Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
6. Alone


__ADS_3

Sinar matahari masuk ke sela-sela ventilasi kamar Rama. Terang lamat-lamat menyelusup masuk ke ruang yang tak luas. Embun pagi terkikis oleh sengatan ultraviolet dan hari-hari yang cerah mulai muncul lagi. Rama bangun dari tidurnya. Dikucek-kuceknya matanya. Pagi ini di rumahnya cuma ada dia seorang karena bapak dan ibunya sudah pergi bekerja. Sementara adik satu-satunya sudah lama berangkat sekolah. Setelah mandi dan berpakaian, Rama masuk ke dapur dan mencari sarapan pagi di atas meja makan. Ibundanya tercinta sudah menyiapkan nasi uduk. Kalau di Palembang disebut “nasi gemuk”.


Hari ini aktivitas Rama sungguh tidak mengasyikkan. Dia hanya bermalas-malasan di rumahnya yang sunyi dan mendengarkan alunan musik punk yang keras. Selain band punk Indonesia seperti Endank Soekamti dan Superman Is Dead, dia juga hobi dan fanatik dengan band punk dari luar seperti Rancid, The Offspring, Blink-182, dan Green Day. Iringan lagu Walking Alone karya Green Day yang tak terlalu keras mengisi kamarnya. Dilanjutkan lagu Boulevard of Broken Dreams. Oh, lagu itu sangat cocok untuk hari-harinya.


I walk this empty street, on the boulevard of broken dreams


Where the city sleep


And I’m the only one


And I walk alone


Dia merasa seperti menonton konser saja dan berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang penggila punk. Rambut Rama jadi tampak naik turun mengiringi gerak dari anggukan kepalanya. Dia sudah terbang dalam alam utopia yang di dalamnya berisi jutaan keasyikkan yang tak terjumlah asyiknya. Dia tenggelam dalam rangkaian khayal, terbang dalam bayang-bayang ruang fantasi yang dibuat oleh seorang pemimpi. Sekarang, seorang dreamer yang bercita-cita mempunyai band punk sudah terbangun dari alam yang tak nyata dan siap bergegas merengkuh segala hasil cipta dari karya. Tak berlebihan agaknya, Rama, dalam gelap pandangnya sekarang, bermimpi seperti halnya Endank Soekamti, begitu pun SID.


***


Cukup sehari saja bagi Rama yang ekstrover untuk menikmati kejengahan di dalam rumahnya. Di hari yang baru ini dia sudah bilang pada Vio bahwa dia ingin lanjut lagi ke Pasar 16 Ilir. Setidaknya sekadar nongkrong-nongkrong di pasar. Pagi sekitar jam 10 vespa itu terparkir di dekat tangga rumah panggung Rama. Kaos dan celana hitam ketat lekat di tubuh Rama yang lumayan tinggi, lebih dari 175 cm, dan berat yang tak kurang dari 70 kg itu menunjukkan bahwa tubuhnya cukup proporsional untuk bujang seusia dia. Derap dari langkah kakinya terdengar menuruni anak-anak tangga. Suara sepatu hitam Vans Off The Wall yang memijak tangga berdecit-decit. Tapi Rama sedikit mengeluh pagi ini sebab penampilannya bakal rusak dan berantakan kalau duduk di atas si Karbon. Embusan napasnya yang berat membuat dia ragu.


“Pengen konser di BKB?” tanya Vio cengengesan.


“Emang anak kuliahan saja yang boleh tampil keren?”


“Penampilan memang nomor satu, Jok, tapi perkara dompet adalah sesuatu yang serius.”

__ADS_1


“Kau ni sama saja seperti tukang obral di Pasar Enam Belas.Cerewet nian.”


“Cuma saja kalau ganteng dan keren, tapi buntu*,” sembur Vio. Kata terakhir itu lebih ditekannya.


“Kau nih sama juga seperti empat bibi-bibi arisan yang melebur jadi satu.”


“Hua-haa-haa…..”


“Kau tuh dikatai, bukan dipuji. Dasar idiot!”


Mereka berdua tambah kece setelah mengenakan helm hitam yang sering dipakai oleh pemakai vespa, bulat tak banyak motif, tanpa kaca, tanpa gaya, simpel bukan buatan, tak menarik sedikit pun. Dari vespa, helm, sampai orangnya, bisa ditarik kesimpulan bahwa mereka adalah kelas manusia tingkat menengah ke bawah dan kasta mereka tak pantas disebut orang kota yang keren dan gaul. Dari kacamata mereka, manusia kreatif adalah mereka yang tampil klasik. Vespa murahan itu jadi pusat perhatian orang-orang kampung tatkala melesat di jalan-jalan sempit, di belokan, di atas jembatan dan di mana pun.Suara yang dimuntahkan oleh si Karbon kadang-kadang membuat penghuni kampung merasa jengkel. Karena kelewatan sebalnya, sambil menyeringai marah seorang ibu-ibu yang sedang menyampirkan jemuran mendamprat mereka berdua.


“Woiii! Asapnya ini. Aih.”


Akses untuk sampai ke Pasar 16 Ilir setidaknya ada lima: melalui Sayangan yang berada paling timur dan ujung, melalui Jalan Kolonel Atmo, Jalan Sudirman, melalui jalan yang tembus dari BKB atau tepat dari bawah Jembatan Ampera, dan terakhir menyeberang dari Seberang Ulu ke Seberang Ilir dengan menggunakan perahu ketek. Mereka berdua lewat dari jalan yang nomor dua terakhir dan yang paling dikhawatirkan bagi para pengguna sepeda motor yang ingin menuju Pasar 16 Ilir adalah keberadaan Polantas.


“Tilanglah kalau pengen nilang. Kalau perlu ambil motor rongsok ini.”


Rama panas dingin menyaksikan ulah kocak Vio. Jarak mereka dengan petugas jalan itu terpaut tak kurang dari dua puluh meter. Di sana sudah ada beberapa orang yang kena tilang karena dengan sok hebat tak memasang kaca spion. Ketika jarak mereka kian dekat, wajah Vio tak menampakkan ekspresi tegang sedikit pun. Pas mau belok, jangankan mendekati dan menanyakan perkara surat-menyurat motor, sang polisi melengos dan membiarkan vespa itu melenggang santai. Melihat kondisi vespa yang tak keruan lagi, polisi mana yang mau menilang?


Mereka berbelok ke kiri di salah satu jalan. Riuh rendah suara ocehan pedagang dan pembeli di sini belum terasa karena hari belumlah jam 11. Belum sempat memarkirkan vespanya, tukang parkir sudah sahut-menyahut dengan Vio.


“Oooiii… apokabagh, Jok?” seru tukang parkir yang sudah akrab dengan mereka. Dialek Palembangnya begitu kental. Dia cadel, “r”-nya sama seperti ghain dalam huruf Arab.

__ADS_1


“Baik, Kak Cik.”


Rama turun mendekat ke arah tukang parkir, lalu bersalaman.


“Sudah sembohapo, Gham?”


“Alhamdulillah, Kak Cik, berguyur.”


“Jadi Wawi lagi haghi ini?”


“Ah, dak, Kak Cik. Mungkin besok-besok. Hari ni mau bantui Kiagus jualan bae.”


“Jangan teghlalu dipaksoi, Dik. Selu baelah*, kan masih bujang. Dak pecak** Kakak ni yang sudah punyo anak duo. He-he-he.”


“Ay, laen nian kalu sudahpunyo bini,” timpal Vio cengar-cengir.


“Biso nian bujang sikok*** ini. Kau tuh cepetlah kawin. Caghilah gadis Palembang. Apolagi di pasagh ni. Banyak nian gadis-gadis lewat.”


“Cari duit dulu, Kak Cik, baru kawin.”


Mereka berdua meninggalkan Andre dan menuju tempat Kiagus menggelar lapak. Di sana tadi Kiagus sudah memperhatikan mereka dan sudah tahu kalau dua orang itu bakal mengunjungi tempat jualannya. Badan Kiagus lebih gempal daripada Rama dan Vio. Jika dijejerkan berdasarkan berat badan, maka: Kiagus berdiri paling kiri, di tengah ada Rama, dan paling kanan tentu saja Vio.


Alis dari Kiagus tak terlalu tebal, bibirnya agak hitam, dan kulitnya sawo matang. Rambutnya tak lurus nian, melainkan agak ikal, dan panjang serupa rambut Rama. Selain suaranya yang serak dan parau, badannya tidak bungkuk serupa Vio, sehingga kalau berbicara dia tampak bijaksana sekali. Sikapnya yang dingin membuat orang di sekitarnya sering tak tahu apa yang diinginkannya.

__ADS_1


__ADS_2