
Tidak seperti biasanya, Erina biasanya egois dan mementingkan pekerjaannya. Namun, sekarang Erina memilih untuk pulang cepat dengan Zaid. Tentu saja, Zaid juga bahagia ketika Erina memutuskan untuk pulang bersamanya.
"Yakin ikut aku?" tanya Zaid begitu sudah memasuki mobil.
"Iya, aku ikut ... emangnya mau ikut siapa lagi?" tanya Erina yang kini justru tersenyum.
"Baikkah, Nyonya ... biar saya antar," balas Zaid yang juga tertawa.
Usai itu, Zaid segera melajukan mobilnya dan menuju ke sekolah Raka. Bahkan keduanya turun bersama dan menaiki anak tangga menuju ke kelas Raka. Tampak harmonis menjemput Raka. Lima menit menunggu, barulah Raka turun.
"Mama ..., Papa."
Melihat Mama dan Papanya bersama-sama, Raka tentu sangat senang. Jarang-jarang juga kan melihat kebersamaan Mama dan Papanya menjemputnya sekolah. Sehingga, melihat Mama dan Papanya bersama, tentu Raka menjadi sangat senang.
"Hei, sudah selesai? Mau langsung pulang?" tanya Zaid.
"Makan bersama yuk, Pa ... Raka lapar," balasnya.
__ADS_1
Baiklah, sekarang Zaid mengajak Raka dan Erina untuk makan siang bersama. Bahkan, makan siang kali ini terasa spesial karena memang ada yang sedang bahagia.
"Ke Restoran ayam goreng ya, Pa," pinta Raka.
Zaid kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke, kita akan makan ayam goreng kesukaanmu," balas Zaid.
Menempuh perjalanan setengah jam, sekarang mereka sudah tiba di restoran ayam cepat saji. Menu yang Zaid pesan, tentu adalah nasi dan ayam. Sementara Erina meminta kentang goreng dan spaghetti.
"Papa, kalau Raka mau es krim?" tanyanya.
Akhirnya, Raka memakan nasi dan ayam goreng terlebih dahulu. Sekarang, Raka tersenyum mengamati Mamanya yang berkali-kali menyuapi kentang goreng kepada Papanya. Ini jadi pemandangan baru untuk Raka, karena biasanya Mamanya tidak pernah melakukan itu.
"Mama sayang Papa yah? Itu Papa disuapin terus," tanya Raka.
Jika biasanya Erina hanya tersenyum, sekarang Erina menganggukkan kepala dan memberikan jawaban kepada Raka. "Mama sayang Papa dong, Raka. Sama seperti Mama yang sayang sama kamu," balas Erina.
"Raka senang Mama sayang kepada Papa. Jangan bertengkar ya, Ma," pinta Raka sekarang.
__ADS_1
Lagi Erina menganggukkan kepala. Sekarang, hatinya menjadi lebih sensitif dengan perkataan Raka. Mungkin ada serpihan bayangan yang tersisa di memori Raka, dengan pertengkaran Erina dan Zaid dulu.
"Maafkan Mama kalau dulu pernah marah sama Papa yah," ucap Erina dengan tulus.
Sementara ada senyuman yang terbit di wajah Raka. "Iya, Mama. Penting Mama sudah pulang ke rumah. Sudah tinggal bersama Raka dan Papa. Raka janji tidak akan nakal, Ma," balasnya.
"Raka jadilah diri sendiri. Lakukan apa yang kamu sukai, asalkan itu positif. Mama tidak akan meninggalkan Raka lagi," balas Erina.
"Yeay, makasih Mama. Raka sayang Mama," balas Raka yang begitu tampak senang.
Di sini pentingnya orang tua juga meminta maaf kepada anak. Pandangan orang tua zaman dulu adalah orang tua selalu benar, perkataan dan perintah dari orang tua itu seperti perkataan Tuhan. Sehingga, anak tidak boleh membantah. Pola asuh otoriter, memang membuat anak menjadi begitu taat, tapi mereka tumbuh jadi anak penakut dan memiliki jiwa pemberontakan. Sementara, di zaman ini adalah demonstrasi di mana memberikan kebebasan untuk anak, memberi tempat untuk anak berbicara, tapi menekankan aturan juga yang harus diikuti oleh anak.
Pola asuh yang salah bisa membuat anak merasa tertekan. Sekarang, waktunya Erina meminta maaf. Melakukan rekonsiliasi dengan anak sendiri. Bahkan memang orang tua harus menjadi teladan untuk mau meminta maaf.
"Sekali lagi maafkan Mama yah, Mama juga sayang Raka," balas Erina.
Jika ada yang merasakan hatinya benar-benar hangat itu adalah Zaid. Raka rupanya masih menyimpan memori kemarahan Mamanya dulu, dan sekarang Mamanya yang mau meminta maaf. Tentu ini adalah hal yang baik dan berharap keluarga mereka bertiga akan semakin bahagia dan semakin harmonis. Ini masih awal, tapi Zaid sangat berharap keluarganya bisa menjadi lebih kuat.
__ADS_1