ROYAL SCHOOL AND EIGHT KINGDOM

ROYAL SCHOOL AND EIGHT KINGDOM
CHAPTER 6. Perasaan yang aneh


__ADS_3

...Chapter 6...


“Maaf, aku tidak senga-“


-tanpa ekspresi, seperti biasanya


“Ke...ketua O, SIS?!” Batin Michelle


Ketua OSIS hanya terdiam dan tanpa ekspresi juga


Karena keduanya pendiam dan dingin.


“Lain kali kau harus hati-hati, dan, jika ada piket, kau harus lebih disiplin, kau mengerti?!” -Michael


“Ah..mengerti, terimakasih nasihatnya, sampai jumpa” -Michelle


Michael hanya berbalik badan sedikit dan meliriknya, mungkin ada persasaan yang tidak bisa ditebak


Begitu juga dengan Michelle, dia juga memiliki perasaan yang tak bisa ditebak terhadap ketua OSIS.


Lalu Michelle menuju kelas dan..


“Woe Michelle!, kau seharusnya berangkat lebih awal, kita ini piket!, dan segarusnya kau lebih disiplin, nanti kita bisa disalahin, ngerti nggak?!”


Gwen salah satu murid di kelas B marah-marah


Michelle hanya diam saja, seperti biasanya


“Punya kuping kagak?!” Teriak Gwen lagi


“Iya nih” Jawab salah satu murid yang sedang piket juga


“Sudah-sudah, kita lanjutkan saja piketnya kalau begitu” Kata Kei


“Huh! masih untung ada Kei yang biajaksana, kalau tidak aku pasti sudah menghabisimu” Sahut Gwen


“Ya, kita beruntung mempunyai Kei”


“Ya!, ternyata dia tidak seburuk apa yang kita pikirkan”


Kata murid-murid kelas B yang sedang piket.


Kei tersenyum.


“Cepat sekali mereka berubah pikiran” batin Michelle

__ADS_1


“Tidak usah didengarkan, mereka gampang dicuci otaknya” tiba-tiba Soraya datang


“Apa kau bilang?!, sok berani” Jawab teman-teman yang tadi mengejek Michelle


“Memang kenyataannya begitu” -Vanya


“Huh!” *para murid yang tadi mengejek


Lalu, saat jam istirahat, Yohan dan Nathan berencana untuk mengajak Michelle, Vanya, dan Soraya berjalan-jalan keliling Sekolah.


“Hei, kita ngobrol sambil keliling yuk!” -Yohan


“Ya, mau ikut?!” -Nathan


“Aku ikut” *Vanya dan Soraya


“Bagaimana denganmu Michelle?” Tanya Yohan


“Tidak” Jawab Michelle


“Kenapa tidak?!” Yohan


“Tidak bisa menolak” sambung Michelle dengan muka datar


Saat Berkeliling


“Bagaimana dengan pertandingan basket kalian, apakah latihannya lancar?” -Yohan


“Ya?, maaf kita kemarin tidak bisa melihat pertandingannya, tapi nanti saat final, kita pasti akan menonton” -Nathan


“Lancar!” -Vanya


“Ya, tidak masalah, main video game saja terus” -Soraya


“Wah, syukur”


“Jangan marah, kami, nanti, pasti akan menonton”


-Yohan dan Nathan


“Ya ya ya ya ya” -Soraya


“Ahahahaha” Tawa mereka


“Hei, Michelle! Vanya! Soraya!”

__ADS_1


*seseorang berlari dari arah kelas D


“Ha? Laura? Ada apa?” Soraya bertanya


“Ano, hah..hah..., final basket nya di undur, hah... aku tidak tahu sampai kapan, hah... baru saja juri menemuiku dan,...”


“mengatakannya padaku, aku juga tidak tahu sampai kapan, hah... tapi nanti katanya akan ada kabar” *Laura terengah-engah


“Berbicaralah dengan tenang” -Yohan


“Yah... seperti itu..” -Laura


“Tapi kenapa?!” -Soraya


“Aku juga tidak tahu” -Laura


“Ya sudah, terimakasih infonya” -Vanya


“Iya!, aku akan memberitahukan ini kepada teman-teman lainnya, sampai jumpa!” -Laura


“Ya, sampai jumpa!”


“Jadi di undur ya, yasudahlah” -Vanya


“Yah, padahal kita sudah menunda untuk bermain video game untuk menonton kalian” keluh Nathan


“Hish! Jika tidak ikhlas, tidak usah menonton, kita juga tidak butuh dukungan kalian!” Teriak Soraya sambil memukul mereka


😪*Michelle dan Vanya


Lalu saat pulang sekolah, Vanya bertemu Hanzo


“Eh Hai, Hanzo, apakah kau sudah membaik?!”


Tanya Vanya


“Yah, sudah mendingan” Jawab Hanzo


“Oh, syukurlah” -Vanya


“Ya, aku juga berterima kasih kepada kau dan juga teman-teman lainnya” -Hanzo


“Ah, iya, tidak masalah” -Vanya


...End Chapter 6....

__ADS_1


__ADS_2