Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
36. Trully kawan


__ADS_3

Rumah panggung yang tenang. Di sana, keluarga Raden Muhammad sedang  berkumpul bersama.


“Rama harap Bapak mau merestui soal Rama dengan band Rama. Nianlah, Pak, walaupun kami dak bakal jadi orang kaya dengan duit yang kami dapatkan dari band itu, tapi kami merasa senang, dan juga sekaligus menghibur orang.”


“Yang penting kau jangan malui keluarga kita, Nak.”


“Jadi Bapak dak marah kan kalau Rama tetap seperti ini?”


“Dak, tapi ingat pesan Bapak.”


“Kak, kapan nak jadian dengan Ayuk Nyayu?” olok Ayu.


“Ssst!” Rama kesal.


“Dia itu baik, Kak, pintar pula. Sering main ke rumah, terus belajar bareng dengan Ayu. Tentang psikologi. Ayu pengennya Kakak dapat pacar seperti dia itu.”


Berkatalah Cek Molek, “Di Pasar Dua Enam kemarin Ibu bertemu dengan Cek Nyimas. Dia juga senang kalau kau dekat dengan Nyayu, Nak.”


“Tapi katanya, Kakak belum jadian juga yeh sama Ayuk Nyayu, padahal sudah kenal lebih dari tiga tahun. Tembaklah Kak.Daripada disangka homo!”


“Ayuuu….”


***


Ruangan ini seluas lima kali empat meter. Interiornya menakjubkan, diselimuti warna hitam dan putih. Di belakang drum ada tulisan “Emo Punk Palembang” dan gambar Jembatan Ampera. Di dinding sebelah kanan dari drum ada papan tulis hitam, diisi tulisan dengan kapur yang berisi kata-kata bijak nan puitis karya Rama. Di sini ada juga lirik-lirik lagu band punk kegemaran mereka. Sedangkan di sisi kanan ada tulisan yang bermacam-macam berwarna hitam dan putih, seperti “I love emo”, “This is Punk”, Palembang Punk City”, dan banyak lagi. Ada juga lirik lagu yang mereka ciptakan. Inilah studio band sekaligus markas yang mereka bangun dengan duit mereka sendiri. Yang me-manage segala urusan band mereka adalah Dita dan Devrieya.


“Kemarin aku baru saja yudisium. Devrieya dan Masayu juga sudah. Tiga minggu lagi kami wisuda. Jangan dak datang.”


“Pasti kami bakal datang, Sayang. Berapa IPK kau?”


“Kecil, Sayang. Tapi yang pasti di atas tiga. Masayu dapat cumlaude. Pintar nian dia itu.”


“Oh.”

__ADS_1


“Jadi kapan kau mau melamar aku? Vio?”


“Dit, nantilah bahas masalah itu.”


“Kau ni, dak pernah mau ngerti perasaan cewek.”


“Aku ingin fokus….”


“Masalah band? Band? Band? Hah? Kau dak mau nian ngerti perasaan aku. Orangtua aku di dusun nyuruh aku supaya cepat nikah.”


Vio menatap Dita. “Bukan aku dak mau. Tapi aku merasa berat dengan permintaan kau.”


“Vi, itu permintaan orangtua aku, bukan aku.”


Vio tegak. Sambil berkacak pinggang dia menyergah, “Inilah susahnya berurusan dengan wong dusun!”


“Apa kata kau? Hah?”


“Kau serius ngomong seperti itu?”


“Ya iyalah.”


“Apa maksud kau ngomong seperti itu, ha? Emang ngapa kalau aku ni wong dusun, ha?”


Vio tak menjawab.


“Kau dak pengen dapat jodoh wong dusun, ha?”


Vio masih diam.


“Sok nian kau jadi wong kota! Sombong nian kau jadi Wong Palembang! Wong kota yang tinggal di kampung saja sudah bangga! Rumah papan, miskin!”


“Oh, baru tahu aku kalau mulut kau ni lebih busuk dari sampah. Kotor! Bagus nian omongan kau eh.”

__ADS_1


“Carilah bini Wong Palembang! Yang idak minta macam-macam sama kau! Ingat yeh, jangan pernah kau merendahi aku, mentang-mentang aku dari dusun, sementara kau dari kota!”


***


Tadi sore Devrieya memberi tahu kepada Kiagus bahwa Dita menangis di kosan sepulang dari studio. Rama dan Kiagus menuju 26 Ilir untuk membahas perkara tadi. Tapi sesampai di rumahnya, kata Cek Nyimas, Vio tidak ada di rumah. Di mana Vio sekarang? Apa di studio? Tapi juga tidak ada dia di sana. Mereka berdua berkeliling Kambang Iwak, juga tidak ada. Lanjut ke Jakabaring, di kompleks JSC, Rama dan Kiagus pulang dengan tangan hampa. Mereka juga gagal menemukan Vio di BKB. Hingga jam sepuluh malam mereka menyerah. Setiap sisi kota dan tempat biasa mereka berkumpul sudah dijelajahi, tetap saja Vio tidak ada. Di manakah bujang satu itu? Bersama siapa dia sekarang?


Berulang kali Rama dan Kiagus meneleponnya, tapi HP Vio tidak aktif. Mereka berdua memarkirkan motor di Bundaran Air Mancur dekat Masjid Agung. Gemerciknya yang disapu angin malam membuat jalanan sedikit basah. Rama dan Kiagus berjalan memutari bundaran. Sambil merokok mereka mengitari tempat yang menjadi titik nol Kota Palembang itu. Rama mengibaskan kaosnya yang lembap karena terkena percikan air. Tiba-tiba ingatan Rama terpental ke waktu beberapa tahun silam, saat Vio asyik berkumpul dengan rombongan anak-anak vespa, yang mana Vio sempat gabung menjadi anggota komunitasnya. Ketika itu Vio nongkrong bersama anak-anak vespa sebab dia ada masalah berat. Sehingga untuk menghilangkan semua masalah itu dia melampiaskannya dengan having fun bersama di atas trotoar Jembatan Ampera.


“Anak-anak reggae.”


Kiagus dengan cepat merespons, “Ayo kita ke sana, Jok!”


Dengan cepat mereka menyeberang, lalu berjalan ngebut di atas trotoar Jembatan Ampera. Dari Seberang Ilir menuju arah Seberang Ulu. Jalanan menanjak. Sampai tepat di tengah-tengah Jembatan Ampera, Rama dan Kiagus melihat romongan klub dan komunitas para pencinta otomotif ramai sekali dan berderet-deret. Dari motor matic, motor bebek, sampai motor besar, dan tak tertinggal pula vespa. Orang-orang di sana terkejut pas melihat dua bujang itu berjalan pontang-panting.


“Rama, vokalis Philosophie,” teriak salah seorang. Bukannya mengelak dan sombong, Rama dan Kiagus malah dengan senang hati ngobrol dengan penggemarnya. Sungguh tak pantas kedua personel itu berjalan dan berlari terbirit-birit di atas trotoar. Tak pantas nian!


Rama dan Kiagus mendekati gerombolan anak-anak vespa. Lalu mendapati kawannya itu yang gontai. Rama dan Kiagus menyeret Vio. Setelah agak jauh dari keramaian barulah Rama terkejut melihat mata Vio sipit dan merah. Kiagus terkinjat. Vio berjalan dengan terhuyung-huyung bahkan nyaris terjengkang karena tubuhnya sudah tidak kuat. Dia tertawa-tawa sendiri. Baginya, Rama dan Kiagus seperti pelawak saja. “Haaa… haaa… haaa.”


“Jok, kauhabis ngapai?!” Rama sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.


“Ram… Gus… kamu tahu, dak, hah? Tahu dak, kalau Dita itu… Dita itu… cewekmatre!!!”


“Jok, dia itu pacar kau. Kau sendiri yang ngomong, kalau kau tuh cinta sama dia. Kau pernah ngomong, kalau kau nanti bakal kawin dengan dia.”


“Bulsid! Pak! Dia itu gadis rongsok, Jok. Mada’i orangtuanya minta duit lima puluh juta?!”


“Tapi idak semestinya kau ngomong seperti itu dengan dia, Jok. Kan bisa ngomong baik-baik.”


“Sudahlah, Jok, sekarang aku lebih mementingi kawan dan band kita. Dak lagi aku ngurusi gadis macam dia itu!”


Vio melantunkan lagu Trully Kawan karya Steven ‘n Coconuttreez. Intonasi dan nadanya naik turun seperti grafik detak jantung. “Kiiitaaa di si… ni… nnn… nikmati waktuuu… bercandaaa menariii… gak jemu-jemu. Bersama kitaaa… ter… bang melayang… hinggaaa… rasanya gak lending-lending.”


Vio berjoget dan berdansa ria. Asyik sendiri tanpa memedulikan kedua kawannya yang sedang terpancang.

__ADS_1


__ADS_2