
Vio menoleh ke arah Rama yang sedari tadi bergeming sepi. Ada apa gerangan? Jangan sangka dia lugu, naïf, seperti orang bodoh, tapi tidak memikirkan apa-apa.
Vio yang kiri dan Kiagus yang kanan, otomatis aku dapat cewek yang di tengah. Ah, jadilah, lumayan. Kalau dilihat dari belakang, sepertinya gayanya keren. Mukanya juga pasti cantik. Badannya seksi pula. Tatanan rambutnya emo. Bukan main, benar apa yang dikatakan Vio, bukan main. Kalau kutebak, sepertinya benar kalau mereka itu anak kuliahan. Woah, bukan main, anak kuliahan! Seorang bujang Palembang pengangguran, bak pungguk merindukan rembulan, mengidam-idamkan cewek cakep dan elok anak kuliahan. Hebat nian kalau akau bisa jadi pacarnya. Oh, lihatlah setiap lekukan tubuhnya. Oh, lihatlah setiap ayunan kakinya. Oh, molek nian gadis yang di tengah itu.
“Ram, kau pengen dak dengan cewek yang di tengah?”
Rama masih memampang wajah polos. Tanpa ekspresi. Tanpa makna. Sementara matanya tak lepas-lepas menyoroti setiap lekuk tubuh sarat akan keanggunan aduhai elok nan ramping laksana tubuh Maria Sharapova sehingga apa jua pun yang ditangkap oleh matanya sudah membenamkannya dalam samudera khayal yang seolah dalam tiada akhir hingga akhirnya dia terjerembap dalam godaan yang ditunggu-tunggu, yang dirindu-rindu.
“Kalau dak, aku borong nah dua-duanya.”
“Iya, Jok, cewek yang di tengah itu untuk aku.”
Vio berdiri lantang. “Oke, Kawan-kawan. Bagaimana kalau kita mulai misi ini?”
“Maksud kau?”
“Ya kita dekati cewek-cewek itu, Ram. Siapa tahu mereka mau sama kita, bujang-bujang Palembang yang cakep-cakep ini.”
Rama agak ragu sebab badan Vio dirasa bakal menggagalkan semua rencana manis ini. Dilihat dari postur tubuh Vio yang amat menyedihkan, yang mana dia tak akan pernah diterima jadi polisi dan model iklan, Rama amat skeptis, ragu kalau Vio yang menjadi promotornya.
“Aku yang bakal dekati mereka!” ujar Rama lantang dengan semangat 45.
Mereka duduk di pondok menanti-nanti ketiga gadis yang tadi dibicarakan berlari tepat di dekat mereka.
HUP! Sudah dekat!
“Cewek!” jerit Rama dengan mengeluarkan suara serak-serak basah. Penuh penjiwaan. Pria sejati. Seperti suara vokalisnya Green Day ketika sedang konser.
Ketiga gadis itu seolah tak mempunyai telinga untuk mendengar bahkan seolah tak mempunyai hati untuk memedulikan panggilan menggoda dari Rama. Bukannya kapok, Rama malah mengulanginya lagi dan volume suaranya agak lebih besar.
“Ce… wek!”
Gadis yang di tengah menoleh ke belakang.
Pas.
Namun hanya sesaat tolehan itu. Mungkin sekejap mata. Pandangan sesaat itu laksana sebuah pertemuan antara kedua atom yang berbeda, lalu atom itu bertabrakan dan… meledaklah senyawa absurd itu hingga menjadi letupan-letupan semarak.
Jantung Rama berdegup-degup, tergugup-gugup.
Belum sempat kembali berlari, Masayu berhenti sejenak, dan kembali menoleh ke arah bujang yang lagi memandanginya. Jarak mereka terpaut sekitar tujuh meter.
“Raden,” desis Masayu.
“Kau sudah kenal dengan cewek itu? Wah, pantas saja. Dak bagus cara kau, Jok.”
“Aku dak kenal dengan cewek itu, Vi. Sumpah.”
Dita dan Devrieya memekik memanggil Masayu yang lagi terpaku. “Ayo!”
Masayu kembali berlari menyusul kedua kawannya. Selama berlari Masayu terus berpikir dan berpikir. Apa benar bujang itu yang selama ini mengisi alam pikirannya berhari-hari? Risau rasanya Masayu selama berlari.
Vio menepuk pundak Rama. “Serius dak kenal?”
Rama manggut cepat.
“Nanti kalau mereka sudah sampai ke sini lagi, kau harus menegurnya lagi terus kenalan, Ram. Oke?”
Mereka tak bersuara. Menanti-nanti kehadiran ketiga gadis yang mereka nanti. Beberapa menit berselang, tibalah yang dinanti.
“Nah, nah,” desis Vio.
__ADS_1
Rama berdiri tegap di tengah jalan sambil berpose cool. Tapi wajahnya polos. Tanpa dosa.
Masayu, Dita, dan Devrieya terkejutseperti dihadang pocong.
“Awas! Minggir!” Tangan Dita berayun-ayun seperti mengusir kucing.
Dengan berani Rama menatap mata Masayu. Tapi Masayu segera memelantingkan biji matanya ke arah jam tiga. Melengos dari tatapan tajam Rama. Dita dan Devrieya berlari melewati Rama yang tengah berdiri terpancang. Masayu diam tak bergerak. Dia malu. Masayu menunduk, lalu berkata pelan, hampir berbisik, “Kau Raden?”
“Aku Rama.”
Masayu mendongakkan wajahnya dan dengan berani menatap mata Rama.
“Maaf, aku salah orang.” Masayu berjalan meninggalkan Rama dengan perasaan tenang.
“Aku Raden Rama.”
Masayu menyetop jalannya.
“Aku boleh kenalan?”
Masayu juga ikut mengulurkan tangan setelah Rama mengulurkan tangan. “Nama aku Masayu Selly.”
Wah, gadis Palembang rupanya.
Masayu dengan berontak mengeluarkan unek-unek yang menyiksa relung batinnya.
“Aku pernah lihat kau. Di Pasar 16 Ilir.”
“Kapan?”
“Sekitar dua atau tiga bulan yang lalu.”
“Aku memang begawai di sana. Tapi aku dak pernah melihat kau.”
“Kau pernah dituduh copet, kan?”
Sejenak Rama menggali ingatannya.
“Aku orang yang dicopet itu.”
Rama terkejut. “Hah? Serius?”
“Iya, serius. Aku jadi bingung sekarang mau bilang apa sama kau.” Masayu coba mencari-cari keberadaan kawan-kawannya yang sudah jauh di sana.
“Ya sudah, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi, Masayu. Kedua kawan aku pengen kenalan dengan kedua kawan kau tadi, jadi tolong disampaikan.”
Masayu mengunggah senyum dan Rama mengunduhnya dengan senang hati dan kemudian membalas senyum itu dengan senyum pula. Sebuah senyum istimewa. Sore nan permai di Kambang Iwak bertambah permai saja sebab keenam anak manusia ini sedang dimabuk indahnya jumpa yang tak disangka.
“Vio, kalau mau dekat dengan aku, kau harus minum obat cacing dulu. Supaya bisa gemuk.”
“Kau juga harus rajin-rajin ke Kambang Iwak. Banyak-banyak olahraga. Supaya terhindar dari obesitas dan langsing seperti Masayu, Dit.”
“Nanti akan akubuati BPJS. Supaya kau bisa check-up di Puskesmas, atau bagusnya di rumah sakit. Aku takut kau mengidap suatu penyakit.”
“Kurus, bukan berarti penyakitan, Dit. Kau nih seolah-olah nian.”
Namun, tidak untuk Kiagus.
“Semester berapa kuliahnya?”
“Satu.”
__ADS_1
Sunyi lagi.
“Kamu semua teman sekelas?”
“Iya.”
Sunyi lagi.
“Kenal pas kuliah?”
“Kalau sama Ayu, iya, tapi sama Dita sudah sejak kecil.”
“Akrab?”
“Ya.”
Sunyi lagi.
Kiagus menoleh ke sebelah kiri, tepat arah Devrieya yang sedang menunduk dan sibuk dengan obroan di sosial medianya. Kiagus manyun.
“Ngekos?”
“E-e.”
“Di mana?”
“Silaberanti.”
Sunyi lagi.
Percakapan yang amat membosankan.
“Kok bisa kau kecopetan waktu itu?”
“Aku yang harus tanya dulu, kok bisa kau dituduh copet waktu itu?”
“Kan kejadiannya kecopetan dulu, baru aku dituduh copet.”
“Hm, cowok memang suka tidak mau ngalah.”
Rama tertawa kecil.
“Iya, aku lihat, pas kau digotong oleh kawan kau.”
“Bagaimana dengan dompetnya?” tanya Rama. Nada bicaranya tetap datar.
“Lupakanlah. Dak penting. Sekarang, aku minta maaf.”
“Maaf soal apa, Masayu?”
“Gara-gara aku, kau dituduh copet.”
“Kau dak salah. Jadi dak usah minta maaf.”
Angin berembus, menyelusupi percakapan mereka.
“Aku panggil kau Rama, atau Raden?”
“Panggil Rama saja.”
“Memangnya ngapa kalau aku panggil kau Raden?”
__ADS_1
“Aku dak senang.”