Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Terjaga Semalam


__ADS_3

Semalam Zaid sebenarnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semua itu karena dia khawatir dengan kondisi Erina. Bahkan Zaid sendiri beberapa kali terjaga. Ketika Zaid terjaga, tangannya terulur dan meraba kening Erina. Dia hanya takut jika Erina demam tinggi di malam hari atau berkeringat dingin lagi.


Namun, semua itu tidak terjadi. Semua karena Erina justru tertidur dengan begitu lelap. Walau Erina menempek erat dengan Zaid. Satu tangan Zaid selalu dia pegang erat. Bahkan wajahnya menempel di lengan suaminya itu.


"Syukurlah, kamu tidur dengan nyenyak, Sayang. Aku berharap, kamu tidak sakit lagi," ucap Zaid dengan lirih sembari tangannya mengusapi puncak kepala Erina.


Sampai beberapa saat Zaid terjaga, dan memperhatikan Erina. Jujur, Zaid merasa sangat khawatir. Takut jika malam, Erina kembali sakit.


Namun, menjelang pagi Erina merasakan tubuhnya menggigil. Dia sampai membangunkan suaminya itu.


"Mas, dingin," aku Erina dengan meringkuk kecil di atas ranjang.


Zaid terbangun, kemudian dia mematikan AC di ruangan kamarnya dan menyelimuti Erina. Selain itu, Zaid memeluk tubuh Erina dengan begitu erat. Pria itu kembali khawatir. Jika, mengaku kedinginan pastilah tubuh akan menjadi dingin. Akan tetapi, tangan dan kaki Erina sama sekali tidak dingin. Yang ada tubuh Erina begitu bergetar sekarang dan merasa kedinginan.


"Aku peluk yah," ucap Zaid sekarang.

__ADS_1


Erina menganggukkan kepalanya. Dipeluk Zaid rasanya hangat. Hingga perlahan-lahan dia tidak menggigil kedinginan. Erina kembali tertidur di pelukan Zaid. Sementara justru Zaid yang tidak bisa tidur. Dia merasa bingung dengan kondisi Erina. Kenapa tiba-tiba menggigil kedinginan.


Hingga subuh, pria itu tidak tertidur lagi kepikiran dengan Erina. Hingga kurang lebih jam 06.00, Zaid memilih bangkit perlahan dari tempat tidur. Dia menaruh bantal di bagian tempat tidurnya. Dia ingin menyeduhkan Teh Jahe atau Teh dengan campuran daun mint untuk Erina.


Ketika dia turun menuju ke dapur rupanya ibu mertuanya sudah berada di dapur. Zaid pun segera menyapa ibu mertua.


"Selamat pagi, Ibu," sapanya.


"Pagi, Zaid. Erina belum bangun yah?" tanya Bu Lia.


"Periksa ke Dokter saja jika kamu tidak yakin dengan sakitnya Erin, Zai," balas Bu Lia.


"Iya, Bu. Sebaiknya Zaid membawa Erina ke Dokter saja. Semalam dia tidur nyenyak, menjelang pagi justru kedinginan sampai menggigil. Kasihan Erin, Bu," ucap Zaid.


Bu Lia tersenyum, itu terlihat bahwa menantunya sangat perhatian kepada Erina. Bahkan Zaid sekarang menyeduh Teh dan nanti akan diberikan kepada Erina. Tidak banyak seorang suami yang mau melakukan hal seperti itu.

__ADS_1


Belum selesai Zaid menyeduh Teh. Erina sudah bangun dan mencari Zaid dengan turun ke bawah. Begitu melihat Zaid, Erina pun seperti tengah merajuk.


"Mas, sudah bangun yah? aku nyariin loh," ucap Erina.


"Iya, Sayang. Aku baru membuatkan teh untuk kamu. Ini baru membakar jahe karena aku ingin membuatkan kamu teh jahe," ucap Zaid.


Namun, Erina sudah memerah wajahnya dan seolah menahan air matanya. "Aku nyariin. Ku pikir Mas pergi ke mana," balasnya.


Zaid segera beranjak dan merangkul Erina. "Kenapa, tumben banget? Aku sudah pasti gak akan kemana-mana. Aku hanya membuatkan teh untuk kamu," balas Zaid.


Di sana Bu Lia pun tertawa. "Erin, tumben banget sih. Kayak pengantin baru aja. Ditinggal suaminya sebentar aja, sudah mau nangis," ucap Bu Lia.


"Abis, Erin nyariin, Bu. Tadi masih berbaring di sisi Erin, tiba-tiba enggak ada," jawab Erina.


"Jangan-jangan kamu ngidam, Rin. Maunya nempel Zaid terus," ucap Bu Lia dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Di saat itu Erina dan Zaid saling pandang. Benarkah keanehan itu karena Erina sebenarnya sedang ngidam? Kemudian Zaid tersenyum kecil kepada Erina. Dia sebenarnya juga tidak menolak jika istrinya itu pada akhirnya mengandung anaknya lagi, memberikan adik untuk Raka.


__ADS_2