
Bantal, selimut, seprai, dan kasur di dalam kamar Vio amat berantakan sekali. Dia merasa sungkan untuk merapikannya. Kerjanya hanya bermalas-malasan di kamar. Dia terus mencuci otaknya dengan lagu Why Don’t You Get a Job agar dia lepas dari aktivitas menganggurnya. Dia malas untuk melakukan apa-apa. Bicara pun sudah malas dia. Barangkali satu hal yang tidak membuatnya malas: menganggur. Kalau malam, dia tidak mau tidur sampai larut malam. Pokoknya jam 10 dia mesti sudah tertidur pulas sebab takut acara menganggurnya besok bakal kesiangan. Dia amat pandai menjalankan perintah emakknya, yaitu menjaga rumah.
Maka aktivitas selama menganggurnya adalah makan dan tidur. Selain daripada dua itu, paling-paling menonton TV, mendengarkan musik punk, ngopi dan merokok. Definisi menganggur bagi Vio adalah cara untuk menikmati masa muda yang paling menyenangkan dan mengasyikkan. Tujuan dari menganggur menurut perspektifnya, yang pastinya subjektif, adalah untuk menghibur diri, berkontemplasi agar terhindar dari carut-marut sandiwara dunia fana dan menjadi pribadi yang pemurung.
Vio terinspirasi dari Patrick, kawannya Spongebob. Barangkali gara-gara bintang laut itulah dia jadi pengangguran nan malasnya minta ampun. Saking malasnya, dia stop out dari kerjaan sebagai tukang ojeknya Dita. Sering Dita meminta kejelasan soal pengunduran diri sementara itu, namun alasan Vio sangat banyak. Kadangkala alasan yang diberikan itu kuat, misalnya vespanya sedang mogok dan bahkan dalam kondisi sekarat sehingga harus menjalani rawat inap di bengkel. Kadangkala alasannya juga tidak masuk akal, misalnya takut bertemu dengan kawan-kawan SMA-nya dulu yang sekarang satu kampus dengan Dita sebab dia malu karena bukan seorang mahasiswa.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah dia sedang berada dalam masa proses penambahan berat badan sekaligus peningkatkan kepercayaan diri, dan ujung-ujungnya kalau badannya nanti sudah berisi, otomatis Dita bersandar dalam dekapannya. Lebih dari itu, sungguh ini adalah masa-masa sulit bagi Vio untuk menuai apa yang diimpikannya. Bila saja Rama dan Kiagus tak memaksa agar Vio keluar rumah, tentulah dia akan betah betul seharian di kamarnya berantakan. Persis seperti kapal pecah. Pas sore hari, ketika emakknya sudah pulang bekerja, Vio beranjak dari kamarnya, mandi, lalu menuruti apa mau kedua kawannya.
“Aku mau bae tidur sampai tolol.”
Rama dan Kiagus menggeleng-geleng.
“Sudah lama kita dak latihan. Sekarang cepatlah kita berangkat,” ujar Rama.
Mereka bertiga sampai di tempat rental band langganan mereka. Mereka bertiga check sound.Vio berontak, “American Idiot! Kita nyayi lagu Barat!”
“Indonesia dululah,” tampik Rama sambil mengukur volume suara gitarnya.
Uiiinnnggg… uiiinnnggg.
“Keras kepala! Kata aku lagu Barat dulu, ya lagu Barat dulu, Bodoh!”
Rama dan Kiagus terkinjat.
Rama membuka intro. A D G D A G
Kiagus mulai menghentak drumnya.
“Ah!!! STOP! STOP! Ngawur galo*!”
“Apa lagi?” tanya Rama. Suaranya nyaring karena mulutnya berada di dekat mic.
“Kau, Ram, lambat nian main gitarnya. Jangan cemen! Jangan jadi banci! Lemot nian, cuma ngejreng tali gitar saja lemot!
“Aku sudah pas mainkan tempo. Aih. Apa yang salah?!”
“Alaaaah. Banyak alasan pula. Ayo mulai lagi! Jangan ngaku penggemar berat Billie Joe kalau main kau seperti siput.”
Rama membuka intro lagi. Berhasil sampai dia masuk verse pertama.
“Don’t wanna be an American idiot.”
“STOP! STOP! Antara rengekan dengan suara boy band. Aku bingung dengan cara kau nyanyi, Ram. Semangat dikitlah! Alangkah syahdunya suara kau itu. Aliran kita Amerika, Jok, bukan Korea!”
__ADS_1
Rama tertunduk lesu seperti mengheningkan cipta. “Oke, oke, kita mulai lagi.” Rama dan Kiagus bermain dengan sangat hati-hati agar Vio tidak banyak komentar lagi. Dan syukur, mereka menyelesaikan lagu pertama.
“Nah, seperti itu.Lagu Basket Case sekarang!”
“Lagu-lagu Indonesia dululah, Vi. Kita ni belum mahir nian.”
“Oke, oke. Pain!” Maksud Vio adalah fine. “Endank Soekamti, lagu Semoga Kau di Neraka!”
“Ada lirik yang aku lupa.”
“Aku juga sulit main drum kalau lagu itu.”
“Kau amnesia, Ram?! Dan kau, Gus, katek alasan, karena aku di rumah seharian belajar main lagu itu.”
“Oke! Oke!” Rama kesal.
Dan lagu itu berjalan dengan kacau balau. Berulang kali Rama tersendat-sendat. Kunci lagunya pun dia lupa. Sementara Kiagus bak orang yang pertama kali bermain drum.
“Ah! Bagaimana kita bisa maju kalau seperti ini terus? Kamu berdua harusnya banyak-banyak latihan kalau lagi di rumah supaya pas lagi nge-band sekarang ini dak keteteran. Rongsok!”
***
TIT TIT… TIT TIT!!!
Dengan tenaga power full Kiagus meraup HP-nya yang sedang bergetar dan berbunyi. Tak salah lagi. SMS dari Devrieya.
Kiagus langsung mengetik pesan balasan.
“Lagi tiduran di kamar, sambil dengar lagu, ngopi, melamun, mikiri kamu, terus SMS. Hehehe.”
Pesan terkirim. Cukup dua puluh detik saja. HP-nya berbunyi lagi.
“Hebat nian bisa semua dalam satu waktu.”
Kiagus balas lagi.
“Itu belum seberapa, Dev. Kadang-kadang aku sambil teleponan. Ngomong-ngomong soal teleponan, aku boleh kan sekarang teleponan sama kau, Dev?”
Belum satu menit, SMS dari Devrieya masuk lagi di Nokia lama-nya Kiagus.
“Boleh, boleh. Sekarang yeh, Gus teleponnya. Soalnya besok pagi-pagi nian ke kampus, jadi aku tidur jangan sampai larut malam nian.”
Kiagus mencari kontak Devrieya dan memanggilnya. Di telepon, percakapan mereka bak hangat-hangat taik ayam. Kiagus berulang kali mengatur posisinya di divan, kadang telentang, kadang meringkuk, telungkup, kadang duduk bersila, sampai-sampai tertungging-tungging.
__ADS_1
Devrieya lebih fokus dengan Kiagus dan sudah tak banyak mengindahkan kontak-kontak cowok yang ada di sosial medianya.
Kita bisa bangga punya banyak mantan pacar. Senang kalau kita banyak didekati orang, digemari orang, dicintai orang. Atau kita bahkan bangga nian jadi playboy atau bagi cewek seorang playgirl. Kita patut bangga dengan hal-hal serupa yang berlebih-lebihan dengan cara punya banyak kawan dan penggemar di dunia maya. Namun pada akhirnya kita tetap pada satu cinta. Kita pasti bakal menikah. Dan cukup dengan satu orang. Maka apalah artinya kesenangan kita sekarang? Tak lebih dari angin lalu yang membuat kita terombang-ambing, tersesat, dan hanyut dalam arus deras kemajuan zaman, sehingga kita tak tahu apa yang benar dan semestinya kita lakukan.
Tempo hari Kiagus pernah bilang itu padanya. Omongan dari seorang pendiam memang ditunggu-tunggu.
***
GAAARRR!!!
Pintu kamar Vio berbunyi keras setelah dia membantingnya dengan keras. Hanya perkara sepeleh saja dia menjadi kesal. Dia menggerutu dan dia sendiri yang mendengar gerutuan itu karena tidak ada orang lain di kamar kecuali hanya dia.
“Aneh nian emak aku nih. Masa' nyuruh aku cuci piring?!”
Dicolokkannya headset di kedua pasang kupingnya. Terdengar keras lagu-lagu Blink-182. Maka dia hanyut menghayati lagu-lagu punk itu. Dimatikannya lampu hingga kamarnya gelap gulita. Sekarang dia benar-benar menikmati kesendirian. Dita, kedua kawan akrabnya, sampai-sampai emakknya jadi korban dari perubahan sikapnya. Akhir-akhir ini dia menjadi orang yang super sensitif mengalahkan sensitifnya perempuan yang sedang berada dalam masa haid. Kesal sedikit, berhamburlah nama-nama binatang. Marah sedikit, tumbuhlah tanduk di kepalanya, meledaklah sumpah serapah dari mulutnya.
***
Dilihatnya wajah suaminya yang tampak agak hitam sebab seharian terkena debu jalanan. Melayanglah ingatannya ke dua puluh dua tahun silam. Saat beliau melihat seorang Raden Muhammad berjalan dari Sekanak menuju 16 Ilir. Pada saat itu Molek bertemu dengan jodohnya di 16 Ilir. Mereka berkenalan di sana, berbincang di sana, saling memahami satu sama lain di sana. Tiga tahun pacaran, tak ada halangan apapun sebab masing-masing orangtua mereka merestui.
Tak ada apa pun yang menghalangi karena mereka adalah seorang bujang dan gadis iliran serta yang pasti berasal dari keluarga terpandang dan terhormat. Namun, usaha dagang dari masing-masing kedua orangtua mereka mengalami kemunduran. Pasang surut ekonomi yang tak pasti dan ditambah pula berjayanya orang-orang uluan di Palembang karena hasil dagang mereka laku pesat, maka daripada itu orang-orang iliran seperti keluarga Molek dan Raden Muhammad mengalami kegagalan dalam usahanya.
Indikasi atau bisa dikatakan efek domino dari hal serupa itu adalah berimbas pada rumah tangga Raden Muhammad sekarang. Warisan berupa barang dagang dari kakek-nenek si Rama dan Ayu, tak usah ditanya, semua sudah merugi. Maka Raden Muhammad coba membuat usaha baru yang lebih bisa disesuaikan dengan kondisi zaman sekarang. Imbasnya yang lain adalah bagaimana untuk kedua anaknya? Mereka berdua saja sudah terkatung-katung menghadapi perubahan zaman dan pergelutan dalam persaingan di dunia ekonomi. Peninglah mereka memikirkan nasib anaknya kelak.
“Duduk sini,” ucap Raden Muhammad kepada anaknya yang baru saja keluar dari kamar. Rama duduk tepat di sebelah ibunya.“Umur kau sudah delapan belas, Raden. Coba carilah gawaian di pasar sana. Kau punya banyak kawan, minta informasi dari kawan-kawan kau itu, apa ada lowongan kerja.”
“Iya, Pak, nanti Rama coba nanya sama kawan-kawan Rama.”
“Dari kecil Bapak sudah mulai berdagang membantu kakek kau, Nak. Beruntung nian kau sudah tamat SMA, lebih dari Bapak, ilmu yang kaudapat sudah lebih dari Bapak. Dan yang Bapak harap adalah kau sekarang begawai, cari modal, lalu buka usaha sendiri. Bapak harap kau menerusi cita-cita nenek moyang kita. Cukuplah Bapak yang gagal dalam usaha. Jangan sampai anak-cucu Bapak kelak gagal pula. Apalagi zaman sekarang ni. Susah nian hidup. Dak seperti dulu. Dan jangan sekali-sekali kaucoba yang namanya narkoba! Bapak dak mau kau mencemari nama baik keluarga besar Raden!”
“Iya, Pak.”
“Walaupun dak kaya, tapi kita terpandang. Bapak dak akan banyak omong lagi, Raden, sebab kau sudah mulai dewasa, mampu berpikir jernih, dan bisa saja hidup dengan mandiri serta lepas dari pengaruh orangtua. Sekarang, bekerjalah! Dan yang paling penting ingat, carilah jodoh dari gadis Palembang. Bapak dak mau kau beristri seorang gadis dari dusun. Walau kita miskin sekalipun, dan gadis dusun itu berduit, Bapak dak akan sudi merestui hubungan itu.” Raden Muhammad melepaskan napas yang tadi tertahan oleh omongannya. Beliau berdiri, lalu berpamitan.
Tinggallah Rama dan ibunya di rumah tua ini. Berkatalah Molek kepada anaknya, “Ingatlah apa yang sudah diomongi bapak kau, Nak.” Ada sebuah harapan yang mendalam darinya. Ingin Molek melihatnya sukses seperti halnya bapaknya dulu, yaitu Raden Abdullah, seorang saudagar yang sukses dan terpandang di waktu dulu. Bapaknya lebih akrab disapa Cek Raden. Namanya harum. Seharum kasturi agaknya.
Beliau menjadi tersohor selain karena wibawa dan budi pekertinya yang baik, juga karena jujur dalam berdagang. Tidak mau merusak harga pasaran dan selalu menganggap pembeli adalah raja adalah perihal yang membuat orang menaruh rasa segan terhadapnya. Molek paham betul karakter almarhum bapaknya yang tegas dan santun kalau berbicara. Beliau berharap anaknya satu ini seperti halnya almarhum bapaknya tersebut.
“Kakek kau itu rajin ibadah juga. Seorang pekerja keras. Selalu mengawasi istri dan anak-anaknya. Seorang pemimpin keluarga yang bijak kakek kau itu, Nak.”
Malu rasanya Rama, malu nian dia terhadap keluarganya dan dirinya sendiri tentunya. Betapa terhormat dan terpandangnya keluarga besarnya.
“Belum lagi kakek-nenek kau dari garis keturunan bapak kau, Nak. Seorang kiai dan guru mengaji. Selain patuh dengan perintah agama dan mengutamakan akhirat, Almarhum dan Almarhumah itu juga dak melupakan urusan duniawi. Dan mereka paling tegas dalam ngurusi anak-anaknya. Lihatlah bapak kau, rajin ibadah, rajin pula bekerja.”
__ADS_1
Rama mengangguk takzim. Maka dibenamkannya omongan-omongan itu ke dalam ingatannya.
“Pas dulu zaman Kompeni, buyut kau dari garis keturunan Bapak, berdagang di pasar terapung di Sungai Musi, Nak. Dan ketika Belanda membangun Pasar Sekanak, buyut kau pindah berdagang di sana. Generasi seterusnya, atau kakek-nenek kau, berdagang di Pasar Enam Belas. Pas generasi Bapak, semua terhenti. Jadi Ibu dan Bapak berharap nian, Rama bisa meneruskan perjuangan keluarga besar kita.”