
Menurut Bu Lia sakitnya Erina sekarang bukan sekadar sakit. Melainkan mungkin saja putrinya itu tengah hamil sekarang. Hamil muda lebih tepatnya.
"Coba test dulu aja, Rin. Sapa tahu kamu positif loh. Namanya juga suami istri. Kamu memasang kontrasepsi enggak?" tanya Bu Lia sekarang.
"Enggak, Bu. Sudah lebih dari setengah tahun, Erin lepas kontrasepsi," balasnya.
Bu Lia pun tersenyum. Kecurigaannya kali ini agaknya benar-benar terjadi jika anaknya itu memang kembali hamil. Jika kedinginan hanya beberapa saat saja, sementara tangan dan kakinya tidan dingin. Pastilah ada kehidupan baru yang tumbuh di janin Erina. Selain itu juga, Erina yang nempel dan nyaris menangis ketika Zaid turun terlebih dahulu dari kamar, juga tidak biasanya.
Oleh karena itu, Bu Lia merasa sangat yakin bahwa Erina sedang hamil sekarang. Sementara Zaid menatap wajah istrinya itu. Kasihan juga dengan Erina. Namun, jika akhirnya hamil lagi juga apa bisa dikata.
"Nanti aku belikan testpack mau enggak, Yang?" tanya Zaid sekarang.
"Aku ikut ya, Mas," balas Erina.
Hanya sekadar membeli testpack saja, Erina maunya ikut. Tidak mau ditinggal oleh suaminya. Zaid sampai nyaris tertawa jadinya.
"Ajak aja, Zaid. Itu yang pengen bayinya, bukan Erin," balas Bu Lia lagi.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Ibu mertuanya. Zaid kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, nanti siang yah kita beli testpack bersama. Maunya sama aku terus yah?" tanya Zaid dengan tersenyum.
"Iya," balas Erina.
Sekarang waktu sarapan, Pak Harja melihat bagaimana Erina yang kelihatan tidak sehat. Sehingga Pak Harja menanyai Erina juga.
"Masih belum sehat, Rin?" tanya Pak Harja.
"Sudah, Yah. Sudah sehat kok," balas Erina.
__ADS_1
"Erin sakit itu, Yah ... sakitnya selama sembilan bulan," balas Bu Lia lagi.
Mendengar apa yang disampaikan istrinya, Pak Harja kemudian bertanya lagi kepada Erina. "Kamu hamil, Rin?"
"Baru tebakannya Ibu saja kok, Yah. Erin belum cek dan sebagainya," jawab Erina.
Sejurus kemudian Raka yang menanyai Mamanya. "Mama hamil adik bayi yah?"
"Belum tahu, Nak. Mama harus test dan periksa ke Dokter dulu untuk memastikan. Baru Oma saja yang menebak-nebak," jawab Erina.
"Kalau punya adik bayi, Raka mau, Ma ... cewek aja, Ma. Yang cantik seperti Mama," balas Raka.
Semua yang sedang sarapan pun tertawa. Sebab, apa jenis kelamin nanti juga sepenuhnya pemberian dari Tuhan semata. Manusia tidak bisa memilih.
"Sedikasihnya sama Allah, Nak. Cewek atau cowok sama saja. Bisa menjadi teman mainnya Raka nanti," balas Erina sekarang.
"Kalau Mama beneran hamil, Raka mau, Ma. Biar kayak Sean yang akhirnya punya adik," ucap Raka sekarang.
Sekarang Erina menganggukkan kepalanya. "Ya, doakan yah. Raka mau menjadi Kakak?"
"Iya, mau ...."
Raka menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Dia sangat senang andai Mamanya memang tengah hamil. Sebab, Raka juga ingin seperti temannya Sean, yang sekarang Mamanya sedang hamil.
Sarapan itu dilewati dengan baik. Setelahnya, Erina dan Zaid berpamitan untuk ke kamar dulu. Mereka juga harus mandi karena memang belum mandi.
"Mandi sekarang atau nanti?" tanya Zaid sekarang kepada istrinya.
__ADS_1
"Nanti, mau dipeluk dulu, Mas ... masih kangen," ucap Erina.
Zaid tersenyum, tidak biasanya Erina seperti ini. Agaknya dia setuju dengan kecurigaan Bu Lia bahwa Erina mungkin saja sedang hamil. Namun, menurut Zaid kalau benar-benar hamil ini pun berbeda dengan Erina waktu hamil Raka dulu. Seingat Zaid, dulu Erina tak senempel dan semanja ini.
"Sayang, aku mau bertanya sesuatu. Kalau misalnya, kamu benar-benar hamil. Kamu keberatan enggak?" tanya Zaid.
Sekarang Erina menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak keberatan. Kan ada suamiku yang siaga. Kenapa harus keberatan?"
"Enggak, aku teringat dulu kamu kesakitan gitu waktu melahirkan Raka. Jadi, rasanya aku juga gak ingin membebani kamu," balas Zaid.
"Enggap apa-apa sih, Mas. Namun, hidup terasa aneh yah. Dulu aku sempat sebel sama kamu, sekarang aku senempel ini. Gak bisa kamu tinggal, Mas," aku Erina sekarang dengan jujur.
"Nempelan boleh. Aku justru seneng kok. Nanti mandi dan kita beli testpack berdua yah," ajak Zaid.
"Iya, mau beliin Pisang Bolen yah, Mas ... tiba-tiba pengen," balas Erina.
Sekarang, Zaid terkekeh dan mengeratkan pelukannya. "Boleh ... kalau kamu beneran hamil, aku juga bahagia. Semoga anak ini memperkuat ikatan hati kita, menambah keharmonisan keluarga kita. Jangan khawatir, aku akan selalu menemani kamu, Sayang. Kamu ngidam apa pun, juga akan aku beliin," ucap Zaid.
"Iya, aku tahu itu. Waktu hamil Raka juga begitu kok," balas Erina.
"Penting hanya boleh minta ke aku. Gak boleh minta ke cowok lain," ucap Zaid sekarang.
Erina menganggukkan kepalanya. "Iya-iya, Mas. Kamu tinggal keluar kamar duluan aja, aku cemas. Apa aku jatuh cinta lagi sama kamu ya Mas?" tanya Erina sekarang.
"Kalau bisa jatuh cinta setiap hari, Sayang. Biar semakin mesra," balas Zaid dengan tertawa.
Walau belum dipastikan apakah Erina hamil, tapi agaknya tebakan Bu Lia dan Zaid sendiri benar. Sudah ada janin di dalam rahim Erina, hanya saja Erina belum menyadarinya saja. Zaid berjanji bahwa dia akan selalu ada untuk Erina.
__ADS_1