Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
24. Triple date


__ADS_3

Diamnya malam dihapus oleh sedikit keriuhan di sekitaran Kampung Sekanak. Di tangga Rumah Limas ini Rama dan Vio sedang asik ngopi dan merokok.


“Serius Dita marah sama aku?”


“Iya, tadi siang kami ngobrol-ngobrol di kantin. Gilo nian. Tadi Masayu yang traktir makan. Idak sia-sia aku dekat sama dia.”


“Apa kata Dita?”


“Katanya, kau itu cuma PHP. Terus kau tuh kurang ajar. Kau bakal diocehi oleh Dita kalau ketemu nanti.”


Vio menepuk jidat. “Mati aku!”


“Kau tuh pula. Mada’i ketemu sebulan sekali?”


“Ya sudah. Nanti aku beri dia seprais! Supaya dia dak marah lagi sama aku.”


“Emangnya kau mau beri surprise apa sama Dita?”


“Ngajak dia karoke. Terus nonton bioskop.”


“Maaatttiii… giiilooo! Duit dari mana kau, Jok?”


“Pecahi si ayam.”


“Ngambil duit tabungan kau? Yang dari SMA itu?”


Vio mengangguk. “Malamnya, aku pengen nyenangi dia. Malam Tahun Baru.”


“Gilo nian kau nih. Aih. Jangan berlebihanlah, Jok.”


“Biasa bae. Sekarang aku dak mau pelit, Ram. Sekali-sekali kan boleh ngajak dia senang-senang. Lagi pula aku mau balas jasa dia.”


“Aku pinjam duit kau yeh, Jok?”


“Untuk apa? Aih, bau-baunya dak enak ini.”


“Mau ngajak karaoke dan nonton bioskop sama Masayu.”


Sekonyong-konyong dan dengan kecepatan gigi empat lepas kopling Vio melengos. Rama melongok dan mengemis penuh.


“Ayolah, Bos,” rayu Rama sambil mengelus-elus pundak Vio, “katanya kawan?”


Vio masih bungkam.


“Please.”


“Plas-plis-plas-plis. Lemak nian kau.”


“Vi?”


Wajah Vio bertransformasi jadi jenaka. Mukanya lucu, seperti Jim Carrey sedang makan pempek kapal selam sambil menghirup cuko mulutnya kepedasan. “Pinjam berapa, Jok? Sebagai kawan, pastilah akan aku pinjami.”


“Ada bunganya?”


“Memangnya aku bibi-bibi rentenir penderita obesitas yang gendut-gendut dan hobi makan itu, ha?!”


“Oke, Bos. Bebas agunan, kan?”


“Rama… Rama… plislah. Aku bukan bank konvensional bersistem ribawi. Plis!”


“Thanks, Friend.”


“Tengs pren-tengs pren.Bulsid. Tahu kau apa artinya, ha?

__ADS_1


“I don’t understand.”


“Tidak tahu? Bodoh nian kau ni. Tolol… berarti sama seperti aku! Hm, sekarang kau mau berkilah. Mau mengesampingkan urusan pinjaman. Alibi!”


“Sudah… sudah! Pokoknya aku butuh kucuran dana, Jok, secepatnya, sebelum Tahun Baru ini.”


“Hepi nyu yer, kan?Agunannya, aku minta SK pengangguran yang dikeluarkan oleh walikota. Kau masih simpan, kan?”


Sekonyong-konyong Rama menjitak kepala Vio.


“Dan jangan lupa ceve. Terus pengalaman menganggur minimal satu tahun.”


Percakapan mereka berhenti ketika sepeda motor Kiagus berhenti di sekitar halaman rumah Rama. Terparkir tepat di samping si Karbon yang sedang terkapar. Dia menghampiri kedua kawannya.


“Pelayan. Sini!” Vio melambaikan tangan. “Kopinya satu lagi.”


Vio mengelak dengan cepat sebab Rama mau mengambil tindakan ekstrem dengan cara menjitak kepalanya untuk kedua kali. Hup! Seperti menjitak angin, Vio berhasil melewati serangan dengan fighting spirit tinggi itu.


Sempat-sempatnya Rama menggerutu sebelum masuk ke dalam rumah. “Rongsok nian mikroorganisme absurd yang berbahaya ini!”


“Wah.Bukan dobel ded, tapi tripel ded. Bukan main, Gus.”


“Apa memangnya, Jok? Ini malam kau nian sepertinya.”


“Siangnya kita jalan-jalan sama gebetan kita. Karoke dan nonton bioskop. Kalau perlu kita makan-makan di restoran mahal. Kita dak pernah kan makan-makan di restoran? Bosen makan nasi gemuk di kampung. Bosen juga makan nasi goreng lima ribu. Nah, Gus, malamnya kita rayai malam pergantian tahun. Mau?”


“Sip. Pasti.Triple date.”


“Kau nih polow-polow saja. Mau makan taik? Alangkah naïf kau ini. Polos nian.”


Kiagus malah terkikik. Kalau dia menyahut, Vio malah tambah asyik ngomel. Rama muncul dari pintu dengan membawa secangkir kopi hitam.


“Ini pesanannya. Selamat menikmati!”


“Nian?”


“Babu lebih tepatnya.”


***


Tiga gadis sedang berbincang di dalam ruang kos yang tak terlalu luas. Warna dindingnya hijau dan kuning. Inrterior yang tak banyak kandungan nilai seni. Mereka tak mematut-matut diri, melainkan bersolek ala kadarnya. Lalu sedikit eye liner untuk membuat pandangan lebih tajam. Cukup bedak tipis, oles-oles pakai tissue. Oke. Apalagi Masayu, dia hanya menyisir-nyisir poninya. Dia melihat wajahnya sendiri di cermin. Ada senyum mengembang. Mungkin senyum ini nanti akan dilontarkannya kepada Rama yang sebentar lagi bakal datang. Senyum istimewa.


Dita memakai kaos lengan panjang warna putih dan ada garis-garis pink. Devrieya memakai kemeja hitam yang ada motif-motif bunga. Sementara Masayu, mengenakan sweater hitam dan kaos berwarna pink. Mereka bertiga memakai aksesoris seperti gelang, kalung, dan jam tangan.Mereka bertiga tersentak ketika bunyi suara sepeda motor di jalan sana menyusup masuk ke dalam kos melalui ventilasi. “Itu sepertinya mereka,” kata Dita yakin. Di luar, Rama sedang bersandar di dekat pagar bersama Kiagus. Mereka berdua mendengar sayup-sayup, bukan, tapi lebih tepat kalau dikatakan kasak-kusuk dari ceriwisnya gadis-gadis di dalam.


“Ada orang sepuluh di dalam sana,” seru Vio.


“Ada acara nobar mungkin. Ramai nian sepertinya,” timpal Rama.


“Iya, ya, ribut nian mereka di dalam,” tambah si hitam manis.


Pintu membuka.


Masayu keluar terlebih dahulu dan diikuti dua gadis lainnya. Maka ketiga bujang ini seperti berada dalam acara fashion show. Waktu ketiga gadis melangkah dengan anggun, mata dari ketiga bujang ini tertumbuk pada setiap pesona yang luar biasa memukau. Rama terpana menyoroti keanggunan Masayu yang tampil biasa, tapi tak biasa. Vio memicing-micingkan matanya dan gugup tak terkendali. Kiagus menjadi lemah tatkala Devrieya sudah berhasil membutakan mata hatinya. Ketiga gadis bernuansa pink menjamu ketiga bujang bernuansa punk. Pink ‘n Punk!


Masayu mengawasi Rama dari bawah sampai ke atas: sepatu Vans hitam dan ada sentuhan merah, celana Levi’s yang pernah dibelikannya tempo hari dan kini makin sempit karena ukurannya telah diperkecil, ikat pinggang bermotif butiran-butiran baja seperti paku payung yang tertancap di setiap sisinya yang berkilau-kilau bila terkena cahaya, lalu kemeja lengan panjang hitam, dan… rambutnya makin panjang saja sampai poninya itu bila ditarik ke bawah maka melewati mulut. Oh, sepertinya Rama dan kedua kawannya bukan memakai eye liner, tapi hanya pensil alis. Di sekitar bulu mata mereka ada garis hitam yang tak terlalu terang. Pandangan mereka tampak tajam.


Dita mengawasi Vio dengan rasa tidak percaya sebab ada yang berbeda. Tak cuma mengawasi, Dita turut memegang-megang badan Vio, memeras-meras tanganya, dan memencet-mencet pipinya. Benar! Semua asli! Maka terperanjatlah Dita menyaksikan perubahan yang amat tak disangka ini. “Kau gemuk sekarang,” komentarnya sambil menjambak-jambak rambut Vio. Hanya lemparan senyum yang dikulum-dikulum yang bisa diberikan Vio ketika tadi dipuji oleh Dita.


“Habis sembuh dari tifus,” sembur Rama.


“Bukan, tapi kanker. Alias kantong kering,” balas Vio hangat.


Kiagus dan Devrieya mengulas soal acara berteleponan semalam. “Jadi bagaimana cerita mamang-mamang yang beli sandal untuk anaknya itu, yang balik lagi karena salah ukuran?”

__ADS_1


“Aku omongi saja sama mamang-mamang itu, untung bukan beli di mal, kalau di pasar ya tentu bisa ditukar.”


Pembicaraan mereka terhenti pas Masayu mengajak untuk pergi sekarang. “Sudah jam tiga. Sekitar jam empat filmnya mulai.”


Pas di jalan besar, setelah melewati jembatan kecil, pas di depan kantor cabang BCA, ada arah penunjuk jalan yang tertera di atas. Arah kanan: KOTA. Deruman sepeda motor mereka melewati Jembatan Ampera, lalu melewati Masjid Agung. Masuk Kecamatan Bukit Kecil. Setelah melewati Kambang Iwak mereka berbelok ke kanan. Kemudian di Jalan A. Rivai lurus sampai Simpang Lima. Palembang Square dan Palembang Icon tepat tak jauh dari kantor DPRD Provinsi


Tak dirasa mereka sudah masuk di parkiran mal. Berjubel-jubel sepeda motor yang sedang parkir. Pengunjung mal Palembang Square berduyun-duyun meninggalkan parkiran lalu masuk ke dalam mal. Cuaca bersahabat. Tidak mendung. Tidak pula panas. Sembari berjalan di tengah keramaian pengunjung, tepat di depan deretan konter yang menjajakan gadget keren, Vio berkicau, “Sampai sekarang aku heran. Sebenarnya ini rumah siapa sih? Ramai nian tamunya?”


“Coba kautanyai dengan siapa saja di sini, kira-kira ini rumah siapa?”


“Malu, Dita. Sudah, nikmati sajalah.Gus, ini namanya mal.”


Kiagus tak menghiraukan omongan Vio.


“Jadi pengen main,” kata Vio setelah mereka melewati Kantor Billiard.


“Kita pernah sekali kan main ke sini,” jawab Rama.


Siraman AC terasa di kepala mereka satu per satu tatkala kaki mereka menginjak lantai dari pintu masuk mal.


“Assalamualaikum….” Vio tertatih-tatih sambil membungkukkan badan. “Ram, Ram… kau juga Gus. Ayo buka sepatu!”


“Karbonat! Jangan malu-malui!” sergah Rama marah, tapi sebenarnya dia ingin ngakak.


Semua terang. Semua bercahaya. Semua bersih. Semua teratur. Bukan main. Jauh berbanding terbalik dengan suasana di Pasar 16 yang semrawut dan urak-urakan minta ampun. Bak langit dan bumi pokoknya. Di dalam sini tidak ada motor lewat dan menderum-derum, di Pasar 16 jangan ditanya, heboh! Kalau di sini tidak ada yang teriak-teriak “Sayang anak! Sayang anak!” atau “Obral! Obral!”, kalau di Pasar 16, jangan ditanya, kayak ada kampanye dari calon anggota dewan, ribut bukan main!


Kalau di sini tidak ada tawar-menawar dan bayarnya langsung di kasir, kalau di pasar tempat jualan Kiagus, yaitu lapak-lapak liar, wah, bukan main pokoknya, kadang pembeli dan pedagang seperti mau ribut dan adu jotos karena sama-sama tidak mau dirugikan. Kalau berada di dalam sini, nyaman sekali pokoknya, pasti betah, nah kalau di kompleks Pasar 16, keringat jadi seperti air mancur, deodorant dan parfum tak ada artinya lagi, dan panasnya sadis gila.


Namun, tetap, bagi orang Palembang, Pasar 16 Ilir tidak ada matinya dan tidak mungkin tergusur oleh keberadaan mal-mal dan pasar swalayan modern lainnya.


Pas mau naik escalator, sekonyong-konyong Vio menarik tangan Rama. “Awas, Ram, hati-hati! Ini kan dak ada di rumah kita. Jadi kita dak terbiasa. Eh… eh… awas nanti kaki kau terjepit!”


Tak dirasa mereka sudah tiba di lantai paling atas. 21. Ingar-bingar dari aktivitas pengunjung terlihat ramai. Poster-poster film yang ditempel banyak dipandangi oleh orang-orang, muda-mudi, yang berkelompok, dan yang berpasang-pasangan. Mereka bertiga tak perlu khawatir karena dompet mereka cukup berisi untuk hari ini. Kendala perekonomian pribadi tak perlu dipermasalahkan sebab semuanya sudah diatur tadi malam dalam rapat terbatas di tangga rumah panggungnya Rama. Hasilnya adalah Rama mengantongi uang lebih dari dua ratus ribu hasil top up dari Bank Vio. Estimasi dana dari Kiagus tiga ratus ribu. Dan Vio dengan nafsu memasang anggaran lebih dari setengah juta sebab dia kali ini benar-benar tidak mau dikatakan Wong Palembang Nian lagi oleh Dita.


Masayu bergerak maju untuk memesan tiket. Dalam rapat semalam, Rama sudah mengatakan bahwa pasti gadis limited edition itu yang bakal membayari semua acara nanti. Oleh sebab itu Rama mengajak Vio segera mendekati Masayu yang sudah berbincang dengan mbak-mbak manis penjual tiket.


“Untuk berapa orang?”


“Enam,” jawab Masayu. Barulah dia membuka dompet dan mengambil uang, Vio dan Rama berebutan ingin segera membayar.


“Biar aku saja,” kata Masayu, keningnya mengernyit.


“Kami saja yang bayar, Yu. Berapa mbak?”


“Tiga ratus ribu.”


Hah? Maaatiii… giiilooo! Mahal nian!


“Cepat bayar sana!” Rama mendorong-dorong Vio.


“Kamu berdua nih, diomongi aku saja yang bayar.”


Orang-orang yang sedang antre di belakang tiga orang itu terbingung-bingung. Melihat satu cewek dan dua cowok sedang bersitegang dan berebut bayar. Vio mengaparkan duit tiga ratus ribu rupiah dengan PEDE. Pas duit merah tiga lembar dikais oleh mbak-mbak cakep penjual tiket, akhirnya Vio dan Rama senang. Jangan sampai Masayu lagi yang merogoh dompet. Jangan sampai lagi bujang itu dikatakan buntu.


“Mau duduk di kursi yang mana?”


“Yu, Yu….” Kepala Vio maju-maju dan mulutnya juga maju-maju.


“D, seat belasan.”


Masayu mengambil enam tiket yang dipesan, lalu berlenggang santai meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan di sekitar koridor sambil celingak-celinguk memperhatikan poster-poster film yang ditayangkan sekarang dan yang coming soon.


***

__ADS_1


__ADS_2