
Jika ada orang yang benar-benar berbahagia sekarang ini, tentu adalah Raka. Dia sangat senang menerima kabar bahwa mulai hari ini, Mamanya akan tinggal bersamanya. Itu berarti, Raka tidak perlu menunggu-nunggu layaknya menghitung hari untuk bisa bertemu lagi dengan Mamanya. Akan tetapi, Raka bisa lebih sering bertemu dengan Mamanya.
Hanya saja, Raka akan mengingat hari-hari di mana Mamanya akan bekerja. Akan tetapi, dengan pemikiran Raka yang sederhana, tentu semua ini jauh lebih baik. Toh, sepulang kerja Mamanya juga akan berada di rumah untuk menemaninya.
"Kalau waktu Raka terapi ke Rumah Sakit nanti, Mama bisa menemani Raka enggak?"
Anak yang kini berusia empat tahun itu bertanya. Walaupun sebenarnya dalam hati, Raka ingin ditemani Mamanya juga ke Rumah Sakit untuk melakukan terapi. Namun, Raka sendiri juga tidak berani memaksa Mamanya. Yang dia lakukan sekarang adalah bertanya.
Tampak Erina tersenyum di sana dan merangkul putranya itu. "Kalau Mama sedang tidak bekerja, nanti Mama akan ikut ke Rumah Sakit dan menemani kamu terapi ya, Raka. Kemarin itu waktu terapi Dokternya baik enggak?"
"Iya Ma, Dokter Sonny baik kok, Ma. Dia selalu menolong Raka. Selain itu, Dokter Sonny kini menjadi temannya Papa," cerita Raka dengan senang.
Mendengar cerita Raka, lagi-lagi Erina tersenyum di sana. "Nanti lain kali, Mama akan ikut yah. Namun, kalau Mama bekerja, maafkan Mama karena tidak bisa mendampingi Raka terapi," balasnya.
Raka kecil itu pun menganggukkan kepalanya. Di masa sekarang ini, Raka hanya bisa memahami dan mengalah. Sebab, jika ingin memberontak yang ada kepalanya akan bertambah sakit. Hanya alasan itu saja, Raka menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Raka anak yang pintar dan bisa memahami Mama," ucap Erina.
Terkadang orang tua tidak tahu ketika anak setuju dan menganggukkan kepalanya adalah wujud anak yang pintar dan bisa memahami orang tuanya dan kondisi di sekitarnya yang sedang terjadi. Tanpa mencari tahu di dalam hatinya apakah seorang anak bisa benar-benar menerimanya. Sebab, respons yang diberikan anak, acap kali berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.
Zaid hanya diam melihat Erina dan Raka. Walau sebenarnya Zaid sendiri tahu bahwa Raka menginginkan Mamanya untuk ikut serta dan menemaninya terapi. Namun, memaksa Erina yang keras kepala rasanya juga sia-sia.
"Papa yang akan menemani Raka yah ... Papa akan selalu menemani Raka sampai Raka sembuh nanti," ucap Zaid di sana.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, Papa. Dulu, Raka mengira Papa tidak sayang kepada Raka karena Papa bekerja terus dan sering ke luar kota. Sekarang, Raka bisa merasakan kasih sayang Papa untuk Raka."
Hingga ketika malam tiba, kali ini Raka meminta Mama dan Papanya yang menemaninya tidur. Walau canggung, dan berat, tapi keduanya tetap bersikap sewajarnya saja.
"Apa setiap malam Raka bisa melihat Mama dan Papa seperti ini?"
"Iya, Nak," jawab Zaid.
__ADS_1
Lagipula sekarang dia sudah rujuk dengan Erina. Sehingga setiap malam, keduanya bisa menemani Raka hingga putranya itu tertidur. Melihat Raka bahagia adalah tujuan Zaid.
"Makasih Mama dan Papa," ucap Raka kali ini, dan kemudian Raka perlahan-lahan terlelap menuju ke dalam alam mimpi.
Kurang lebih setengah jam usai Raka tertidur, Zaid dan Erina masuk ke dalam kamar mereka. Bisa dikatakan ini adalah malam pertama untuk keduanya pasca rujuk. Namun, berdasarkan kesepakatan mereka bersama, tidak ada kontrak fisik untuk keduanya.
Bahkan sekarang, di dalam kamar itu terdapat dua tempat tidur dengan ukuran King Size. Yang membedakan adalah sprei dan bed cover di sana. Jika milik Erina mengenakan sprei dengan motif bunga-bunga. Sementara tempat tidur Zaid mengenakan sprei dengan warna Abu-Abu.
Memasuki kamar itu dan melihat ada dua ranjang di sana, Erina merasa lega. Sebab, dia memang tidak mau untuk satu ranjang dengan Zaid.
"Apa yang kamu mau sudah ku lakukan. Itu sprei kesukaan kamu, aku masih menyimpannya," ucap Zaid.
Ya, sprei dan bed cover dengan motif bunga-bunga itu dipilih Zaid bukan tanpa alasan, melainkan karena memang Erina menyukai motif bunga-bunga atau Shabby Chick. Oleh karena itulah, ranjang milik Erina dipakaikan sprei bunga-bunga.
"Hmm, makasih," balas Erina.
__ADS_1
Erina akhirnya menaiki ranjang itu dengan perlahan, kemudian menunggungi Zaid. Pun dengan Zaid yang memilih berbaring dan memunggungi Erina. Rasanya begitu lucu, mereka usai rujuk. Namun, pemandangan yang ada di dalam kamarnya justru ada dua ranjang di sana. Tidur dalam satu kamar, tapi dua ranjang. Bukti nyata, keduanya tengah memenuhi syarat pertama dari kata rujuk yang mereka sepakati bersama.