Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Dirawat Suami


__ADS_3

Zaid benar-benar kepikiran dengan Erina yang mendadak berkeringat dingin dan wajahnya pucat seperti ini. Itu bisa Zaid rasakan manakala mengganti pakaian Erina. Tubuh istrinya itu terasa dingin karena keringat yang terus turun. Setelah meminum Teh dengan daun mint, Erina mengakui sudah tidak begitu mual. Walau sekarang, dia hanya duduk bersandar saja, dengan beberapa bantal yang Zaid taruh di pinggang istrinya itu.


"Padahal tadi aku seneng banget, kamu ceria banget kala bertemu dengan Sara dan Marsha. Eh, kok selesainya malahan sakit kayak gini," ucap Zaid.


"Kecapekan saja mungkin, Mas. Seperti yang pernah kamu bilang kalau aku kecapekan seminggu ini. Kurang istirahat. Paling nanti juga sembuh," balas Erina.


Zaid kemudian menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian berdiri dan berkata kepada Erina sebentar. "Sayang, aku ganti baju sebentar ya, Sayang," pamitnya.


"Jangan lama-lama ya, Mas," balas Erina.


Zaid tersenyum, rasanya dia senang ketika Erina ingin selalu bersamanya. Itu berarti memang Erina cinta kepadanya. Pria itu menganggukkan kepalanya, dan kemudian segera melepas kemejanya, menggantinya dengan kaos rumahan saja, dan juga celana training panjang saja. Kalau tidak ada mertuanya yang menginap di rumah, Zaid memilih untuk memakai celana pendek. Namun, malu jika ada mertua di rumah, dan dia hanya mengenakan celana pendek saja.


"Nungguin?" tanya Zaid dengan tersenyum kepada istrinya itu.


"Iya," balas Erina dengan singkat.


Usai itu, Erina duduk lebih mendekat kepada suaminya. Kepalanya pun bersandar di dada suaminya. Entah, rasanya bisa dekat dengan Zaid membuatnya lebih baik. Bahkan Erina sengaja mendekatkan hidungnya di kaos yang Zaid kenakan dan menghirup aroma parfum suaminya itu dalam-dalam. Tidak biasa, Erina bersikap seperti ini, sehingga Zaid pun bertanya kepada istrinya itu.

__ADS_1


"Tumben sih, Sayang ... kamu ndusel kayak gini," ucap Zaid dengan mengusapi kepala Erina.


"Baru pengen, Mas. Lebih segar rasanya, kepalanya tidak begitu pening," akunya.


Zaid yang mendengarkan Erina pun terkekeh perlahan. Ingin mencium kening Erina, tapi pintu kamar mereka tiba-tiba ada yang membuka dan itu adalah Raka. Sehingga, Zaid segera mengurungkan niatnya. Dia memilih mengusap perlahan kepala istrinya itu.


"Mama ... Mama sakit yah? Tadi Oma dan Opa bilang, Mama sakit," tanya Raka yang tampak sedih ketika mendengar bahwa Mamanya sakit. Raka juga tampak kaget karena tadi saja Mamanya masih sangat sehat. Sepanjang hari, Mamanya juga beraktivitas ke sana-kemari untuk mengurus launching butik barunya.


"Sedikit masuk angin saja, Sayang," balas Erina.


"Jangan sakit ya, Ma ... Raka sedih loh kalau Mama sakit. Papa jagain Mama yah," ucap Raka sekarang.


"Pasti, Nak ... ini Papa sedang menjaga Mama kamu," ucapnya.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Mama kecapekan yah?" tanya Raka lagi.


"Iya, kecapekan saja, Sayang ... doakan Mama segera sehat yah," balas Erina.

__ADS_1


"Iya, Mama ... Raka langsung ke sini ketika Oma dan Opa bilang bahwa Mama sedang sakit," balas Raka lagi.


Ya, bagaimana pun Raka sangat khawatir dengan Mamanya. Namun, melihat Papanya yang menjaga Mamanya sekarang Raka merasa tenang. Dia melihat sendiri sekarang Mama dan Papanya saling menyayangi. Tidak lagi dingin, sebagai anak Raka pun senang.


"Mama buruan bobok saja, Ma ... Raka dulu juga begitu. Boboknya ditemenin Papa, dan esok hari sudah sembuh," ucap Raka.


Erina menganggukkan kepalanya. "Iya, Papa nanti akan menemani Mama kok," balasnya.


"Baiklah Mama ... get well soon, yah. Raka sayang Mama. Jangan sakit," ucap Raka dengan memeluk Mamanya.


Setelah itu, Raka berlari dan keluar dari kamar. Sudah ada Oma dan Opanya yang menunggu Raka. Kemudian Opanya berkata sebentar kepada Erina dan Zaid.


"Kalian istirahat saja, biar kami yang menemani Raka tidur. Zai, titip dan jaga Erin yah," ucap Opa.


"Pasti, Ayah," balas Zaid.


Begitu pintu sudah kembali ditutup, Erina kemudian segera menempel lagi kepada Zaid. Terlihat masih lemas, tapi dia selalu mendekat kepada Zaid. Sementara Zaid sendiri memeluk Erina, mengusapi kepalanya, dan beberapa kali mengecup kening Erina. Semoga saja, memang ini hanya masuk angin atau kecapekan. Namun, di dalam hati jika memang Erina masih sakit, Zaid berniat membawa Erina ke Dokter esok hari.

__ADS_1


__ADS_2