Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
40. Cerpen


__ADS_3

Rumah Limas yang megah.


Tok! Tok! Tok!


Pintu membuka.


“Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


“Dik, ada Rama?”


“Katek. Ayuk ni, kawannya Kak Rama, yang pernah main ke sini, kan?”


“Iya, betul. Ayuk mau ketemu kakak kau, Dik. Di mana dia sekarang?”


“Dak tahu, Yuk. Biasanya jam sekarang ini dia di studio sama Kak Vio dan Kak Agus.”


“Tadi Ayuk sudah ke sana, tapi dak ada. Nomornya dak aktif pula. Apa dia ganti nomor, Dik?”


“Dia masih nomor yang lama, Yuk. Kak Rama tuh, biasanya nongkrong di Kambang Iwak, di rumahnya Kak Vio, kadang juga di rumahnya Kak Agus. Coba-coba Ayuk ke sana.”


“Iya, Dik, makasih.”


“Masuk dulu, Yuk.”


“Ayuk langsung saja. Mau beli oleh-oleh. Soalnya besok mau berangkat ke Jakarta.”


“Beli pempek, Yuk? Emang mau liburan yeh Yuk ke Jakarta?”


“Iya beli pempek. Ayuk mau lanjut kuliah. Kebetulan ada keluarga di sana.”


“Beli pempek di Pasar Dua Enam saja, Yuk. Murah, terus lemak pula.”


“Oh, ya. Kau kuliah di mana?”


“Di Unsri, Yuk.”


“Yang rajin kuliahnya. Nanti sampaikan salam dari Ayuk. Omongi saja dari Masayu. Ayuk pulang. Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumussalam. Hati-hati, Yuk.”


Masayu meninggalkan Sekanak. Satu-satunya orang yang ingin ditemuinya sebelum berangkat hanyalah Rama. Namun keinginannya gagal. Motor matic itu berhenti di depan salah satu toko pempek. Sesaat Masayu merapikan rambut Emo-nya dan melihat wajahnya di kaca spion. Masuklah gadis yang mengenakan sweater pink itu ke dalam toko. Masayu berbicara dengan seorang gadis berkerudung pink.


“Pempeknya yang isi lima puluh. Campur. Taruh di kotak.”


Secara tidak sengaja Masayu menoleh ke salah satu meja di dalam toko dan terkejut melihat sosok bujang itu. Tidak asing baginya. Sesaat, dia mengedip-ngedipkan matanya. Pandangannya tertumbuk pada bujang itu, terus, sampai dia benar-benar yakin.


“Rama…,” panggilnya seraya berjalan mendekat kepada Rama.


Rama mendongak, dan… dia tersentak melihat kehadiran Masayu. Dia melihat senyum itu. Senyum istimewa.


“Apa kabar, Ram?”


Rama mendadak gugup. “Baik. Kau apa kabar?”


“Baik. Beli pempek juga?”


Rama menggeleng.


“Tolong ambili kotak untuk wadah pempek itu, Ram.”


“Sebentar, Nyayu.”


Mendadak Masayu diam seribu bahasa. Masayu menoleh ke belakang dan memandang wajah Rama sebelum keluar toko. Ingin rasanya dia berbincang banyak dengan Rama, namun apalah dayanya dia sekarang. Cukup melihat Rama saja. Sudah puaslah hatinya. Ingin pula dia mengucapkan salam perpisahan. Tapi tak sanggup dia mengatakannya.


***


Mendadak lantai dari papan kayu bergetar. Suara derap langkah itu berasal dari kamar Ayu. Terus bunyi hentakan itu beringsut ke ruang tengah. Rama dan ibu-bapaknya marah karena Ayu berlari seperti dikejar anjing. Dengan muka serius Ayu berkicau seru kepada kakaknya.


“Ayuuuu… kau ni, Nak.”

__ADS_1


“Nanti dulu, Bu, ngocehnya. Ayu dululah yang ngoceh. Kak Rama, Ayu ada informasi yang menarik, up to date, dan bakal jadi trending topic di media sosial apa pun. Tahu dak, Kak, tadi siang ada gadis cakep yang berpakaian pink, terus dia minta disampaikan salam kepada Kakak. Terus katanya, dia besok mau berangkat ke Jakarta.”


“Masayu?”


“Anak pintar!”


***


Belumlah ayam berkokok, Rama segera ke perumahan OPI. Rama memencet bel dengan kesetanan. Pintu membuka. Rama mendadak ingin masuk. Tapi dia terkejut dan memundurkan badannya.


“Raden?”


“Iya, Tante.”


Siti cemberut.


“Eh. Iya, Cek.”


Siti tersenyum mekar. “Mau ketemu Masayu, Nak Raden?”


“Iya, Cek, iya. Mana Masayu, Cek?”


“Dia sudah pergi ke stasiun, naik taxi.”


“Hah? Nian, Cek?” Rama tidak yakin.


Rama berpamitan. Langsung bergegas. Dia buru-buru. Usai memarkikan sepeda motornya dia pontang-panting berlari terbirit-birit. Rama menebarkan pandangan. Mencari Masayu. Dia mondar-mandir, kebingungan, belingsatan, ke sana-kemari, terus mencari Masayu. Apa mungkin kereta sudah berangkat? Sedih bercampur harap kian membuat Rama tambah menjadi cemas. Berulang kali dia salah orang karena dia menebak itu Masayu, tapi rupanya bukan.


Dari kejauhan terlihat seorang gadis, sendirian, sedang menyeret sebuah koper besar hendak meninggalkan halaman luar. Dari belakang saja, dari tatanan rambut yang menjulur ke belakang, apalagi kaos yang bertuliskan “Emo Girl” itu, ditambah cara berjalannya, maka Rama meyakini bahwa itu adalah Masayu. Dia berlari. Petugas stasiun dan orang-orang di sana heran melihat seorang laki-laki berlari dengan tergesa-gesa. Ada mereka yang tahu bahwa itu adalah vokalis Philosophie.


Masayu berhenti. Dia merasa ada yang memanggilnya. Lantas dia menoleh ke belakang dan menyaksikan seorang bujang mendekatinya. Mendadak pegangan koper terlepas dan tas kecil yang dijinjingnya terjatuh. “Rama…,” desisnya.


“Jangan tinggali aku, Masayu.”


“Ngapa, Rama? Siapa gadis yang di toko kemarin, Ram?”


“Cuma kawan dekat, percayalah, Yu.”


“Kau dak bohong?”


Masayu tak tahan. Air matanya mengalir.


***


Malam harinya Rama shalat Maghrib di 26 Ilir. Seperti kemarin-kemarin. Dia sudah berjanji akan bertemu dengan Nyayu di sekitar langgar.


“Andai kau tahu masa depan, apa kau akan mengubahnya?”


“Semua sudah tertulis, Rama. Kita hanya ditugaskan untuk berusaha dan berdoa.”


“Apa nama jodoh kita sudah tertulis?”


“Kalau Tuhan menakdirkan dari awal sampai akhir, itu kehendak-Nya. Dan kalau pun Tuhan menyuruh kita untuk memilih, itu juga kuasa dan kehendak-Nya.”


Rama menjawabnya dengan senyuman.


“Kau terlalu baik dan pintar untuk aku, Nyayu. Dak pantas nian kalau aku dekat dengan kau.”


“Janganlah merendah seperti itu.”


“Aku hanyalah seorang bujang lusuh, bukanlah pangeran, apalagi raja, yang sedang Bidadari cari sekarang ini. Terbanglah, terus mencari.”


“Jago nian kau sastra. Siapa yang ngajari?”


Masayu. Itu litotes.


“Rama… kau ngelamun?”


“Eh… eh. Ada pokoknya gurunya.”


***

__ADS_1


Pagi…..


Kiagus tidak lagi was-was atas keberadaan Pol-PP di Pasar 16 Ilir. Kalau dulu dia selalu membuka lapak jualannya pas menjelang siang, sekarang jam sembilan tokonya sudah buka.


“TOKO SEPATU DAN SANDAL KIAGUS”


Tulisan itu tertera di atas pintu masuk sebuah ruko. Di dalam, Devrieya sedang merapikan barang dagangannya.


***


Siang….


Kamar tidurnya berantakan seperti kapal pecah. Dia malas sekali bangkit dari tidur. Berulang kali dia menguap. Sebentar dia duduk. Lalu telentang lagi di atas kasurnya yang bau liur. Dari pagi tadi jendela kamarnya tertutup. HP-nya bergetar lagi. Ini adalah panggilan dari Dita yang kelima puluh satu. Tapi tak kunjung Vio mau mengangkatnya. Sebab Vio tahu itu adalah panggilan darurat menyuruh bangun, jangan bermalas-malasan, mandi, cepat-cepat cari gawaian. Pas panggilan ke-72 barulah Vio menekan tombol hijau.


“Ha… ha… looo?”


Dita yang baru saja pulang dari mengajar di salah satu SD di Muara Enim jadi berang. “Kau mati suri, Sayang?”


“A?”


“Cepatlah mandi sana!”


Vio bergumam tidak jelas. “Cerewet nian, judes. Aku jahit nanti mulut kau”


“Bangunlah, cepat mandi! Kan sudah tiga tahun dak mandi.”


“Tiga abad, Sayang.”


“Bau mulut kau tuh sampai ke sini tahu, dak? Aih, busuk nian.”


Setelah mandi pagi pukul 12.00 dan sarapan pukul 13.00, barulah Vio terkena cahaya matahari. Dia berjalan kaki di sekitar kampungnya. Meski agak terkenal sebagai bassist Philosophie, tapi reputasinya jelek dan popularitasnya luntur lantaran sampai sekarang kerjanya masih saja di rumah makan.


“Oi, Jok, nak ke mano?” tanya Asep yang sedang nongkrong di sudut kampung.


Vio melontarkan senyum mekar kepada kawan-kawannya di Kampung Dua Enam. Selain ada Asep, ada juga Randi, Bobi, dan Kak Cik Yusuf.


“Ado gawe.”


Kak Cik Yusuf berujar, “Wong Palembang nian kau ni. Kalu ditanyo nak ke mano, pasti ado gawe.”


***


Sore…..


“Dulu Bapak dan Ibu berjalan seperti ini dari Sekanak ke Pasar Enam Belas. Tapi dulu BKB dak sebagus seperti sekarang. Mungkin lebih indah dulu sepertinya, karena suasana Palembang asri lebih terasa nian.”


Air sungai pasang sebab sekarang sudah di pengujung Desember. Sore ini langit cerah meski sekarang musim penghujan. Bujang berbusana ala punk dan gadis berbusana ala pink itu duduk di pinggiran pelataran BKB sambil mengawasi air yang terus mengalir. Air yang kuning kecokelatan. Perahu ketek di sana jadi terpantul-pantul karena dilamun gelombang kecil.


“Satu lagi yang belum tercapai, berdagang. Itulah harapan Bapak.”


“Aku boleh panggil kau Raden?”


“Jangan, Yu. Raden itu adalah tinggi. Dak pantas nian aku dipanggil dengan sebutan itu. Kan pernah aku omongi sama kau.”


“Iya, Rama.”


“Vio, nama dia itu adalah Kemas Alvio. Dia juga dak mau nian dipanggil Kemas karena malu. Malu karena dia adalah orang biasa. Seperti aku, dia merasa dak pantas dipanggil dengan sebutan gelar itu. Dan Kiagus, kalau dia ada nama depan, misal namanya Ahmad Kiagus, pasti dia pengen dipanggil Ahmad. Atau kalau namanya Kiagus Prima, lebih baik dia dipanggil Prima. Atau kalau namanya Kiagus Ucok, aku yakin dia rela dipanggil Ucok.”


“Kau ni bisa nian, Ram.”


“Raden adalah gelar untuk anak laki-laki dari perkawinan seorang Pangeran dengan anak perempuan seorang Pangeran. Dak sembarang orang bisa punya gelar itu. Istri dari Raden disebut Ratu. Istri-istri dan anak-anak gadis dari Pangeran atau Raden disebut Raden Ayu, yang berarti cantik. Sementara Masagus adalah gelar yang dimiliki oleh laki-laki dari perkawinan seorang Pangeran atau Raden dengan gadis dari golongan rakyat; tapi Sultan Lemabang waktu itu menentukan bahwa laki-laki itu juga bergelar Raden, bukan Masagus. Untuk Masayu, yang bermakna si cantik yang banyak harganya, itu adalah gelar untuk istri dan anak gadis dari seorang laki-laki bergelar Masagus. Pangeran, Raden, dan Masagus adalah termasuk golongan priyai di tempo dulu.


“Sementara untuk golongan rakyat, dibagi jadi tiga golongan, yaitu Kiai-mas atau Kemas, Kiai-gus atau Kiagus, terus rakyat jelata. Kemas itu, gelar untuk laki-laki dari perkawinan Masayu dan laki-laki dari rakyat jelata. Kalau Kiagus, itu anak laki-laki dari turunan Raden yang terendah. Di Palembang ada empat gelar yang lebih dikenal, yaitu Raden, Masagus, Kemas, dan Kiagus. Tapi itu berlaku dulu. Sekarang orang-orang menjadikan gelar terhormat itu sebagai nama anaknya dengan sekendak hatinya saja. Terus dak tahu apa makna dari nama itu. Ada orang punya nama Raden misalnya, atau punya nama Kiagus, tapi dia dak tahu asal-usul sebutan itu, bahkan dak tahu sama sekali nilai sejarah dan budaya dari sebutan itu. Banyak nian wong yang bangga jadi Wong Palembang. Apalagi punya nama yang identik dengan Palembang. Tapi sayang, mereka dak tahu apa makna dari sebutan nama mereka. Yang penting bagi mereka punya gelar. Parahnya, gelar terhormat itu dengan bebas diberikan kepada anak keturunan mereka walau mereka dak lahir dan besar di tanah ini. Parah nian pokoknya.Palembang ni kaya nian dengan nilai sejarah dan budaya. Kita saja yang dak mau tahu.”


“Katanya mau cerita soal Palembang. Terus Sungai Musi.”


“Yu, aku salut dengan kampung aku, kota aku, dan negeri aku ni. Salut nian. Alangkah pintarnya wong waktu dulu. Bagaimana mereka bisa menentukan Palembang sebagai Ibu Kota, padahal waktu itu dak ada teknologi semaju sekarang ini. Kita sekarang ni belum tentu punya pikiran seperti wong zaman dulu. Lihatlah, pintar nian mereka, menjadikan tempat ini sebagai pusat, karena letaknya strategis nian. Penjuru dari delapan arah mata angin dan Sungai Musi ni penjuru dari delapan anak sungai yang membentang di sekitar Sumatera Selatan. Orang yang berlayar dari Jawa melalui jalur laut, kalau mau ke daerah pedalaman, harus melewati Palembang. Seperti itu juga sebaliknya. Terus, di Palembang ada lebih dari seratus anak sungai yang mengalir tepat di tengah kota. Karena itulah Palembang jadi pusat perdagangan. Itu semua jadi bukti kuat kalau dulu Kerajaan Sriwijaya pernah ada di Palembang.”


Rama kemudian berkisah tentang Kampung Cina, tepat di hadapan mereka sekarang, di seberang sana yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Lalu bercerita tentang Kampung Arab dan menjelaskan tentang rumah-rumah berarsitektur ala Belanda di sekitar Bukit Kecil. Katanya, Belanda tidak selamanya mendirikan pemerintahan kolonial yang identik dengan perbudakan, tapi karena kedatangan Belanda-lah, Palembang lebih sedikit tertata dan berkembang, salah satunya adalah Instalasi Pengolahan Air di 3 Ilir peninggalan Belanda, sampai PDAM Tirta Musi berkembang pesat seperti sekarang.”


Rama melemparkan telunjuknya ke arah Seberang Ulu. “Di sana Satu Ulu.” Dia menggeser arah telunjuknya terus ke kiri. “Dua Ulu, Tiga/Empat Ulu, Lima Ulu, sampai ke timur, Empat Belas Ulu.” Rama menunjuk arah kiri darinya. “Di sekitar Pusri, Satu Ilir, terus di pinggiran Sungai Musi, sampai di 16 Ilir. Di sini….” Kemudian dia menunjuk ke kanan. “Sekanak, terus Tangga Buntung. Di sanalah kampung-kampung asli Palembang.”

__ADS_1


“Aku jadi ingat cerpen karya Mama. Aku ingat kalimat-kalimat di akhir cerpen itu: Air Sungai Musi terus mengalir menuju hilir, kisah Raden dan Masayu terus bergulir hingga napas berakhir.”


Tamat.


__ADS_2