
"Jangan takut, Dit.”
Mereka duduk di deretan kursi nomor 11 sampai 16. Rama-Masayu-Devrieya-Kiagus-Vio-Dita.
“Kuat nian kaupegang tangan aku, Vi.”
“Tenang saja, aku ada di sini. Jangan takut.”
“Iya, Vi, iya.”
Mendadak muncul pocong yang mukanya hancur. Bergemuruh seisi bioskop. Heboh.
“Aaaaaaaa!!!!”
Vio semakin kuat menggenggam tangan Dita. Dadanya naik turun dan napasnya seperti cerobong kereta api. Dia memejamkan mata karena tak sanggup menyaksikan film horor itu. Bioskop berubah angker! Menyeramkan!
“Aneh nian,” protes Dita, “kau nyuruh jangan takut, tapi kau sendiri yang takut.”
Vio mengelus dada setelah layar sudah aman. “Santai, Dit, santai.”
Suasana yang tadinya mencekam kini berubah jadi menegangkan. Inilah realitas perfilman Indonesia. Bilangnya film horor, tapi seksnya lebih dari tayangan horor. Pahalah, dadalah, bokonglah. Adegan-adegan 18 plus yang tidak senonoh dan amat dikecam MUI ini sudah membuat birahi nafsu dari cowok-cowok berotam mesum jadi mencuat tak terkendali dan mereka yang hatinya tak kuat menahan godaan jahat menjadi kelepek-kelepek dan terjengkang lemas. Maka senanglah para pejantan di sini. Tak tertinggal Rama, Vio, dan Kiagus.
“Huuu… huuu....”
Masayu menyeringai jengkel. Disenggolnya tangan Rama. Para cowok makin asyik waktu ada adegan berciuman mesra. Maka meledaklah kemeriahan di dalam ruangan ini.
“Waaahhh!!!” seru Vio, tangannya tidak lagi menggenggam tangan Dita.
Pikiran Rama melayang, wah, bioskop jauh lebih asyik dan seru dari apa yang aku khayalkan, rupanya.
***
Tiba-tiba smartphone Masayu bergetar. Panggilan dari papanya! Masayu menjauh dari Rama dan lainnya. Dia mendekat ke toko sepatu.
“Halo, Nak? Lagi di mana kau, Masayu? Ini sudah jam tujuh. Sudah malam. Pulanglah!”
“Pa, Ayu lagi jalan sama kawan-kawan. Kasih Ayu waktu yah. Please, Pa.”
“Tidak, Nak. Kau itu anak perempuan. Nanti kalau ada apa-apa sama kau, bagaimana? Pokoknya Papa tunggu, atau Papa jemput? Kau di mana sekarang? IP? PIM? PS?”
“PS, Pa. Pa, tolonglah, Ayu jarang nian ngumpul sama kawan-kawan terus jalan-jalan seperti sekarang ini.”
“Jam berapa kau mau pulang jadi?” Nada bicaranya menebar ancaman.
“Belum pasti, Pa. Nanti mungkin aku nginap di tempat kawan. Lagi pula besok libur, Pa.”
“Papa dak mau tahu. Pokoknya jam sembilan kau harus sudah ada di rumah!”
“Paa….”
TUUUT TUUUT TUUUT…..
Bagaimana acara pergantian tahun malam nanti? Apa dia harus membatalkan rencana yang sudah diatur? Apakah mungkin dia ingkar janji sama yang lain? Dia berjalan gontai menghampiri yang lain. Vio sedang kisruh soalnya dia sudah tidak sabar ingin makan di restoran.
Mereka makan di D’Cost. Nuansa oranye menyelimuti sekitar. Pakaian pelayannya juga berwarna oranye.
Pikiran Rama terbang, seolah dia sedang tidak berada di restoran, aih, rupanya restoran lebih keren dan bagus dari apa yang biasa aku khayali. Bukan main.
“Ada pempek dak yeh di sini?” celetuk Vio.
“Aneh nian kau nih. Aih, dak ada lah, Idiot,” sergah Rama. “Aku pesan model.”
“Aku celimpungan.” Kiagus mulai ikut-ikutan.
“Nasi goreng seafood saja,” cetus Dita.
“Sama,” balas Vio mengiringi ucapan Dita. “Nasi goreng siput.”
“Ram, kita pesan nasi putih saja yeh. Lauknya cumi goreng tepung dan sayurnya kangkung bawang putih. Oke?” Rama mengamini ajakan Masayu.
“Kita, pesan apa, Gus?”
“Terserah kau saja, Dev.”
“Kau saja yang pilih menu.”
“Aih, pokoknya aku senang apa yang kausenangi. Nianlah.”
“Kau kan laki-laki, Gus. Harus punya inisiasi dong. Masak nurut sama cewek?!”
Kiagus terkesiap. Malu, tapi dia coba tegarkan diri. “Mana pelayannya?”
“Nanti kita ambil selembar kertas kecil di sana. Di sana tertera apa yang kita pesan. Terus kita beri ke pelayannya,” jelas Masayu.
“Oh,” kata Kiagus. “Nasi putih, terus lauknya… udang… udang apa yang lemak, Dev?”
__ADS_1
“Terserah kau, Gus.”
“Bukannya dak punya inisiasi, tapi takutnya nanti kau idak suka apa yang aku pesani.”
“Udang asam manis saja. Sayurnya sama, kangkung bawang putih.”
“Bayarnya langsung?” tanya Vio.
“Nanti setelah makan,” balas Dita.
Masayu dan Dita beranjak ke tempat untuk memesan. “Minumnya es teh manis saja yeh. Sama,” ucap Masayu. Tak lama berselang mereka berdua kembali duduk ke kursi mereka tadi.
“Tadi papa aku nelepon. Emm… maaf yeh, sepertinya aku dak bisa ikut bareng kamu semua ngerayai acara Tahun Baru,” ucapnya sedih.
Sontak Rama kecewa. Dilihatnya wajah Masayu yang terlihat lesu dan tak bersemangat.
“Acara ini setahun sekali, Yu.”
“Tapi harus bagaimana lagi? Papa aku tidak ngijini.”
Mereka berenam bungkam. Suara perbincangan orang-orang di sekitar mengisi diamnya mereka. Rama berharap ada intuisi, atau ide yang datang secara akut, atau ilham yang melesat masuk ke dalam akalnya, supaya dia bisa berbicara sesuatu pada Masayu. Tapi otaknya buntu. Tak mampu berpikir jernih.
Bagaimana pun Masayu harus ada!
“Yu, nanti kalau papa kau nelepon lagi, aku yang akan bicara sama papa kau terus minta ijin agar kau bisa nginap saja di kos Dita malam ini.”
“Kau sudah gila, Ram. Kau dak tahu, papa aku itu orangnya tegas. Apalagi kalau ada cowok yang mau bicara sama dia. Tentang masalah seperti ini pula.”
“Yakinlah, semua akan baik-baik saja, Yu. Yakin sama aku.”
“Ram, aku jarang sekali keluar malam hari. Kalaupun aku pulang sekarang, papa aku pasti marah. Apalagi aku dak pulang nian.”
Rama terdiam. Tapi gagasan gilanya sudah basah. Jadi karena sudah basah, lebih baik tercebur nian sekalian!
“Aku yang tanggung jawab.”
Pesanan mereka tiba. Pelayan menaruh piring-piring di atas meja. Vio memperhatikan nasi gorengnya dan mengais-ngaisnya. Dia bingung. “Udang… cumi… emm… Dit, mana siputnya? Ya sudahlah. Perbaikan gizi lagi.”
Meskipun terlihat ceria, mereka, terutama Masayu, makan dalam suasana hati yang khawatir.Masayu berdiri dan berjalan ke kasir. Melihat itu, Rama mengajak Vio untuk segera membayar. Rama dan Vio berjalan ngebut menyusul Masayu sampai mereka berhasil memotong jalan Masayu. Masayu terheran-heran.
“Meja berapa?”
“Yang di sana itu.” Telunjuk Vio terpelanting ke arah meja tempat mereka makan tadi. Arah jam dua dari kasir. Beberapa saat gadis yang rambutnya berkuncir itu mengutak-atik komputer yang ada di hadapannya. Kasir bilang biaya makan mereka.
“Oh, biar aku saja, Ram.” Vio menyodorkan duit tiga ratus ribu. Kemudian dia menerima kembalian.
***
“Emergensi!”
“Lama dak?” tanya Dita. Dia berkacak pinggang sambil melempar pandangannya ke sekitar jalan. Sementara Rama dan Masayu masih stay di Jupiter MX, di atas trotoar Jalan A. Rivai.
Vio sibuk mengutak-atik si Karbon. “Bensin banyak. Aih, apa sih kendalanya? Rongsok! Selalu busi.”
“Papa…,” kata Masayu setelah merasakan getaran smartphone-nya di saku celananya. Lalu dia merogohnya dan… “Ya, Pa, Halo?”
“Pulanglah!”
“Sini,” kata Rama seraya mengulurkan tangannya. Kepalanya menoleh ke samping. Masayu menjauhkan smartphone-nya. “Janganlah, Ram. Nanti kau kena marah papa aku.”
“Yakinlah sama aku.”
Masayu memberikan smartphone-nya. Sebentar, Rama mengatur napasnya dan berpikir sejenak.
“Halo, Om?”
Sunyi sebentar.
“Siapa ini?” beliau terkejut mendengar suara lelaki dari teleponnya.
“Ini kawannya Masayu, Om.”
“Mengapa kau yang bicara sekarang?”
“Om, begini, sekarang saya lagi sama Masayu, baru pulang. Sekarang lagi di jalan. Saya bermaksud minta ijin.”
“Lancang nian kau. Siapa nama kau?”
“Saya… Raden Rama, Om.”
Sunyi mencekam.
Masayu mendorong-dorong Rama. “Apa kata papa aku?”
Rama menjauhkan smartphone. “Papa kau nanya, aku pacar kau bukan.”
__ADS_1
Dengan sembrono Rama menjawab, “Ya, Om, pacarnya Masayu.”
“Jaga Masayu baik-baik. Nanti suruh dia nginap di kos kawannya yang di Silaberanti itu, Raden. Jangan macam-macam.”
“Eee…,” Rama gelagapan. “Ya, Om, iya.”
“Besok pagi kauantar Masayu pulang ke rumah, Raden.”
Jadi heran Rama. Papanya Masayu bicaranya berubah pelan sekarang, tadi marah-marah.
“Ya sudah. Oom mau bicara sama Masayu.”
Rama memberikan smartphone itu pada Masayu.
“Kau hati-hati ya, Nak. Beri tahu Papa kalau pacar kau itu macam-macam.”
KLIK!
Rama mendengus, mengeluarkan napas berat. Dia harus menerima konsekuensi besar besok. Dimarahi? Atau bahkan lebih dari itu? Dia mesti bertanggung jawab atas omongannya dan juga berani menanggung risiko apa pun besok meski itu pahit sekalipun. Bukankah menjalani realitas meski pahit itu lebih baik dari pada menikmati dunia idea-idea yang berupa imaji dan ilusi menghanyutkan meski nyamannya bukan main?
Lima belas menit berlalu, si Karbon sembuh.
“Lanjut! DELAPAN ENAM!”
***
“Ram, kita parkir motor di rumah kau saja.” Suara Vio yang nyaring tertelan oleh suara deruman kendaraan dan klakson.
“Ide konyol! Bisa mati aku diocehi Bapak nanti.”
“Dak ada solusi lain lagi.”
Masayu mendekatkan kepalanya ke kepala Rama.
“Nanti aku yang minta ijin sama Bapak.”
Rama tak mampu berkata apa-apa lagi karena yang dilihatnya hanyalah kendaraan dan orang-orang yang ramai, hiruk. Di Jalan Merdeka, macet berat. Jalan tengah kota ini ditumpahi oleh ratusan kendaraan. Pejalan kaki juga turut menyesakkan jalan. Polantas dan petugas dari Dinas Perhubungan mengatur alur lintas jalan biar tidak macet. Sebagian alur jalan dialihkan oleh petugas.
Dengan bersusah payah mereka menerobos kerumunan kendaraan. Sebelum berada di depan kantor walikota, berputar ke kanan dan masuk ke Sekanak. Dan sampailah mereka di pekarangan rumah Rama. Masayu terkesima melihat Rumah Limas yang ditempati Rama dan keluarganya. Dia terpukau akan ihwal yang membuat hatinyanya tergetar. Masuklah Rama ke dalam rumahnya dan dilihatnya bapaknya sedang membaca kitab.
“Pak, di luar ada kawan-kawan Rama, nitip motor sebentar.”
“Kau mau lihat acara di BKB?” Beliau masih memakai baju koko dan sarung. Sementara istri dan anak perempuannya sudah terlelap tidur. Dilihatnya jam dinding dan hari sudah jam sepuluh malam.
“Iya, Pak.”
“Tidak usah, Ram. Nanti ada apa-apa di sana. Bapak takut. Jadi tidak usah.”
“Tolonglah, Pak. Dak enak sama kawan-kawan.”
“Ada Kemas dan Kiagus? Ajak kawan-kawan kau masuk dulu. Kau tuh harusnya bilang dari siang tadi, Nak.”
Raden Muhammad terkejut melihat ada anak-anak gadis yang masuk. Malam-malam seperti ini? Mereka mengucapkan salam lalu menyalami beliau. Raden Muhammad tambah terperangah pada saat memperhatikan busana-busana mereka. Beliau menatap Rama dengan tajam. Seolah ada ancaman yang menghunjam.
Vio duduk. “Mang Cik, kami mau lihat kembang api.”
“Masya Allah.” Beliau mengawasi gadis-gadis yang sedang duduk di ruang depan. “Di mana rumah kamu?”
“Nama aku Dita dan ini Devrieya. Kami nge-kos, Pak.”
“Dari dusun?”
“Iya, Pak. Dari Muara Enim.”
“Satu lagi?”
Masayu, yang sedari tadi celingak-celinguk memperhatikan seisi rumah dan dari tadi terkagum-kagum ketika masuk ke dalam rumah tradisional nan bersejarah ini, jadi kaget. Mendadak dia malu karena diawasi oleh bapaknya Rama.
“Saya… nama saya… Masayu Selly.”
“Orang Palembang berarti. Kamu semua diajak oleh Rama dan kedua bujang ini?”
Vio menyerobot, “Iya, Mang Cik. Kami yang ngajak mereka ni. Numpang naruh motor di sini. Terus jalan kaki ke BKB. He-he-he.”
“Anak muda zaman sekarang.” Beliau menggeleng. Selepas dari dapur Rama berjalan ke ruang depan dengan membawa cerek berisi air putih dan enam buah cangkir plastik, lalu ditaruhnya di atas meja.
“Kelewatan kau ini, Nak. Ngajak anak gadis orang malam-malam seperti sekarang ini. Apa kata orang nanti? Seolah Bapak dak ngajari kau, Nak.”
Mereka berenam bergeming. Masayu memecah kesunyian itu. “Pak, kami dak bisa pulang soalnya Jembatan Ampera ditutup. Tolong ijini kami.”
Berjalanlah Rama, Masayu, Vio, Dita, Kiagus, dan Devrieya dari Sekanak menuju plaza Benteng Kuto Besak. Sebab di sanalah pesta kembang api akan digelar. Ramai warga Wong Kito, mulai dari anak-anak kecil, remaja, dewasa, hingga orangtua pergi ke BKB. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Vio berceloteh, “Gus, coba kalau kau tidur dari sekarang. Terus bangun jam satu nanti. Jadi sama saja kau itu tidur setahun!!!”
Ribuan umat tumpah ruah di Jalan Merdeka, Jalan Sudirman, sekitar Bundaran Masjid Agung, sekitar Monpera, sekitar Pasar 16 Ilir, bahkan di Seberang Ulu, yaitu di Kampung Cina dan Kampung Arab. Jembatan Ampera untung kuat menahan beban orang-orang yang berada di atasnya. Di sekitar Museum Sultan Mahmud Badaruddin II sesak oleh ratusan anak Adam. Dan ribuan manusia berjejal-jejal di pelataran BKB.Masayu agak menjauh sebab dia sedang membaca chat yang masuk dari Dodi. Di BBM, dia baca apa yang dikatakan pacarnya itu. Kata Dodi, dia lagi kumpul bareng dengan kawan-kawan kuliah di kos-kosan kawannya di Bukit Besar. Kalau lagi kumpul sama kawan-kawannya, pasti lupa sama aku. Dia mematikan smartphone-nya karena kesal.
Tepat pukul 00.00!
__ADS_1
Uiiinggg!!! Cetar!!! Cetar!!! Cetar!!!