
Orang tua mana yang tidak hancur hatinya melihat kondisi anaknya yang mengalami penurunan dengan begitu drastis. Raka dikatakan sadar, tetapi inderanya tidak bisa merespons dengan baik. Anak kecil berusia empat tahun itu, terus-menerus mengigau dan berteriak. Namun, matanya sepenuhnya terpejam.
"Sudah malam, Rin ... kalau kamu ingin pulang, pulang saja ... aku akan kabarin perkembangan Raka, nanti," ucap Zaid.
Tidak bermaksud memaksa, tetapi Erina sudah terlihat capek dan juga mengantuk. Oleh karena itu, Zaid menyuruh mantan istrinya itu untuk bisa pulang saja.
"Raka bagaimana?" tanyanya dengan menguap.
"Biar aku yang menjaga Raka saja, tidak apa-apa," balas Zaid.
Erina pun akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan, "Baiklah ... tolong kabarin aku untuk progressnya Raka. Aku berharap putraku akan segera sadar," balas Erina.
Akhirnya, wanita itu benar-benar pergi dari kamar perawatan VIP itu. Sementara Zaid masih termenung dengan memandangi Raka di sana. Setiap kali Raka mengigau rasanya, Zaid berdesir dengan begitu hebatnya. Bukan hanya kondisi Raka yang mengalami penurunan, Zaid pun sama. Kondisinya benar-benar down sekarang. Terlihat malam yang datang, sang Papa itu hanya duduk di samping brankar, begitu lelah dan kepala terasa berat pun, Zaid hanya bisa tidur ayam. Ketika Raka mengigau, Zaid pun terbangun.
Hingga menjelang subuh menjelang, Zaid memilih mengambil wudhu, dan dia menggelar Sajadah di kamar perawatan putranya itu. Dengan sujudnya, Zaid memohon kiranya Tuhan, Khalik, Sang Penguasa Semesta dan segala isinya akan berbalas kasihan untuk bisa menyembuhkan Raka.
"Ya Tuhan, kepada-Mu, hamba bersujud. Di hadapan hamba, yaitu putra hamba sendiri sekarang sedang berbaring lemah dan kehilangan kesadarannya. Kiranya Tuhan berbelas kasihan untuk bisa menyembuhkan putra hamba, Raka. Angkat sakit penyakitnya, sembuhkanlah, tanam kembali ingatannya. Kiranya Raka beroleh kasih sayang dan kemurahan-Mu," ucap Zaid dengan tertunduk sang Penguasa Hidupnya.
Sepenuhnya Zaid menyadari, dirinya begitu kecil di hadapan Allah. Dirinya hanya sebutir debu. Akan tetapi, dirinya yang hanya sebutir debu ini pada akhirnya memohon dan mengharapkan pertolongan dari Allah. Cukup lama, Zaid bersujud dalam doa dan memohon ampun kepada Allah. Seusainya, Zaid kembali duduk di tepi brankar. Tatapan matanya sepenuhnya melihat kepada Raka. Tangan Zaid bergerak dan menggenggam tangan Raka di sana.
"Ayo Raka, kalahkan sakitmu ... sembuhlah, Nak ... Papa sangat berharap kamu bisa pulih sepenuhnya. Buka matamu, Nak. Papa sudah kangen dengan kamu dan ingin bercerita banyak hal kepadamu."
***
Tidak terasa sudah dua hari berlalu ....
__ADS_1
Dalam dua hari ini masih belum ada yang berubah. Raka masih menutup matanya, mulutnya terus bersuara dan terdengar igauan di sana.
"Papa, Raka kan suka kalau di rumah ada Papa dan Mama."
"Raka mau duduk di meja makan itu ada Papa dan Mama."
"Ma, kapan Mama datang ke rumah untuk menemui Raka, Ma? Raka janji tidak akan menjadi anak yang nakal, Ma."
Itu semua adalah igauan yang Raka ucapkan dalam kondisinya yang tidak sadar. Namun, dalam dua hari ini setidaknya ada gerakan motorik dari tubuh Raka. Mulai dari jari tangannya yang mulai bergerak, hingga kakinya yang bisa bergerak pelan. Walau perkembangan sangat kecil, tapi Dokter Sonny berkata bahwa ini adalah perkembangan yang baik untuk Raka. Memungkinkan untuk Raka bisa segera sadar.
"Kira-kira kapan Raka akan sadar ya Dok?" tanya Zaid dengan begitu cemas dan bimbang sekarang.
"Kita doakan ya Pak ... semoga tidak lama lagi. Melihat sudah mulai ada pergerakan motorik sih sebenarnya sudah bagus. Kita tinggal menunggu otak untuk menggerakkan tubuhnya. Semoga tidak lama lagi, Pak," balas Dokter Sonny di sana.
"Tidak tahu, Rin ... hanya saja perkembangannya tetap baik karena ada pergerakan motorik. Akan tetapi, kita harus sabar dan berdoa. Jangan putus harapan," balas Zaid.
Erina menatap Raka dengan memejamkan matanya sesaat, "Ayolah bangun, Raka ... Mama kangen kamu," ucapnya.
"Aku mau melakukan apa saja asalkan Raka bisa sadar dan pulih. Bagiku, Raka adalah nomor satu," sahut Zaid.
Erina pun melirik Zaid, "Dulu kamu selalu meninggalkannya dan sibuk dengan bisnismu," cibirnya.
"Itu dulu, Rin ... sekarang aku sadar, bahwa semua kafe dan saham yang aku miliki tidak ada apa-apa jika tidak ada Raka. Dia satu-satunya hartaku yang berharga," balas Zaid.
Mendengar ucapan Zaid, Erina berdecih di sana, "Ckck, kalau saja kamu memahaminya sejak dulu. Toh, semua sudah berakhir Zai. Koma-nya Raka sekarang juga karena kamu," balas Erina.
__ADS_1
Zaid menyugar rambutnya. Begitu kesal dan sebal. Setiap kali berbicara dengan Erina, justru yang ada memojokkannya, membuatnya naik darah. Di mata Erina, seakan-akan hanya dirinya saja pihak yang bersalah.
"Sudahlah Rin ... jangan menambah masalah. Kenapa kamu selalu memojokkan aku? Seolah-olah semuanya karena salahku," balas Zaid.
Benar-benar keduanya tidak bisa menjalin hubungan yang baik. Jika bersama yang ada hanya perdebatan demi perdebatan. Sungguh bukan kondisi yang baik untuk keduanya.
***
Empat Hari berlalu ...
Setelah menunggu begitu lama, akhirnya Raka berhasil mendapatkan kesadarannya. Raka, terbangun walau dengan amnesia retrograde yang diidapnya. Kondisinya lebih miris karena ada benjolan di keningnya yang dikatakan Dokter karena penyumbatan saraf yang membuat Raka tak sadarkan diri selama empat hari.
Lantaran kening yang membengkak, wajah Raka pun turut membengkak di sana. Zaid benar-benar tidak tega melihat putranya itu.
"Papa," ucap Raka dengan lirih.
"Iya, Nak ... ini Papa," balasnya.
"Raka di mana?" tanyanya.
"Di Rumah Sakit, Nak," balas Zaid.
"Mama di mana Pa?" tanyanya.
Ya, kala membuka mata yang dia ingat adalah Mamanya. Sebab di hari yang keempat itu, Mama tidak datang ke Rumah Sakit. Dia mencari di mana keberadaan Mamanya yang tidak terlihat oleh matanya.
__ADS_1