Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Raka Mau Adik


__ADS_3

Selang sepekan berlalu, hubungan Erina dan Zaid semakin baik. Bahkan, keduanya bak pacaran kembali. Banyak waktu yang dimanfaatkan untuk saling mengisi tangki air cinta keduanya. Membaiknya hubungan Erina dan Zaid, tentunya juga membuat Raka senang.


Sama seperti ini, di ruangan keluarga ketika Raka menonton YouTube di televisi, rupanya Papanya tiduran di sofa dengan menggunakan paha Mamanya sebagai sandaran. Tentu ini adalah pemandangan yang langka untuk Raka. Setahu Raka, selalu ini Mama dan Papanya selalu menjaga jarak satu sama lain.


"Kok tumben Papa tiduran di pahanya Mama?" tanya Raka kepada Papanya.


"Iya, Raka ... sepanjang hari tadi Mama bekerja di butik. Papa jadi kangen deh sama Mama kamu," balas Zaid.


Jawaban yang diberikan Zaid juga tidak mengada-ada. Sepanjang hari tadi memang Erina bekerja di butiknya. Sehingga sekarang rasanya Zaid sudah begitu rindu dengan Erina.


"Sama, Pa ... Raka juga kangen Mama," balas Raka.


Setelahnya, Raka kemudian bertanya kepada Mama dan Papanya. "Mama, Papa ..., adik itu apa? Sean akan punya adik, Ma. Adiknya Sean lahirnya bulan September nanti," cerita Raka kemudian.


"Adik itu saudara kandung, Sayang. Sean kan anak sulung, berarti Mamanya Sean hamil lagi dan nanti Sean akan menjadi Kakak," balas Mama Erina.

__ADS_1


Raka berusaha memahami penjelasan dari Mamanya. Setelahnya dia bertanya lagi kepada Mamanya. "Kok adiknya lahirnya September, Ma?"


Erina tersenyum. Rupanya memang Raka sedang begitu kritis. Otaknya berkembang dan ingin mencari jawaban yang tepat.


"Kan kalau hamil itu tidak bisa langsung keluar babynya, Nak ... Mamanya Sean harus mengandung selama 9 bulan 10 hari, nanti babynya baru lahir. Begitu," jelas Erina.


Sekarang, barulah Raka memahami bagaimana seorang adik itu bisa lahir. Rupanya memang Mama harus mengandung dulu selama 9 bulan 10 hari, barulah nanti baby yang mungil akan lahir ke dunia. Membayangkan Sean memiliki adik terasa menyenangkan untuk Raka.


"Mama, Raka juga mau adik dong," pintanya tiba-tiba.


"Kenapa Raka mau adik?" tanya Papa Zaid sekarang.


"Biar seperti Sean, Papa. Punya adik, punya saudara kandung. Katanya Sean kalau sudah punya adik nanti mau bermain sama adiknya. Sean bisa main sama adiknya. Raka main sama siapa, Pa?" tanyanya.


Zaid menganggukkan kepala. Memahami bagaimana pendapat Raka dan pandangannya. Memang anak-anak seperti itu, terkadang ingin seperti temannya. Hal yang wajar untuk anak-anak.

__ADS_1


"Kalau Raka tidak punya adik, kan Raka bisa bermain dengan Papa dan Mama," balas Zaid.


Zaid menjawab demikian karena memang dia tahu dulu Erina kesulitan saat mengandung dan melahirkan Raka. Ditambah ketika Zaid mengurusi bisnis, tidak ada yang menemani Erina. Bisa saja itu menjadi trauma yang bisa membuat Erina tak lagi mau memiliki anak lagi. Oleh sebab itu, Zaid berkata demikian kepada Raka.


"Ya, gak apa-apa juga kok, Pa. Kan ya, Raka cuma meminta. Kalau tidak punya adik tidak apa-apa. Yang penting Raka bisa selalu bersama dengan Mama dan Papa," balasnya.


Usai itu Raka mengambil tempat di sisi Erina. Anak kecil itu, menyandarkan kepalanya di dada Mamanya. Menyalurkan kasih sayangnya kepada Mamanya yang sejak tadi tersenyum melihat Raka.


"Raka gak mau adik, asalkan Mama dan Papa selalu bersama Raka. Raka selalu sayang dan mau bersama Mama dan Papa," ucapnya.


Erina membalas memeluk Raka dan mencium kening putranya itu. "Mama dan Papa akan selalu bersama dengan Raka kok. Jangan takut yah," balas Erina.


"Iya, Ma. Raka tuh sudah seneng banget, Mama dan Papa selalu bersama dan saling menyayangi. Penting Mama jangan sama Om Erick lagi ya, Ma. Raka gak suka sama Om Erick," ucap Raka.


Erina tidak marah. Dia menganggukkan kepala. Bisa memahami sudut pandang Raka. Erina juga mengakui salah karena dulu adalah salahnya yang membiarkan Erick sering ke rumah dan berinteraksi dengan Raka. Rupanya memang karena Raka tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2