
Gedung Serba Guna Dekranasda Jakabaring dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang bersenang hati. Sementara para orangtua yang jadi tamu undangan turut berbangga melihat anaknya sudah menjadi seorang sarjana. Para pedagang tak ingin melewatkan kesempatan untuk menuai rupiah. Penjual bunga bertebaran. Vio berkeras ingin bertemu dengan Dita dan mengucapkan selamat karena sudah sukses menyelesaikan kuliahnya. Sementara Rama, bukan hanya menemani Kiagus, tapi ada sesuatu yang sudah menggerakkan pikirannya untuk datang. Walau masih ada rasa benci, tapi dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri.
Dita, Devrieya, dan Masayu keluar dari gedung itu dengan berbarengan. Bukankah mereka selalu bertiga? Senyum mereka amat mekar. Untuk mengabadikan momen spesial ini, mereka berfoto-foto ria. Rama senang melihat Masayu sudah menjadi sarjana. Entah kenapa semua rasa kangen dan rindunya lepas di siang ini.Namun, semua harapan itu lekas enyah. Sebab Rama mengenal laki-laki itu. Laki-laki bertubuh atletis yang pernah menjemput Masayu di Kambang Iwak Besak. Mendadak Rama memaku.
“Omnivora sispek,” ejek Vio.
“Manusia empat sehat lima sempurna,” tambah Kiagus.
“Rama! Ayo!”
Tapi Rama menggeleng dan menyuruh mereka berdua saja. Vio menyodorkan tangannya kepada Dita. “Selamat!” serunya sambil tersenyum.
Dita melengos.
Kiagus memberikan beberapa ikat bunga kepada mereka.
Masayu memperhatikan sekitar. Dari kejauhan dia melihat sosok yang memakai sepatu hitam Vans Off The Wall, mengenakan celana hitam ketat yang ada koyak di bagian dengkul, dan berkaos hitam.
“Ayo kita foto-foto di sana!” ajak Dita, berusaha pergi meninggalkan Vio.
__ADS_1
Dengan perasaan menyesal Vio hanya bisa melihat Dita sekarang benci sekali dengannya. Sampai-sampai tidak berbicara sedikit pun. Kiagus merangkul Vio dengan erat.
“Jok, hari ini juga dia langsung balik ke dusunnya.”
“Hah? Kata siapa?”
“Devrieya yang ngomong. Terus rencananya Dita bakal nyari gawaian di dusun.”
Sontak Vio berlari menyusul Dita. Hari ini terakhir dia bisa bertemu dengan Dita. Badannya meliuk-liuk di antara orang-orang.
“Dit, maafi aku.”
“Dit, tolonglah, waktu itu aku khilaf. Maafi aku.”
“Aku dak mau lagi kenal dengan kau!”
Maka Vio terpancang lesu di sana. Serempak Rama dan Kiagus merangkulnya. Mengusap pundaknya.
***
__ADS_1
Matahari pagi merekah. Vio sudah berpakaian rapi dengan memakai kaos hitam dan jaket kulit hitam. Dia juga memakai sepatu dan sarung tangan. Subuh tadi dia sudah mengecek kesehatan si Karbon agar tidak bengek ketika dalam perjalanan nanti. Segala macam peralatan dan kunci serta lima busi cadangan telah dia siapkan. Pagi ini dia berpamitan kepada emaknya. Katanya, ada urusan penting.
TROTOT TOTOT TOTOT!!!
KUKURUYUUUKKK!!!
Dia nekat pergi dari Palembang ke Muara Enim atas dasar dukungan dari Rama dan Kiagus. Kalau tidak terjadi kemacetan dan kalau saja si Karbon tidak kumat, kira-kira empat jam lebih dia sudah berada di Muara Enim. Cincin stainless yang dibelinya tadi malam di BKB, yang mana sepasang cincin ini terukir nama mereka berdua, akan menjadi kado istimewa untuk Dita. Selain tanda cintanya juga sebagai ungkapan rasa permintaan maaf. Ditaruhnya kotak cincin berwarna merah yang berbentuk hati ini di saku jaketnya. Pagi ini Vio aman pas sudah di Kertapati sebab truk batu barabelum melintas. Hingga dia masuk ke Kabupaten Ogan Ilir. Matahari menumpahkan sinarnya. Di sekeliling jalan diselimuti kehijauan, rumput, rawa, lebak, dan ilalang tumbuh dengan liar, ada beberapa pondok di sana. Sesekali mobil dan motor melewati si Karbon. Satu jam perjalanan dan 32 kilometer telah ditempuhnya. Dia sampai di Indralaya. Terlihat kampus Universitas Sriwijaya.
Si Karbon terus melaju…..
Di Kota Prabumulih, Vio berhenti di tempat pengisian bensin. “Pul teng!” Dia beristirahat sebentar dan minum. Dia merasa asing di sini karena untuk kali pertamanya dia menapakkan kaki di Prabumulih. Suasana kota baru terasa setiba di Jalan Sudirman. Puluhan kilometer terus ditempuhnya di Jalan Lintas Sumatera ini. Beberapa kali Vio melewati jalur rel kerata api sehingga membuatnya jadi terbanting-banting. Pas di sebuah simpang, jika mau ke Lahat, belok kanan, sementara Vio lurus. Beberapa desa dilewatinya tadi. Salah satunya adalah Gunung Megang. Dulu, banyak orang yang tinggal di sini dan berkebun, lalu menjual hasil kebunnya itu, semacam para, kopi, kapas, pisang, dan duku ke Palembang dengan berperahu, melintasi Sungai Lematang hingga Sungai Musi. Namun karena zaman sudah maju orang-orang bisa berpergian dengan menggunakan mobil dan kereta. Daerah di sini adalah salah satu pedalaman Sumatera Selatan yang terkenal. Tanah di daerah uluan ini sungguh kaya sebab lingkungannya berisi dataran tinggi dan tanahnya subur untuk perkebunan dan pertanian.
Ada plang besar bertuliskan “KOTA” dan tanda panah lurus. Muara Enim bagus rupanya. Suasana perkotaan tampak di pusat kabupaten ini. Mending di sini, pikir Vio, daripada Kota Prabumulih. Toko-toko berjejer-jejer rapi dan orang hilir mudik ke sana-kemari. Selain lokasi nongkrong, di sini juga ada tempat makan seperti bakso dan siomay. Ada juga tempat karaoke. Vio ternganga. Sungguh tak menyangka dia bahwa ada kota di sebuah kabupaten. Kota di dalam sebuah kabupaten! Bukan main! Sekali lagi, kota di dalam sebuah kabupaten! Tak lebih dari setengah jam lagi dia tiba di Tanjung Enim, salah satu wilayah di Muara Enim yang paling tersohor karena berhasil menopang pertumbuhan daerah berkat industri batu bara. Di daerah yang panas bedengkang ini bahan bakar fosil itu begitu melimpah tertimbun di perut bumi sehingga tak salah kalau Sumsel menjadi lumbung energi nasional. Vio berhenti tak jauh dari PT Bukit Asam, tepatnya di dekat kantor Polsek. Tak henti-hentinya Vio mencari-cari plang karena dengan itulah dia mendapat petunjuk jalan.
“PALEMBANG – 196 KM”
Dilihatnya ada tanda panah lurus. Berarti Vio sudah menempuh jarak sejauh itu dengan empat jam setengah perjalanan. Ditengoknya si Karbon. Tak sampai hati dia menyaksikan kendaraan kesayangannya ini. Jarak sejauh itu sudah benar-benar menyiksa. Maka dielusnya body si Karbon. Entah kenapa Vio jadi terharu. Vio tahu alamat rumah Dita, tapi tidak tahu di mana letaknya. Maka dia bertanya pada orang-orang di sekitar sana. Tak perlu waktu banyak dia bergegas ke sebuah tempat yang ditunjukkan oleh mamang-mamang tadi. Vio berhenti di pekarangan sebuah rumah gedong bercat hijau. Dia membuang napas lelah. Mukanya kusam karena kotoran dan debu menempel. Dengan berani dia mengetuk pintu rumah itu. Dan… gadis itu terkejut melihat bujang yang tak asing itu, bujang yang lebih dari tiga tahun dikenalnya itu, bujang yang sudah menemaninya selama di Palembang itu, tepat di hadapannya.
“Viooo….”
__ADS_1
***