
Sungguh sangat disayangkan ketika orang tua harus bersatu dan fokus untuk kesembuhan anaknya. Sekarang yang terjadi, justru Erina dan Zaid seolah justru adu mulut bersama. Saling menyalahkan yang sebenarnya begitu unfaedah. Ya, tidak ada faedahnya sama sekali karena Raka saat ini butuh doa dan support penuh dari kedua orang tuanya.
"Kira-kira kapan Raka akan sadar, Dok?" tanya Zaid kemudian.
Kemudian tampak Dokter menatap kepada Zaid, "Seharusnya ketika obat biusnya sudah hilang, pasien akan sadar. Akan tetapi, tadi di hasil rontgen, ada cidera di bagian otak besar. Jadi, mungkin saja ada beberapa gejala lagi yang terjadi," ucap Dokter Sonny lagi.
"Amnesia Retrograde itu?" tanya Zaid.
"Ya, amnesia itu kehilangan ingatan. Akan tetapi, hasil rontgen buka terjadi benturan di bagian otak besarnya. Jadi, kita sama-sama berdoa semoga saja kondisi Raka baik-baik saja," balas Dokter Sonny.
Ya Tuhan, kali ini sekali lagi Zaid harus diperhadapkan dengan kenyataan pahit bahwa terjadi benturan di bagian otak besar Raka. Dia merasa begitu terpukul dan bersalah. Seharusnya, dia bisa lebih menjaga Raka. Namun, yang terjadi justru putranya itu harus merasakan semuanya seorang diri. Sungguh, Zaid merasa iba dengan kondisi putranya.
"Jadi, selama pasien belum siuman dan sadar, pergerakan sekecil apa pun tolong diperhatian, karena bisa menjadi analisis kami untuk mendeteksi apa yang terjadi kepada pasien. Pesan saya, saling kerja sama untuk Raka, doakan yang terbaik untuk Raka."
Setelahnya, di dalam kamar perawatan itu tampak Zaid dan Erina sama-sama terdiam. Keduanya sama-sama bingung dan juga berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Selain itu, Raka juga bisa segera mendapatkan kesadarannya kembali.
"Sudah, sebaiknya kita jangan bertengkar, Rin ... Raka membutuhkan kita, orang tuanya," balas Zaid.
"Kamu yang pertama kali mengajak bertengkar," balas Erina. Masih saja ada perasaan bahwa Zaid yang mengajaknya bertengkar dan juga kecelakaan yang menimpa Raka adalah kesalahan Zaid yang lali dan abai.
Zaid kali ini memilih diam dan tidak membalas ucapan Erina. Sebab, ketika dirinya membalas ucapan Erina yang ada justru akan terjadi adu mulut lagi. Benar yang dikatakan Dokter Sony bahwa sekarang Raka membutuhkan kedua orang tuanya yang akan mendukung dan mendoakan. Semoga saja semuanya bisa berjalan dengan lancar dan baik adanya.
__ADS_1
Hingga menit demi menit berlalu, dan jam demi jam berganti. Selama itu juga, Zaid dan Erina memilih diam. Jika Zaid duduk di depan brankar dengan memegang tangan Raka yang lepas dari jarum infus, sementara Erina duduk di sofa dan berselancar dengan gawai di tangannya.
"Rin, aku keluar sebentar ... aku belikan makan. Kamu mau makan apa?" tanya Zaid kepada mantan istrinya itu.
"Apa saja, terserah," balasnya.
"Mau minum apa?" tanya Zaid lagi.
"Americano Dingin, boleh," balasnya.
Zaid menganggukkan kepalanya dan kemudian berpamitan dengan Erina, "Titip Raka yah ... aku keluar dulu," ucapnya.
"Kamu salah, untuk apa kamu menitipkan Zaid kepada Mamanya sendiri," balas Erina yang terdengar sewot.
Ketika Zaid keluar, barulah Erina mengambil duduk di depan brankar Raka dan menggenggam tangan Raka di sana.
"Raka ... sadarlah, Nak ... kamu berkata ingin bertemu Mama, tapi sekarang kamu justru tidak sadarkan diri seperti ini. Jadi, sekarang ... sadarlah Raka," ucap Erina dengan menatap sendu putranya yang masih belum sadarkan diri.
Kurang lebih dua puluh menit berlalu, barulah Zaid datang dengan membeli makanan dan minuman untuk mereka berdua. Erina pun beranjak dan duduk di sofa.
"Makanlah Rin," ucap Zaid yang mempersilakan Erina untuk makan.
__ADS_1
Memang hanya Bento yang dibeli dari rumah makan yang ada di depan Rumah Sakit. Tidak lupa Zaid membelikan Es Americano pesanan mantan istrinya itu. Walau duduk di sofa, tetapi keduanya memilih diam dan fokus untuk mengunyah makanan serta mengisi perut mereka. Setelahnya, Zaid kembali duduk di samping brankar Raka. Pria itu duduk dan memandangi Raka yang masih tidak sadarkan diri.
Hingga akhirnya Zaid bisa mendengarkan igauan Raka di sana.
"Papa ... tolong Raka, Pa," pekik yang kencang dari Raka. Akan tetapi, Raka masih terpejam. Tubuhnya pun tidak bergerak, hanya bibirnya yang bersuara.
"Sakit ... sakit, Pa. Mama di mana, Pa," lagi Raka berbicara.
Jujur saja, mendengarkan suara Raka membuat hati Zaid berdesir nyeri. Tidak ingin menunggu lama, Zaid menekan pada tombol yang mengarah langsung ke perawat yang ada di sana. Tidak berselang lama, ada perawat yang datang dan Dokter Sonny.
"Ya, ada apa Pak?" tanya perawat itu.
"Raka, Dokter ... dia masih terpejam, tetapi terus-menerus mengigau," ucap Zaid yang benar-benar tampak bingung sekarang.
Dokter Sonny tampak melakukan pemeriksaan dan juga memantau kondisi Raka di sana. Benar, ketika Dokter Sonny di sana, Raka lagi-lagi mengigau, tapi tubuhnya tidak bergerak. Hanya mulutnya yang terbuka dan juga terus-menerus bersuara.
"Bagaimana Dokter, kenapa Raka seperti ini?" tanya Zaid lagi yang sudah merasa panik.
"Ini adalah gejala dari benturan yang mengenai otak besar, Pak ... Lobus frontalnya mengalami luka. Nah, lobus frontal ini terdapat di bagian depan, sejajar dengan dahi. Lobus frontal ini berfungsi untuk mengendalikan gerakan, ucapan, perilaku, memori, emosi, kepribadian, dan peran intelektual. Sehingga, pasien meresponsnya seperti ini. Memori terakhir yang dia ingat, itulah yang dia ucapkan. Cidera di lobus frontal berarti secara kognitif terganggu, tapi motoriknya bisa berbicara. Nanti kita akan terus pantau, semoga Raka bisa segera sadar," jelas Dokter Sonny.
"Jadi, berapa lama Raka bisa sadar, Dok?" tanya Erina kemudian.
__ADS_1
"Tergantung cidera di kepalanya, Bu. Seperti ini secara kognitif atau pemahaman, dia lemah. Hanya bibirnya yang membuka dan bersuara. Mulutnya bisa merespons, karena kata-kata manusia juga direkam oleh otak. Namun, motorik untuk tubuh yang lain harus menunggu optimalisasi Lobus Parietal yang akan menggerakkan tubuh. Sebab, otak mengendalikan tubuh manusia," jelas Dokter Sonny lagi.
Ya Tuhan ... ini adalah kondisi yang tidak baik. Tidak menyangka bahwa Raka pun mengalami cidera di bagian otak besarnya. Semoga saja, Raka bisa pulih dan segera mendapatkan kembali kesadarannya.