Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
35. Punk City


__ADS_3

“Dulu aku sering diajak Almarhum mancing. Keluarga kami dak pernah makan ayam kecuali pas Ramadhan dan Lebaran, Ram, Gus. Kami selalu makan ikan. Belida, gabus, tenggiri, sepat, lele, teri. Ah, ikan, ikan, ikan. Jangan ngaku Wong Palembang kalau dak hobi makan ikan.”


“Pas masih kecil aku sering lihat kau dengan Almarhum mancing di pinggir Sekanak. Aku kira bocah kecil ingusan kurus kering itu bakal jadi umpan.”


“Sadis kau, Ram.” Vio bergumam. “Aku jadi ingat Bapak. Aku sayang nian sama Bapak. Kami dak pernah beli ikan di pasar. Kami selalu mancing. Kalau Bapak sakit, aku yang mancing sendirian. Aku bisa berenang karena Bapak yang ngajari. Dia adalah lelaki tangguh.”


“Kalau nanti bertemu Almarhum, kau mau apa, Jok?”


“Akan aku ajak Bapak untuk memarahi orang-orang yang sudah mengotori Musi. Bapak pasti tambah terkejut karena melihat Musi makin sedikit ikannya kalau dibandingkan waktu beliau masih kecil dulu.”


“Semoga. Dan Semoga Sungai Musi seperti dulu lagi. Kakek-buyut kita hidup dengan Musi. Mereka berperahu di atasnya. Berpergian di atasnya. Mandi dengan airnya. Dapat ikan darinya. Berdagang di atasnya.”


Vio melempar tali pancingnya lagi. “Aku kangen pas waktu masih kecil. Desember dan Januari. Air pasang besar. Mandi di sungai pas sore hari. Main kejar-kejaran. Tidur-tiduran di atas ban karet dan mengambang dibawa arus. Menyelam berlama-lama. Sampai terminum-minum airnya.”


“Sekarang kita dak bisa lagi melakukan semuanya. Sungai Sekanak dan anak-anak Sungai Musi yang lain sekarang sudah jadi parit. Mana mungkin kita mandi air kotor. Kakek-kakek kita pernah bilang, suatu saat anak-anak Sungai Musi dak akan ada lagi.”


“Kasihan generasi sekarang. Apa mereka bisa berenang? Ah, jangan ngaku Wong Palembang kalau dak bisa berenang.”


“Kakek kita dulu kalau mau pergi ke mana-mana menggunakan perahu. Tak ada jalan kecuali sungai dan tak ada alat transportasi kecuali perahu. Rumah-rumah panggung menghadap sungai. Kebanyakan rumahnya becagak.”


“Jangan ngaku Wong Palembang kalau rumahnya dak becagak.”


Rama terus memandangi Sungai Musi. “Sekarang anak-anak sungai banyak ditimbun dan dijadikan jalan beraspal. Sekarang Palembang dak layak disebut Kota Sungai. Bukankah tempat kita ini pernah mendapat julukan Venesia dari Timur?”


Mereka bertiga pulang dengan membawa tiga ekor ikan sebesar telunjuk. Sangat tidak berharga jika dibandingkan dengan ikan yang didapat bapak-bapak mereka beberapa dekade silam.


“Jadi kau sudah dak lagi begawai di toko Mang Cik Mamat, Ram?”


“Sudah seminggu aku berhenti.”


***

__ADS_1


Mereka mempersiapkan segala sesuatu keperluan untuk manggung lagi di kafe. Uang dari jeri payah dan buah karya tersebut mereka gunakan untuk membeli pakaian dan aksesoris. Album mereka berisi tiga lagu, yaitu Palembang Punk City yang jadi hits, Bergegas, dan Hidupku Khayalku. Dari album pertama itu telah membuat mereka dikenal oleh kalangan pencinta musik punk di Palembang dan juga sebagian di Tanah Air. Lebih dari itu, nama band mereka mulai bersaing dengan band-band indie terkenal di Nusantara bahkan mulai menyetarai reputasi dan popularitas band sekasta Marjinal dan Rosemary.


Melalui bantuan dari Dita, Devrieya, dan Masayu yang turut memperkenalkan band mereka melalui media social, popularitas mereka mulai melambung sehingga fans mereka bertambah banyak. Kendati begitu, mereka tetap seperti mereka yang dulu dan tidak mau sesumbar dengan apa yang telah mereka dapatkan. Mereka bahkan mau duduk dan nongkrong bersama anak-anak punk di Kambang Iwak dan BKB. Tak segan mereka membelikan makanan, minuman, dan rokok kepada para pencinta punk. Karena kebaikan dan rasa perkawanan itulah band mereka jadi lebih dikagumi. Selama waktu itu pula mereka banyak menghabiskan waktu untuk latihan di studio yang sudah mereka bangun sendiri dari keringat mereka sendiri.


Di sebuah kafe yang berada tak tak jauh dari Kambang Iwak mereka akan tampil dan menghibur seluruh fans. Parkiran penuh diisi oleh kendaraan. Ratusan muda-mudi yang berpakaian serba hitam memadati kafe. Banyak di antara para fans yang memakai kaos yang bergambar dan bertuliskan Emo Punk Palembang. Tidak cuma kaos, tapi syal, topi, dan bendera juga mereka bawa untuk menyambut euforia kemeriahan penampilan Philosophie. Antusias mereka sungguh luar biasa di malam Minggu yang spesial ini.


“Kami sudah beli tiket!” protes sebagian mereka yang berusaha mendobrak pagar. Ada juga mereka yang berusaha mati-matian untuk merangsek masuk tanpa memiliki tiket. Di antara keramaian itu bahkan ada mereka yang berkelahi karena saling senggol.Acara semestinya mulai jam delapan malam, tapi sampai jam sembilan acara belum juga dimulai. Panitia dan petugas kepolisian kewalahan mengamankan para fans yang berontak. Sampai-sampai ada seseorang yang terluka parah karena kena tujah.


Laki-laki yang menjadi korban penusukan itu dengan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara tiga orang pelaku langsung diseret petugas ke Polsek untuk dimintai pertanggungjawaban atas tingkah mereka yang anarkis. Rupanya, atas pengakuan ketiga pelaku, korban penusukan itu yang memulai masalah sebab dia menghina nama band Philosophie. Maka dari itu ketiga pelaku merasa tidak senang dan berusaha menghabisi si korban. Namun mereka bertiga tetap mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan mereka.


Sampai jam sembilan lewat barulah acara dimulai. Para fans berteriak tatkala Rama tiba di panggung sederhana itu. Lalu disusul oleh Vio dan Kiagus. Sementara di luar kafe, para fans tak perlu sedih sebab panitia sudah memasang layar besar sehingga mereka tetap bisa menonton band kesayangan mereka dari luar. Sound system juga dipasang di sekitar Kambang Iwak. Rama menyapa semua penggemarnya dan penonton kian histeris.


“Emopunkers!”


Semua penonton berdiri dan bertepuk tangan.


“Wong Palembang cinto damai. Jangan sampeado yang rebot di sini. Oke Wong Kito Galo?” Rama teringat dengan omongan dari personel Superman Is Dead, bahwa bukan untuk terkenal dan mendapatkan penghargaan, tapi yang penting bisa menyampaikan sesuatu dari atas panggung. Untuk kebaikan dan perubahan, terutama untuk memperkenalkan serta membangun negeri. Rama kemudian melihat kedua kawannya sudah bersiap.


Rama membuka intro: C F G.


Ayo kawanku terus maju


Singkirkan pilu di jiwa ragamu


Sambut esok kita kan bisa


Bawa dunia milik kita


Bertahan untuk hidup


Kerasnya dunia tak goyahkan aku

__ADS_1


Angkat gelasmu, kita bersulang


Bergegas persiapkan diri


Sambut hari esok demi mimpi


Hadapi dunia yang penuh ironi


Melukis bahagai sampai nanti


Bagai karang diterpa ombak


Jalani saja tersenyumlah kawan


Lepaskan egomu dan bergandengan tangan


Bangkitkan asa, terus semangat


Bertahan untuk hidup


Kerasnya dunia tak goyahkan aku


Angkat gelasmu kita bersulang


Bergegas persiapkan diri


Sambut hari esok demi mimpi


Hadapi dunia yang penuh ironi


Melukis bahagia sampai nanti

__ADS_1


***


__ADS_2