Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
38. Gunung Megang


__ADS_3

Sore nan permai di Desa Bedegung, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Lembayung bergelantungan indah di mega sana, mentari senja memuntahkan semburat yang berlapis-lapis, melesat-lesat ke hamparan Bumi, sebuah panorama yang menyentuh sanubari, membangkitkan kagum dan syukur kepada Ilahi. Di bawahnya, Air Terjun Bedegung bak lukisan. Gemercik airnya terpantul-pantul di batu besar yang terkapar.Air terjun yang tingginya mencapai 99 meter itu berasal dari mata air Bukit Barisan. Aliran di bawahnya membentuk sebuah sungai kecil, airnya mengalir di sela-sela bebatuan, bergelombang-gelombang, meliuk-liuk, melesat dengan deras, menggugah jiwa hingga mata terpancing untuk terus memandang.


Di sebuah jembatan besi Vio menyaksikan deburan dari air yang tumpah dengan deras. Suara percikan airnya terdengar jelas. Bahkan percikannya itu sampai ke jembatan karena dorongan angin. Terpanalah Vio, sebab di Palembang tidak ada air terjun. Oh, bukankah air terjun ini dan air Sungai Musi bersumber dari mata air yang sama? Hilanglah jengah, hilanglah lelah. Maka Vio terpukau dalam pemandangan alam yang menyejukkan. Betapa kayanya Indonesia. Mengapa banyak orang pribumi yang menghabiskan waktunya di negeri orang, padahal di tanah mereka banyak sesuatu yang bisa menghibur hati?


“Aku seperti wong dusun yeh?”


“Ini di dusun, Idiot.”


“Aku sayang sama kau, Dit.”


Dita memperhatikan hidung Vio. “Jujur berarti.”


“Emang?”


“Kalau bohong, hidung kau jadi panjang.”


“Emang aku pinokio? Aku rela terjun dari sini, untuk buktikan kalau aku sayang sama kau, Dit.”


“Sok romantis.”


“Serius.Nian. Dua rius malah.”


Vio memegang tangan Dita. “Nian aku mau terjun… tapi berdua.”


Dita melepaskan genggaman tangan itu. “Ya sudah, aku saja yang terjun.” Dita memegang besi jembatan.


“Jangan, Dit!”


“Biari aku mati!”


“Jangan ragu-ragu maksudnya.”


Sekonyong-konyong Dita mencubit perut Vio. “Kau agak kurusan, Sayang.”


“Karena sering mikiri kau, Dit.”


“Wong Palembang nian kau ni.”

__ADS_1


“Emang kau tahu ciri Wong Palembang?”


“Edop nak lemak, mati nak boncetan, koboran nak beremot*.”


***


Dilihatnya sebuah kampung yang temaram, sunyi, sepi, nyaman, dan tenang. Jauh dari keramaian dan bisingnya kendaraan. Di dalam rumah, Dita menjelaskan kepada keluarganya tentang Vio.


“Tapi, Ma, janganlah minta padanya yang macam-macam. Karena Vio orang yang dak punya. Sederhana.”


Dita tiba di beranda dengan membawa secangkir kopi hitam. Dia memakai piyama serba pink. Sementara rambutnya bergelung sebab Vio amat senang dengan gadis yang menata rambutnya serupa itu. Duduklah mereka berdua di beranda yang diterangi bohlam lima watt.


“Malam ini kau disuruh Mama dan Papa nginap. Besok pagi baru balik.”


“Ya.Dita. Aku minta maaf soal yang kemarin itu. Terus, maafi aku lagi.”


“Soal apa lagi?”


“Maafi aku. Aku dak bisa lagi pacaran dengan kau, Dit.”


“Mulai sekarang kita dak pacaran lagi, Dita.


“Vio?”


“Tapi… tunangan.” Vio mengeluarkan kotak merah berbentuk hati dari saku jaketnya.


“Hm, kau ni. Apa ini? Untuk aku?”


“Kalau muat berarti jodoh.”


“Kau yang pasangi, Sayang, biar mesra. He-he.” Dengan pelan Vio memasukkan cincin itu ke jari manis Dita. Dan… pas. Bujang itu memetik senar gitar. Dan mulai bernyanyi.


Cok mak ilang


Mak ilang cagak batu


Di mano koceng belang

__ADS_1


Di situ rumah aku


Kapal api masok Palembang


Banyunyo tenang jadi gelombang


Oi mak mano hati dak bimbang


Gadisnyo doson, bujang Palembang


***


Masih di Muara Enim, namun kali ini di dusun Gunung Megang. Dodi pulang ke kampung halamannya dan bermaksud membicarakan sesuatu yang penting dengan keluarganya. Dodi menyampaikan maksud dan tujuannya kepada ibu-bapaknya tentang keinginannya melamar seorang gadis Palembang. Maka terkejutlah Saleh, bapaknya Dodi.


“Kau dak salah, Nak? Nanti malam kita ke rumah mamang kau. Mungkin kau bakal berpikir dua kali untuk melamar dia, Nak.”


Pergilah Dodi bersama bapaknya. Ibunya, Salimah, juga ikut pergi. Sampailah mereka di sebuah rumah panggung khas Sumatera. Ketiga anak-beranak itu duduk di ruang depan bersama adik dari Pak Saleh, namanya Muslimin. Pak Saleh menyampaikan maksud dan tujuannya kemari.


Pak Muslimin berkulit sawo matang, kumisnya lebat, dan alisnya tipis. Badannya agak kurus. Mukanya sedikit mirip dengan muka Pak Saleh. Pak Muslimin terakhir melihat keponakannya sekitar tujuh tahun lalu, saat Dodi tamat dari SMP. Sekarang Dodi yang remaja sudah benar-benar dewasa. Sesaat Dodi menjelaskan kisah-kisah dia bersama Masayu.


Berkatalah Pak Muslimin kepada keponakan yang amat dicintainya ini. “Mamang dulu sama seperti kau ini, bahkan lebih dari kau. Dodi, bukan berarti Mamang menyampaikan ini untuk membuat kau jadi patah semangat, bukan nian, Nak. Tapi supaya kau lebih berpikir lagi. Karena besar risikonya. Apa yang kauingini ini berat nian.Dulu, Mamang senang dengan gadis Palembang, namanya sama persis seperti gadis yang ingin kau lamar, Masayu Setianingsih, berdarah Palembang-Jawa. Lebih dari sepuluh tahun Mamang kenal dekat dengan dia. Mamang yakin nian kalau dia jodoh Mamang. Walaupun jarang ketemu, tapi kami merasa yakin, suatu saat kami bakal kawin dan membangun sebuah keluarga. Selama waktu itu Mamang dak pernah berkunjung ke rumahnya dan bercakap dengan keluarganya, karena Mamang sadar, Mamang cumalah seorang bujang dusun yang miskin dan dak punya apa-apa. Kalaulah para lagi panen, pisang lagi panen, duku lagi panen, barulah Mamang ke Palembang untuk menjual hasil kebun Mamang.


“Mamang berdagang di Pasar Enam Belas Ilir. Kalaulah habis berdagang, Mamang sempatkan untuk bertemu Masayu di pinggiran Sungai Musi di sekitar Sungai Sekanak. Kami bercakap-cakap di sana. Kadang kami saling berkirim surat, saling memberikan hadiah. Tapi sekali lagi, Mamang sadar, kalau Mamang ni cumalah bujang uluan yang rendah dan miskin. Dak pantas nian jadi laki dari seorang gadis keturunan bangsawan Palembang yang kaya raya. Bapaknya seorang saudagar yang kaya dan juga disegani oleh orang-orang. Pamor keluarga Masayu sangat dikenal orang-orang Palembang. Mamang mikir, dak mungkinlah kalau Mamang bakal jadi laki dari gadis terhormat itu.


“Walaupun tindakan Mamang ini bodoh, bodoh nian, berkeras ingin tetap bertemu dengan keluarga Masayu untuk melamar anaknya. Singkat cerita, di rumah Masayu, Mamang kena kata-katai oleh bapaknya Masayu. Katanya, Mamang ini dak pantas nian punya bini Wong Palembang, karena Mamang ni cumalah wong dusun yang miskin, yang gawaiannya cuma berkebun. Jelas Mamang diusir dari rumah itu. Dan sejak itu Mamang dak pernah ketemu lagi dengan Masayu. Beberapa tahun setelah itu terdengar di kuping Mamang kalau Masayu kawin dengan seorang bujang Palembang karena dijodohkan oleh bapak-ibunya.”


“Mamang dak bohong kan tentang cerita tadi?”


“Untuk apa Mamang bohong sama kau, Dodi? Mamang cumalah menyampaikan, keputusannya ada di tangan kau. Asal kau tahu, wong iliran itu dak senang dengan wong uluan seperti kita ni. Dari dulu itu. Mamang sampai heran kalau saja kebencian wong kota kepada wong dusun terus berlangsung sampai sekarang. Apalagi Wong Palembang yang berduit.”


“Apa pun risikonya, aku tetap ingin melamar dia, Mang. Tapi aku ingin minta tolong sama Mamang dan keluarga kita lainnya.”


“Apa saja bakal Mamang beri untuk kebahagiaan keponakan Mamang.”


“Aku minta tolong, pas nanti melamar Masayu, Mamang bawa mobil yeh, terus aku minta tolong nian sama Bapak dan Ibu, pas di rumah Masayu nanti, kita tawarkan untuk beri duit yang banyak, maskawin yang mahal, dan biaya nikah yang besar. Dengan itu lamaran kita pasti diterima keluarga Masayu. Kalau kita tampil biasa-biasa saja, pastilah keluarga Masayu dak bakal nerima lamaran kita.”


Berkatalah Bu Salimah, “Ibu sarani, supaya kau dak berlebihan, Nak. Kita tunjukkan saja kita ini apa adanya. Usahlah menutup-nutupi.”

__ADS_1


__ADS_2