Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Kode dari Erina


__ADS_3

Pulang dari Rumah Sakit, Erina dan Zaid memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Mandi bersih, setelah itu keduanya menemani Raka yang ternyata masih belum tidur. Menanyai apa yang dilakukan Raka selama mereka pergi ke Dokter Kandungan.


"Selama Mama dan Papa ke Rumah Sakit, Raka ngapain?" tanya Erina.


"Raka tadi nonton film ditemenin Bibi kok, Ma," balas Raka.


Yang dimaksud Raka dengan bibi adalah ART di rumah mereka. Memang ada tiga ART di rumah Zaid. Walau memang tidak ada babysitter khusus untuk Raka. Sebab, Zaid dan Erina memang sedari kecil mengurus Raka sendiri tanpa menggunakan jasa Babysister.


"Jadi, Mama beneran hamil?" tanya Raka sekarang kepada Mamanya.


Erina pun menganggukkan kepalanya. "Benar, Raka. Mama hamil. Sudah sepuluh minggu," balas Erina.


Sekarang Raka terlihat begitu senang. Itu berarti memang dia akan memiliki adik. Raka sangat senang karena akan memiliki teman untuk bermain di rumah, walau memang harus menunggu lama untuk itu.


"Yeay, jadi Raka benaran mau jadi Kakak. Kalau adiknya Sean akan lahir dua bulan lagi, Ma. Sean udah sering cerita sama Raka," ceritanya.


Erina tersenyum. "Raka yang harus sabar dulu yah. Nanti baru 7 bulanan lagi, adiknya Raka baru lahir. Sabar, biar adik tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna di dalam perutnya Mama."


Mendengar pengertian dari Mamanya, Raka segera menganggukkan kepalanya. Tentu dia akan menunggu. Bisa punya adik saja, Raka sudah senang.


"Oke, Mama. Sekarang temenin Raka tidur ya, Ma. Ditemenin Mama saja, Papa ke kamar aja," ucap Raka sekarang.

__ADS_1


Merasa diusir oleh putranya, Zaid menganggukkan kepalanya. "Baiklah, met bobok Raka. Papa sayang Raka," ucap Zaid dengan memeluk putranya itu terlebih dahulu.


Zaid akhirnya memilih untuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara, Erina menemani Raka untuk tidur terlebih dahulu. Dia membacakan buku cerita pengantar tidur untuk Raka sembari mengusapi kepala putranya itu. Hampir setengah jam, barulah Raka terlelap.


Erina akhirnya mematikan lampu kamar utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup. Setelahnya, Erina mengecup kening putranya itu.


"Terima kasih selalu menjadi anak yang pengertian, Raka. Mama selalu sayang kamu."


Setelahnya barulah Erina menuju ke dalam kamarnya melalui pintu penghubung. Wanita itu mengedarkan matanya, mencari sosok suaminya, rupanya Zaid tengah duduk di sofa dengan membawa tablet di tangannya. Erina tahu kalau itu adalah tablet pastilah suaminya itu baru mengecek laporan pekerjaan.


"Mas," sapa Erina. Sekarang dia menyusul duduk di samping suaminya itu.


Erina pun menganggukkan kepalanya. "Iya sudah bobok kok, Mas. Baru sibuk?" tanya Erina sekarang kepada suaminya.


Zaid dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak sudah hampir selesai. Aku mengecek laporan saja. Kenapa Sayang?" tanya Zaid.


Erina menggelengkan kepalanya. "Udah kerja dulu saja, aku tungguin," jawabnya.


Zaid akhirnya meminta Erina untuk menunggu. Sebab, hanya tinggal sedikit saja semuanya akan selesai. Erina menunggu. Wanita itu tapi bersandar di lengan suaminya, sesekali pandangan matanya menatap ke screen tablet yang dipegang suaminya. Sesekali Erina mencium lengan atau pipi suaminya.


Dalam hatinya, Zaid tersenyum. Sungguh, Erina benar-benar berubah. Ini dampak kehamilannya atau memang istrinya itu sudah berubah sekarang. Zaid masih membiarkan Erina. Kemudian, Zaid merasa geli kala tanpa sengaja, siku Erina yang semula ada di pahanya, lantas mengenai senjata miliknya.

__ADS_1


Pria itu menghela napas panjang. Itu kesengajaan atau refleks. Sebab, Zaid sudah merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya sekarang.


Erina diam-diam tersenyum sendiri. Kenapa, hamil ini dia maunya menempel terus dengan suaminya. Bahkan sekarang, rasanya Erina yang berhasrat kepada suaminya itu. Namun, sebagai wanita Erina memilih diam, sebatas memberikan kode tersembunyi saja. Jika, sampai suaminya tahu berarti Zaid memang seseorang yang peka, jika tidak Erina berjanji tidak akan marah.


Apa yang dialami Erina pun sangat wajar. Itu juga karena, Ibu hamil mengalami perubahan hormon dalam dirinya. Bahkan kadang hasrat bercinta itu datang dengan sendirinya. Sama seperti yang Erina rasakan sekarang, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya secara terang-terangan.


Hingga hampir lima belas menit berlalu, Zaid mematikan tabletnya. Lantas dia melihat Erina yang masih bergelayut manja di lengannya. Zaid mengusapi puncak kepala Erina.


"Kamu nungguin?" tanya Zaid singkat.


"Iya, kan tadi aku udah bilang mau nungguin kamu," balas Erina.


Setelahnya, Erina menegakkan punggungnya. Mungkin memang suaminya itu tidak peka. Sehingga, lebih baik sekarang mengajak suaminya itu untuk tidur saja. Apalagi, Erina juga mulai mengantuk.


"Ya, sudah bobok yuk, Mas. Tumben baru jam sembilan malam dan aku udah ngantuk," balas Erina.


Namun, Zaid menahan tangan Erina yang hendak berdiri. Pria itu tersenyum kecil dan berbicara dengan lirih. "Kamu yakin mau bobok. Aku tahu kode darimu. Mau?"


Ya Tuhan, Erina sungguh tidak menyangka ternyata suaminya itu tahu kode darinya. Seketika wajah Erina memerah, dia segera menunduk karena malu. Walau sudah menjadi suami istri, tetap saja ada rasa malu.


Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kode itu akan berhasil? Lanjut sekarang atau besok, Bestie? 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2