
Keesokan harinya, Zaid benar-benar mengajak Raka untuk berjalan-jalan di taman kota. Sebagaimana permintaan Raka yang ingin jalan-jalan dengan Mama dan Papanya di taman kota. Akan tetapi, sekarang yang bersamanya adalah Papanya, sementara Erina masih berada di Butik miliknya.
"Jadinya, Mama enggak bisa ikut ya Pa?" tanya Raka kepada Papanya.
"Semalam Papa sudah berbicara kepada Mamamu, katanya Mama akan menyusul nanti sepulang dari bekerja," balas Zaid.
Raka yang berjalan di samping Papanya pun mendengus kesal. Dia berharap bisa menikmati sore dengan Mama dan Papanya, sama seperti anak-anak yang lain. Akan tetapi, lagi-lagi Mamanya lebih memilih pekerjaannya dibandingkan dirinya.
"Pa, kenapa dulu Mama tidak bekerja dan sekarang bekerja Pa?" tanya Raka lagi kepada Papanya.
"Dulu, sebelum Mama menikah dengan Papa, memang Mama bekerja Raka. Jadi, Mama menyalurkan bakatnya dan juga Mama kamu bisa mendesain beberapa baju," balas Zaid.
Kali ini pun, Zaid tidak berbohong. Memang dulu, sebelum menikah dengannya Erina adalah wanita karir dan juga istrinya itu lihai untuk menghasilkan beberapa desain pakaian dan menjualnya sendiri di butiknya. Namun, setelah hamil dan memiliki bayi, memang Erina memilih untuk mengasuh Raka di rumah.
"Tidak usah murung, Mama kamu berjanji nanti akan menyusul ke sini kok," balas Zaid lagi.
Raka tampak menganggukkan kepalanya perlahan, dan kemudian berjalan dengan tangannya yang digandeng Papanya. Ketika sore yang tenang, ada suara anak-anak kecil yang bermain di taman, dan angin yang bertiup sepoi-sepoi, keduanya melintasi beberapa pepohonan yang rindang. Lantas, Raka lebih mengeratkan genggaman tangannya di tangan sang Papa.
"Raka takut pohon, Pa," ucapnya.
Zaid menyadari bahwa luka dan sakit yang dialami Raka sepenuhnya adalah karena tertimpa pohon. Sehingga ketika melihat pohon dan angin bertiup kencang, otaknya merespons dan itu menjadi rasa takut yang hadir dengan sendiri yang dialami Raka. Menjadi trauma tersendiri ketika berada atau berjalan di bawah pohon.
"Kita ke sana saja, Nak," ajak Zaid yang terus menggandeng tangan putranya itu dan mengajaknya menjauh dari beberapa pepohonan yang ada di taman kota.
__ADS_1
Kemudian keduanya duduk di kursi kayu dengan warna putih yang ada di taman itu. Tampak Raka masih mengamati beberapa anak yang bermain dan berlari-larian dengan Papa dan Mamanya. Sementara dia di sini hanya bersama dengan Papanya saja.
"Kalau lari-lari gitu, boleh enggak sih Pa?" tanya Raka dengan menunjuk ke seorang anak yang dia lihat sedang berlari-larian.
"Boleh, tapi enggak kencang-kencang. Mau lari?" tanya Zaid.
Raka pun kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya Pa, maunya sih, Raka lari, nanti Papa yang mengejar Raka. Gimana, mau enggak Pa?" tanyanya lagi.
"Yuk," balas Zaid.
Sang Papa membiarkan Raka untuk berlari terlebih dahulu dan kemudian dia mengejar Raka. Raka yang semula murung pun kemudian bisa tersenyum dan tertawa.
"Tangkap Pa, tangkap!"
Terlihat keceriaan di wajah Raka. Pun Zaid yang juga merasa bahagia bisa menghadirkan kebahagiaan untuk putranya itu. Walau hanya sebatas lari-lari, tetapi Raka terlihat bahagia. Setelah merasa kecapekan, keduanya kembali duduk di rerumputan, dan kali ini Zaid memberikan minum untuk Raka.
"Makasih Pa ... Papa juga minum yah," balas Raka.
Keduanya pun berbagi air mineral dari satu botol yang tadi Zaid beli di taman. Hingga beberapa saat setelahnya. Raka kembali bertanya kepada Papanya.
"Jam berapa Pa?" tanya Raka lagi.
"Jam lima sore, Raka. Kenapa?" balas sang Papa.
__ADS_1
"Sudah jam lima sore kok Mama belum datang ya Pa? Apa jangan-jangan Mama hari ini pulang malam lagi ya Pa?" tanya Raka.
Zaid tersenyum di sana. "Kalau Mama bekerja, biarkan saja yah. Kan ada Papa di rumah yang menjaga Raka. Papa juga bekerja dari rumah. Yang penting kan Mama sudah bersama-sama Raka lagi," ucap Zaid.
Raka yang mendengarkan penjelasan dari Papanya pun seakan diperhadapkan dengan realita bahwa yang penting sekarang Mamanya tinggal bersamanya dan tidak pergi lagi. Dalam situasi ini pun, Raka berusaha untuk memahami apa yang disampaikan oleh Papanya.
Hingga sepuluh menit berlalu, kemudian tampak mobil hitam mewah yang berhenti di taman, dan ada Mamanya yang turun dari mobil itu, sementara ada pria tampan yang membukakan pintu mobil untuk Erina.
Raka yang mengetahui bahwa itu adalah Mamanya pun segera berdiri. "Papa, itu Mama kan? Kok dianterin pria, Pa?" tanyanya.
Zaid pun mengamati siapa pria yang dimaksud oleh Raka, kemudian Zaid tersenyum kepada putranya itu. "Mungkin hanya temannya Mama," balas Zaid.
"Ayo, Pa ... kita ke sana," ajak Raka kepada Papanya.
Mengikuti apa yang Raka mau, kemudian keduanya menuju ke dekat parkiran, dan di sana Raka sedikit berlari ke arah Mamanya. "Mama ... Mama!"
Terkesiap dengan Raka yang berlari ke arahnya, Erina pun menoleh dan mengedarkan pandangannya mencari ke arah sumber suara yang kian dekat. Hingga akhirnya, Erina pun melambaikan tangannya kepada Raka.
"Hei, Raka ... kamu ke sini?" tanyanya.
"Raka melihat Mama sama Om ini," ucap Raka dengan mengamati pria tampan yang berdiri di depan Erina.
Erina pun tersenyum di sana. "Oh, ini namanya Om Erick. Kenalan yah," balas Erina.
__ADS_1
"Halo Om, aku Raka," ucapnya dengan bersalaman dengan pria yang bernama Erick itu.
Sementara di belakangnya ada Zaid yang berjalan mendekat. Walau wajahnya biasa saja, tetapi Zaid merasa kesal di dalam hatinya. Tidak mengira bahwa Erina, akan datang bersama dengan seorang pria. Mungkinkah sebenarnya ada hubungan khusus antara Erina dengan Erick?