Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Mempertimbangkan


__ADS_3

Erina masih terdiam di tempatnya. Dia masih bingung dengan Zaid yang tiba-tiba mengajaknya rujuk. Tiada angin, tiada hujan, mantan suaminya itu kini mengajaknya kembali rujuk. Rasanya terasa aneh dan kian membuatnya bimbang. 


"Abaikan saja perasaanku, Rin ... jika kamu mau, lakukanlah untuk Raka, putra kita. Hatiku terasa nyeri tiap kali Dokter Sonny mengatakan ada sakit yang diderita oleh Raka. Mulai dari kerusakan sistem limbik dan potensi kehilangan memorinya untuk jangka panjang. Dalam sakit yang diderita Raka, secara mental Raka mengalami guncangan, dan itu karena perceraian kita," ucap Zaid. 


Memang di sini Zaid sadar diri bahwa mental Raka terguncang pastilah karena perceraiannya dengan Erina. Di usia yang masih di bawah lima tahun, di mana Raka mengenal dan mempercayai potret keluarga pastilah terdiri dari Mama, Papa, dan Anak. Akan tetapi, dia sendiri justru kehilangan Mama dan Papanya. Foto keluarga impian yang dia lihat sekarang tidak utuh. 


Untuk itu, Zaid ingin memperbaiki semua. Mungkin dia bisa mengesampingkan perasaannya, dan fokus dengan Raka. Bahkan jika rujuk menjadi satu-satunya cara agar Raka bisa sembuh dan ingatannya kembali, maka Zaid akan melakukannya. 


"Semua ini terasa seperti permainan untukku," balas Erina. 


Di satu sisi, Erina merasa bahwa semua ini terasa seperti permainan. Di mana baru hampir dua bulan berjalan, itu berarti masa iddahnya belum selesai dan Zaid meminta rujuk. 


"Jika bukan karena Raka, aku tak akan memintanya, Rin," balas Zaid. 


Kembali pada niatan awalnya bahwa dia mengajak Erina rujuk semua itu adalah karena Raka. Memastikan Raka pulih dan sehat baik secara fisik dan mental adalah tujuannya. Bahkan Zaid mengabaikan semuanya dan meminta Erina untuk mau rujuk dengannya. 


"Raka berhak bahagia, Rin ... tidak ada salahnya kita yang dewasa mengesampingkan perasaan kita terlebih dahulu. Sapa tahu dengan tinggal bersama dan sama-sama mengasuh Raka semuanya akan membaik. Putra kita satu-satunya akan membaik," balas Zaid. 


"Jika harus memutuskan sekarang aku tidak bisa. Aku harus berpikir terlebih dahulu, Zai," balas Erina. 


"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?" tanya Zaid kemudian. 

__ADS_1


Kini Erina kembali terdiam dan berpikir. Dia tidak tahu juga berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk berpikir. Yang pasti lebih dari satu hari untuk bisa memikirkan semuanya. 


"Sepekan mungkin," balas Erina. 


Zaid pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah ... hanya saja jika kurang dari sepekan dan kamu sudah menemukan jawabannya. Itu justru lebih baik, Rin," balas Zaid. 


"Baiklah," jawab Erina dengan singkat. 


Zaid kemudian menatap Erina yang beberapa kali memijat keningnya. Kemudian, Zaid kembali berbicara kepada Erina. "Apa pun syarat yang kamu minta, aku akan memenuhinya, Rin. Apa pun, yang pasti Raka melihat Mama dan Papanya ada di rumah. Tidak terpisah seperti ini," ucap Zaid. 


"Boleh mengajukan syarat apa pun?" tanya Erina. 


Dengan sangat yakin, Zaid pun menganggukkan kepalanya, "Ya, syarat apa pun akan kupenuhi untuk Raka. Bahkan uang bulanan untukmu akan kunaikkan. Tidak masalah," balas Zaid. 


Mungkin Erina harus tahu dulu apakah Zaid masih harus bepergian ke luar kota dan membuat berbagai cabang kafe miliknya. Memang intensitas kepergian Zaid tidak tiap hari. Akan tetapi, ketika Zaid pergi Erina merasa seorang diri, kesepian, dan juga semua kegiatannya fokus sekitar anak dan rumah saja. 


"Tidak. Asisten pribadiku kini yang akan ke luar kota. Aku akan bekerja dari rumah," balas Zaid. 


Tampak Erina menganggukkan kepalanya. Setidaknya memang itu wujud nyata bahwa Zaid ingin mengasuh Raka. Melimpah kasih sayang dan perhatian untuk Raka. 


"Baiklah aku akan memikirkan dan juga mempertimbangkan semuanya. Bahkan untuk syarat yang mungkin kuajukan," balas Erina. 

__ADS_1


Belum selesai perbincangan Zaid dan Erina, pintu kamar sudah diketuk dari luar. Ada Raka yang sudah menunggu dan masuk ke dalam kamar Mama dan Papanya. 


"Mama dan Papa masih lama?" tanyanya. 


"Tidak, Nak ... sudah hampir selesai. Ada apa?" tanya Zaid. 


"Waktunya minum vitamin, Papa. Biar kepala Raka cepat sembuh," ungkapnya. 


Zaid tampak melihat jam yang ada di dalam kamarnya. Kemudian dia menganggukkan kepalanya, ya ini memang waktunya untuk meminum vitamin. Oleh karena itu, Zaid segera berdiri. 


"Yuk, minum vitamin sama Papa mau?" tawarnya. 


"Mau, Pa ... sama Papa dan Mama yah," pinta Raka. 


Akhirnya Erina dan Zaid sama-sama berdiri. Mereka menggandeng tangan Raka, dan menuju ke dalam kamar Raka. Setelahnya Erina mengambilkan vitamin untuk Raka, sementara Zaid membantu meminumkan air putih. Hingga Raka sudah berhasil menelan vitaminnya. 


"Raka senang ada Mama dan Papa. Kedua orang tua Raka yang sayang sama Raka," ucapnya. 


Zaid dan Erina saling pandang. Hingga Erina tersenyum dan mengusapi puncak kepala Raka. "Minum obat dan vitamin yang rutin ya Raka. Biar Raka cepat sembuh," ucap Erina. 


"Iya Mama. Apalagi kalau Mama tinggal di sini, di rumah ini dengan Raka pastilah Raka akan lebih cepat sembuhnya," balas Raka. 

__ADS_1


Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Raka membuat Erina berpikir. Benarkah jika dia tinggal di rumah besar itu lagi, Raka akan lebih cepat sembuh? Benarkah Zaid bisa menerima semua syarat yang dia ajukan untuk rujuk dengannya? Walau ada syarat yang tidak masuk akal, apakah Zaid bisa menerimanya? 


__ADS_2