Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
7. Ikut kontes


__ADS_3

Orangtuanya sedikit lebih beruntung daripada orangtua Rama dan Vio. Bisa dilihat bahwa sekarang dia dimodali oleh bapak-ibunya untuk membuka usaha. Bapak-ibunya memiliki usaha ukiran khas Palembang yang berada tak jauh dari Masjid Agung, tetapi usaha tersebut tak sepadan dengan kebutuhan keluarga, apalagi untuk membiayai kedua kakaknya Kiagus yang sedang kuliah di Jawa sana.


Usaha kecil-kecilan ini diharapkan mampu untuk membuat Kiagus hidup mandiri. Sebenarnya dia disuruh oleh bapak-ibunya berdagang semenjak tamat dari SMP. Tapi dia tidak mau dan ingin tetap melanjutkan sekolahnya. Mana mungkin dia hanya punya ijazah SMP. Sekarang setelah tamat SMA dia mulai melaksanakan apa yang diamanahkan oleh bapak-ibunya.


Mereka berdua dengan gesit menyalami kawannya yang tampak atletis itu. Mereka duduk sebentar di dekat tumpukan karung. Lapak mereka persis di depan sebuah toko sepeda. Dan di depan toko ada lagi penjual buah yang menumpang di sana. Maka dari itu jalan di depan toko jadi tambah sempit saja. Sementara lapak jualan Kiagus turun ke badan jalan untuk lalu-lalang. Sebentar lagi matahari akan berada di atas kepala. Mereka menebar terpal biru di atas lapak untuk membuat suasana sedikit lebih teduh. Rama dan Vio mulai membantu Kiagus menyiapkan barang dagangannya. Sepatu dan sandal disusun rapi di atas meja. Ada juga kotak sepatu yang dipajang.


Terik mengintai, pengunjung pun ramai.


Kalau pembelinya gadis muda nan cantik jelita, Vio yang paling bersemangat dan getol untuk melayani, tapi kalau yang belinya laki-laki, malas sekali rasanya. Mereka berteriak-teriak menyuruh pengunjung pasar mendekat ke tempat jualan mereka. Tepat di sebelah kanan dari lapak mereka adalah penjual baju dan celana. Lelaki yang memiliki seringai Palembang nian itu tampak galak bukan main.


“Limo poloh! Limo poloh!” serunya pakai TOA.


Suaranya melengking-lengking menyesakkan isi pasar.


“Obral! Obral! Limo poloh! Limo poloh!”


Ada ibu-ibu bersama dua orang anak bujangnya mendekat ke lapak Kiagus. Vio dengan amat teramat semangat menyambut pembeli perdana itu.


“Apa, Bu, sepatu? Sandal? Untuk anaknya?”


“Iya nah, pengen cari sepatu untuk sekolah anak Ibu,” balas perempuan yang memakai jilbab merah itu sambil memilih-milih sepatu yang bagus dan pas untuk anak-anaknya.


“Karena ganteng, anaknya pas kalau makai yang ini, Bu. Dijaminlah.”


“Bisa nian merayu.”


Vio memberikan sepatu hitam ukuran 35. “Coba dulu. Kalau pakai yang ini,” ujar Vio dengan raut wajah serius tapi lucu, “adik bakal jadi ganteng seperti kakak yang itu. Cobalah.” Telunjuk Vio terpelanting tepat ke arah Rama yang lagi melongok.


“Wong Palembang nian kau ni, Dik. Pintar berkelakar.”

__ADS_1


Perempuan itu mencobakan sepatu yang tadi dikasih oleh Vio kepada anaknya yang baru masuk SMP. Beberapa saat anak kecil itu agak kesusahan memasangnya, tapi dengan lembut Vio membantunya.


“Jadi mirip Vino Bastian nah.”


Remaja itu senyum-senyum dipuji mirip aktor terkenal. Padahal dia baru pertama kali mendengar nama itu.


“Berapa, Dik?”


Vio menoleh ke belakang dan menatap Kiagus. Lalu menaikkan kepalanya dengan cepat, seolah bicara “Berapa?”


Kiagus berdiri, “Kalau yang itu, enam lima, Bu.”


“Kurang, ya?”


“Lima puluh.”


“Berapa jadi Ibu mau? Soalnya untungnya dikit.”


“Empat puluh.”


Kiagus diam sejenak. Vio pun tak banyak omong lagi kalau sudah masalah tawar-menawar. Sebenarnya dia paham masalah di dunia perdagangan. Namun sekarang ini dia tidak punya wewenang sedikit pun untuk menentukan harga karena ini adalah usaha milik kawannya.


“Empat lima.” Tukas Kiagus.


Dan uang sembilan puluh ribu dikibas-kibaskan oleh Kiagus ke barang-barang jualannya.


“Laris manis. Laris manis.”


Sering Kiagus membelikan kedua kawannya makan dan minum selama berada di pasar. Berulang kali Vio dan Kiagus meladeni sejumlah pembeli. Terkadang dagangan mereka laku, kadang orang-orang hanya bertanya dan menawar-nawar, lalu pergi dari sana. Mereka juga mesti sabar untuk melayani setiap pembeli.Rama tengah duduk tersandar. Matanya kosong. Tak seperti biasanya. Kali ini dia tidak mau melayani pembeli. Vio mengawasi Rama dengan pandangan aneh.

__ADS_1


“Sepertinya kau kerasukan Jin Diam sekarang ini, Jok?” serunya heboh.


Rama bergeming, hanya mengulum senyum.


“Sepertinya nasi bungkus dan es kacang merah sangat kauperlui sekarang ini untuk menginvasi lambungmu yang lapar, Ram.”


Rama masih saja diam.


“Sebaiknya kau dirukiyah saja, Jok, untuk ngusir Jin Diam itu.”


Rama mulai tersenyum-senyum.


“Dak baiklah melamun-lamun di pasar. Kalau mau cari cewek, nanti, tenang saja, orang yang berpengalaman dalam urusan percintaan, aku, bakal bantu kau, Jok. Nyantai sajalah kau tuh.”


“Kalau masalah cewek, itu kecil,” ujar Rama memperlihatkan ujung kuku dari kelingkingnya yang ditempeli ibu jari. “Kautengoklah, ganteng siapa coba?!”


Vio menunduk malas. “Iya, iya, nenek-nenek buta saja tahu kalau kau itu ganteng, Ram.Dari tadi kau itu melamun saja. Gerangan apa, Kawan?”


Rama memandangi Vio dan Kiagus berganti-ganti. “Aku pengen kita nge-band lagi.”


Vio mengembuskan napas penasaran karena tadi sempat tertahan untuk menantikan Rama angkat bicara. Mendengar itu, tentulah Kiagus senang bukan main. Sudah lama dia tidak bermain drum lagi. Vio memegang bass, sementara Rama selain sebagai gitaris, juga selaku pengisi vokal.Waktu SMP dulu band mereka adalah band yang paling top dan beken sebab mereka mampu membuat semua penonton berdecak kagum lewat lagu punk yang mereka bawakan di atas pentas. Masa SMP dulu adalah masa keemasan mereka. Namun band mereka mesti bubar karena Kiagus masuk ke SMA yang berbeda dari Rama dan Vio. Ketika SMA Rama dan Vio sudah jarang bertemu dengan Kiagus.


Tiga tahun lebih dirasa waktu yang lama sehingga sekarang dirasa mereka mesti mengulang dari nol lagi perjalanan mereka untuk membangun sebuah band. Tak pernah disangka bahwa ada mereka yang senang bermain gitar dan bernyanyi, tapi tak mampu bermain bass. Ada pula si bassist suaranya sangatlah false dan tidak pernah menyentuh stik drum. Dan ada pula si drummer tak bisa bernyanyi dan bermain bass. Pertemuan tak terduga mereka waktu masih berseragam putih-biru itu merupakan bukti awal, bahwa sekarang adalah jalan untuk mereka ke arah mengejar impian yang sempat tertunda.


Banyak orang di dunia ini yang mempunyai kesenangan berbeda, sehingga kadang menimbulkan sedikit masalah. Misalnya, si penghobi musik pop yang cengeng bakal mengejek si penghobi musik punk yang keras. “Lagu-lagu kau ini susah didengar semua!” atau “Sok kebaratan pula!” atau juga “Pusing kepalaku dengar lagu-lagu kau ini!”Tak dinyana, dari nge-band bareng waktu SMP dulu itu telah membuat mereka terangkai dalam tali persahabatan yang terikat dengan erat sehingga mereka paham dalam menjalin sebuah perkawanan.Mereka bertiga serupa merpati yang terbang, tapi tak mampu terbang jauh lagi tinggi, sebab mereka tak mampu untuk itu.


Laksana unta di bentangan luas padang pasir yang seolah tak bertepi mereka bertiga itu, merasakan payah di tengah gemuruh terik dengan tirisan nestapa, mencoba mengangkangi terpaan badai petaka, untuk mencari batas-batas hidup, untuk merasakan oasis nan permai. Mereka bertiga seamsal rombongan tikus yang menggerogoti kayu-kayu di rumah panggung, membuat celah-celah kecil kehidupan agar mereka tetap terus bergerak dan bergegas, terus mencari jalan-jalan kecil yang sulit diketahui kebanyakan orang, lalu kembali menggerogoti kayu, batu, dan apa jua pun yang bakal menghalangi jejak langkah mereka dalam mengarungi jalan hidup nan tak pasti.


“Kita harus ikut kontes!” sorak Rama.

__ADS_1


__ADS_2