Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Awal Mula Kisah Keduanya


__ADS_3

Dua Tahun yang Lalu ....


Ketika Raka berusia dua tahun dan sudah waktunya lepas ASI, maka Erina pun berusaha untuk menyapih Raka. Menyapih anak itu selalu tidak mudah. Tidak hanya fisik seorang ibu yang merasa kecapekan dan juga merasakan payu-dara yang bengkak dan sakit karena ASI tidak bisa dikeluarkan dan diminum oleh Raka. Begitu juga dengan Erina yang merasa begitu capek kala itu. Selain itu Raka kecil juga lebih banyak menangis


Di kala Raka sedang tantrum hingga sampai tengah malam, Zaid justru sedang ada perjalanan bisnis ke Malang untuk membuka kafe miliknya di kota Apel itu. Sebelum berangkat ke Malang, Zaid sudah berpesan kepada Erina untuk menunda satu pekan saja waktu untuk menyapih Raka, menunggunya datang dari Malang.


"Sayang, tunda satu pekan saja menyapihnya, Raka ... tunggu aku pulang dari Malang. Toh, dua tahun lebih sedikit kan tidak masalah juga," ucap Zaid.


"Enggak apa-apa, Mas ... aku bisa kok," balas Erina.


Bahkan Erina memberikan jawaban pun penuh dengan kepercayaan diri dan juga tidak keberatan sama sekali. Bahkan Erina merasa bahwa dirinya akan bisa untuk menyapih Raka.


"Yang, menyapih anak itu berat. Tunggu satu pekan saja. Aku akan mendampingi kamu menyapih Raka. Nanti Raka bisa tantrum, dan juga sumber ASI kamu bisa bengkak. Kalau aku di rumah, aku bisa bantu kamu," balas Zaid.


Di sini pun Zaid berusaha menunjukkan supportnya sebagai suami dan sebagai seorang Papa untuk Raka. Dia ingin mendampingi Erina untuk menyapih Raka. Menyapih anak itu berat dan juga sakit, Zaid ingin turut andil di dalamnya.


"Tidak apa-apa, Mas. Nanti pasti berhasil juga kok," balas Erina.

__ADS_1


Zaid hanya bisa mende-sah kasar. Istrinya itu memang sudah memiliki keinginan justru akan bersikap cenderung keras kepala. Sekadar menunda satu pekan saja tidak mau, dan justru merasa bisa untuk menyapih Raka sendiri.


Sampai akhirnya dua hari berlalu, dan Erina di rumah benar-benar kesusahan dengan Raka. Dia merasa kurang tidur, kecapekan, dan juga sumber ASI-nya yang bengkak sampai dirinya mengalami demam. Walau ada ART di rumah, tapi Erina akhirnya tumbang karena kondisinya yang menurun.


Di kala seperti ini dengan merasa tidak ingin merepotkan dan menambah pikiran Zaid yang sedang berada di luar kota. Erina meminta bantuan Erick, sahabatnya dari kelas Desain dan Fashion. Erick lah yang mengantar Erina untuk berobat ke Dokter dan mendapatkan suntikan vitamin untuk memulihkan kondisi.


"Sudah, Rin ... perkara anak itu urusan suami dan istri. Kenapa kamu membenamkan dirimu dengan perkara anak?" ucap Erick.


"Mas Zaid baru mengurus pembukaan kafe di Malang, Rick. Lagian aku sendiri yang bersikeras untuk mengurus Raka seorang diri," balas Erina.


Erick pun menghela nafas panjang dan menatap Erina. "Setelah memiliki anak, kamu tidak lagi bersinar, Erina. Di mana Erina yang dulu yang ceria dan energik? Erina yang aktif dalam fashion dan memiliki passion untuk menciptakan busana," ucap Erick kala itu.


Ketika putranya sudah tertidur, rupanya Erina sudah merefleksi dirinya sendiri. Benar semua masa muda sudah hilang ketika dirinya memutuskan untuk dijodohkan dengan Zaid. Walau suaminya itu adalah pria yang baik dan memperlakukannya dengan sangat baik, tetapi memang Erina menyadari ada sisi kehidupan pribadinya yang hilang.


Jarang bertemu dengan sahabatnya, meninggalkan karirnya sebagai desainer, dan sepenuhnya terbenam dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan Raka. Hingga air matanya berlinang dengan begitu saja.


"Raka, apakah Mama salah jika Mama ingin bahagia?"

__ADS_1


Sebatas bertanya kepada putranya yang tentunya tidak bisa memberikannya jawaban saja Erina terisak dalam tangisannya. Di saat itu justru Erina mendapatkan panggilan telepon dari Erick. Melihat nama Erick yang tertera di layar handphonenya, Erina pun menyeka air matanya dan menerima panggilan dari Erina.


"Gimana, Rin ... kamu sudah minum obatnya? Sudah agak baikan belum?" tanya Erick.


"Hmm, iya ... sudah, Rick," balas Erina.


"Syukurlah ... kalau perlu bantuan apa pun, hubungi aku saja, Rin. Aku sudah pasti akan membantumu," ucap Erick.


Ketika seorang dalam keadaan bimbang dan terpuruk, lantas ada pihak lain yang memberikan perhatian. Di saat itulah Erina merasa ada Erick yang memperhatikannya. Bisa menjadi tempatnya berbagi.


"Iya, Rick ... sorry kalau aku bakalan merepotkan kamu," balas Erina.


"No problem, Erin. Apa pun untukmu pasti akan kulakukan," balas Erick lagi.


"Makasih. Rick."


Dari kisah ini ada sisi-sisi yang memang secara fakta dirasakan oleh wanita yang semula adalah wanita karir dan setelah hamil dan punya anak harus meninggalkan pekerjaannya. Itu adalah fakta yang dialami sebagai besar wanita di dunia. Sementara Wanita yang terlalu membenamkan diri, sampai lupa untuk memenuhi kebutuhan sendiri juga merasa dirinya kehilangan jati diri. Ditambah ketidakjujuran dengan pasangan kita ketika kita membutuhkan bantuan justru membuat semuanya semakin runyam.

__ADS_1


Sampai pada titik, mengalir dengan begitu saja ketika Erina butuh orang pertama yang akan dia hubungi adalah Erick, dan bukan suaminya, Zaid. Lama-lama, Erina merasa bahwa bukan Zaid yang bisa selalu ada di sampingnya, melainkan Erick yang selalu ada untuknya.


Kondisi baik yang perlahan-lahan beralih menjadi memburuk, dan akhirnya dua tahun kemudian Erina melayangkan gugatan kepada Zaid dengan dalih bahwa mereka sudah tidak sejalan. Selain itu, Erina ingin mengejar karirnya kembali sebagai seorang desainer. Untuk memenuhi kebutuhan dirinya yang selama 4 tahun terakhir tak terpuaskan, Erina memilih untuk berpisah dari Zaid kala itu.


__ADS_2