
Erina yang sudah dipasangi infus masih mencoba berjalan-jalan di dalam kamarnya. Tujuannya adalah untuk menambah pembukaan. Zaid sendiri terus mendampingi Erina, Zaid tahu istrinya itu sebenarnya sudah kesakitan, tapi Erina mencoba bertahan dan melawan rasa sakitnya.
"Kalau memang sakit istirahat dulu saja, Sayang," kata Zaid.
"Sakit sebenarnya, Mas ..., tapi udah pembukaan lima, sudah separuh jalan. Raka bagaimana Mas?"
Erina mencemaskan Raka. Biasanya ketika Raka pulang sekolah, ada Mamanya yang menyambutnya. Akan tetapi, sekarang justru Erina berada di rumah sakit. Erina hanya tidak ingin Raka berpikir macam-macam dan mengira mamanya akan pergi meninggalkan dia lagi.
"Jangan cemaskan Raka. Dia pasti akan baik-baik saja," kata Zaid.
"Aku sedih kalau Raka mengira aku pergi darinya lagi," balas Erina lagi.
Di saat genting seperti ini saja, Erina masih berpikir takut jika Raka mengira yang tidak-tidak. Dia hanya ingin menjaga hati dan kepercayaan Raka. Namun, Zaid juga meminta Erina untuk tenang, tidak perlu mencemaskan Raka.
Sudah hampir satu jam sekarang, Erina merasakan tekanan di panggul dan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Erina sudah tak mampu untuk berjalan-jalan lagi. Kini, Erina berbaring ke kiri dan mengusapi perutnya. Sementara Zaid mengusapi punggung Erina.
"Tahan yah, Sayang ... sabar, tidak lama lagi babynya akan launching. Aku akan selalu menemani kamu," kata Zaid.
Zaid terus menenangkan Erina, dalam perjuangan Erina yang berat ini Zaid tidak akan meninggalkan Erina begitu saja. Akan tetapi, dia akan selalu mendampingi Erina. Selain itu, Zaid juga berharap babynya bisa segera lahir karena dia tidak tega melihat Erina kesakitan terlalu lama.
Hingga akhirnya, Erina merasa sakit yang dia alami semakin bertambah. Wanita itu sudah menangis, seolah tak kuasa menahan rasa sakit.
"Apa sudah waktunya yah, Mas?" tanya Erina.
__ADS_1
"Gimana rasanya?" tanya Zaid.
"Sakit ... banget, kayak ada yang mau keluar," balas Erina.
Zaid kemudian menekan tombol yang terarah langsung ke perawat. Tidak berselang lama, Dokter Indri dan beberapa perawat datang. Di saat yang bersamaan, rupanya air ketuban Erina pecah. Sehingga, perawat membersihkan Erina terlebih dahulu.
"Ketubannya sudah pecah Bu Erina ..., tapi ini pembukaan sudah lengkap," kata Dokter Indri.
Mulainya Dokter Indri bergerak cepat. Dia memberikan instruksi kepada Erina. "Kalau perut terasa kencang, tarik napas, keluarkan, dan beri dorongan ke panggul Bu Erina. Pembukaannya sudah lengkap, bisa bisa melahirkan babynya," kata Dokter Indri.
Dengan menangis Erina menganggukkan kepalanya. Dia berusaha merasakan kontraksi di perutnya, hingga Erina akhirnya mengambil napas dalam-dalam dan kemudian mengarahkan tenaga ke panggul, untuk mendorong keluar kepala si baby. Namun, pada percobaan pertama gagal.
"Istirahat dulu Bu Erina. Nanti kalau perut kembali kencang, langsung ambil napas dan dorong panggulnya. Kepala babynya sudah kelihatan kok," balas Dokter Indri.
Erina masih menangis dan menganggukkan kepalanya. Ya Tuhan, walau ini adalah kelahiran kedua, tapi rasa sakitnya masih sama. Bahkan menurut Erina sekarang jauh lebih sakit.
"Jangan banyak menangis, Bu. Takutnya kalau tenaganya habis," kata Dokter Indri.
"Ssa ... sakit, Dok," balas Erina.
Memang sakit kala melahirkan seorang anak. Akan tetapi, semua akan terbayar ketika si bayi sudah terlahir ke dunia. Erina pun tidak bisa mengelak dan menyembunyikan rasa sakit, karena memang sangat sakit.
"Iya, Dok," balas Erina.
__ADS_1
Hingga beberapa kali mencoba, Erina benar-benar kepayahan. Usahanya mengejan belum menemukan jalannya. Sampai pada di memegangi tangan Zaid dengan kuat, dan Erina kembali mengejan. Seluruh tangisan, isakan, dan teriakan menemabinya mengambil napas dan mengejan. Sampai pada akhirnya ....
Olek ... Oek ... Oekk ....
Bayi perempuan sudah lahir ke dunia. Puas dan usai sudah perjuangan melahirkan. Semuanya terbayar lunas kala mendengarkan tangisan sang baby.
"Selamat Bu Erina dan Pak Zaid ... babynya perempuan yah, baby girl," kata Dokter Indri.
Sangat lega rasanya. Erina benar-benar bersyukur masih Allah berikan kekuatan untuk melahirkan putrinya. Hingga akhirnya, baby perempuan itu ditaruh di dada Erina dan proses inisiasi menyusui dini terjadi.
"Cantiknya ... seperti Mama Erin," balas Zaid.
"Cantik yah, Pak Zaid?" tanya Dokter Indri.
"Iya, seperti Mamanya," balas Zaid.
Sebab, di matanya baby perempuan itu memang sangat cantik. Seperti Erina, dengan pipinya yang kemerah-merahan. Sangat lucu.
"Namanya siapa, Yang?" tanya Zaid kemudian.
"Raline," balas Erina.
Ya, bayi yang baru melihat dunia itu diberi nama Raline. Sebagai mana permintaan Raka supaya adik bayinya diberikan nama dengan inisial huruf R. Oleh karena itu, nama Raline yang dipilih oleh Erina.
__ADS_1
Welcome to the World Baby Raline!