar senyum lagi. Dengan pelan dia mengambil garpu dan mencolok pempek lenjer. Dituanginya kuah coko di mangkok kecil berwarna merah. Dicelup-celupinya pempek itu di kuah cuko, lalu… masuklah pempek itu ke mulutnya. Terus diulanginya, sampai pempek ketiga.
Khadijah menghampiri Nyayu dan berbisik. Tampaknya Nyayu menggeleng-geleng dan cemberut. Rama tak mampu mendengar jelas percakapan itu karena ditelan oleh suara dari perbincangan penikmat pempek lainnya. Apalagi ada tiga gadis “cabe-cabean” yang lagi makan. Pempek cuma pesan satu porsi, tapi bahan omelannya banyak. Seolah ada perkebunan omongan di mulut-mulut mereka.
“Biar Ibu bae yang meladeni wong-wong.”
Nyayu manggut. Bujang yang tengah lahap menikmati pempek ketujuh ini sontak terperangah sebab gadis yang sedari tadi diperhatikannya secara diam-diam kini berada tepat di depan biji matanya. Tersangkutlah bongkahan pempek telur di kerongkokannya. Sialnya, cuko yang tadi dihirupnya kini melekat dan terparkir di kerongkongan. Maka tersendat-sendatlah Rama. Dia cegukan. Segera dia mengambil cerek berisi air putih. Dan celakanya, tak ada gelas di atas meja.
“Nanti aku ambili. Tunggulah, Rrr… Raden”
Mendadak Rama menelan ludah hingga sekonyong-konyong pempek dan cuko di kerongkongannya melenggang santai dan let’s go to lambung. Dia memegangi lehernya sambil mengatur napas. Dilihatnya Nyayu berjalan ke arahnya sambil membawa gelas.
“Ini….”
“Makasih.”
Dengan segera dia menuangkan air dari cerek ke gelas dan menenggaknya. “Kau tahu nama aku?”
“Cek Molek yang beri tahu.”
Dan… Rama melihat sebuah senyum yang baru terbit dari Nyayu. Oh, bibirnya yang merona. Oh, lesung pipinya yang menggoda. Oh, tahi lalat di bibir itu. Oh, alisnya yang tebal dan melengkung. Oh, wajah Melayu-nya.
Namun sapa perkenalan dari Nyayu membuat hatinya makin teraduk-aduk. “Aku Nyayu Anandita.”
Oh, orang Palembang berarti.
Tanpa ada salam berupa jabat tangan sebab Nyayu tahu tak boleh menyentuh tangan yang bukan muhramnya. “Habisi pempeknya.”
Rama menghitung. Masih ada delapan pempek lagi. Tak mungkin dia melahap semuanya. Sesaat mereka berbincang hingga adzan Zuhur berkumandang.
“Aku mau shalat dulu. Kau juga jangan lupa, Raden.”
__ADS_1
Juluran anderok pink itu tak terlihat lagi dari balik pintu.