
Sekarang, Erina meninggalkan ruangan meeting. Dia menuju ke ruangannya dan juga merapikan barang-barangnya. Sembari dia menelpon Zaid, meminta tolong kepada suaminya untuk menjemputnya.
Ketika Erina berada di ruangannya dan mengambil barang yang akan dia bawa pulang, Mela mendatangi Erina di ruangannya.
"Rin, pikirkan sekali lagi. Butik ini berdiri karena aku dan kamu loh. Bagaimana dengan modal yang sudah kamu tanam di sini? Kita kan sudah berjanji akan membesarkan butik ini bersama-sama," ucap Mela.
Dulu, mereka memang berjanji untuk membesarkan butik bersama-sama. Membuka butik itu dari modal pribadi. Sekarang, ketika Erina memutuskan untuk mundur. Mela merasa juga harus mengembalikan sejumlah uang yang ditanam oleh Erina sebelumnya.
"Tidak apa-apa, La. Toh, aku merasa keputusanku sekarang ini benar. Aku jatuh cinta lagi kepada suamiku. Dia rumah untukku. Salahku juga dulu yang terlalu dekat dengan Erick, sekarang aku tahu akibatnya. Tetap besarkan butik ini, La. Aku yakin bahwa kamu bisa membesarkan butik ini dengan baik," balas Erina.
"Tidak kamu pikirkan lagi? Dulu kamu bilang bahwa passion kamu di dunia fashion seperti ini. Setelah berdiri dan kesuksesan di depan mata, kamu tinggalkan begitu saja?"
Lagi Mela bertanya karena memang dulu Erina berkata passionnya ada di dunia fashion. Lantas, sekarang Erina ingin meninggalkan semua begitu saja. Oleh sebab itulah, Mela meminta Erina untuk memikirkannya sekali lagi.
"Iya, masa depanku ada di rumah suamiku, La. Mas Zaid dan Raka adalah masa depanku," balas Erina.
__ADS_1
Sekarang tidak ada keraguan di hati Erina. Dia ingat dengan ucapan Zaid dulu, ketika dia sedang sedih, membutuhkan teman, maka orang pertama yang harus dia cari adalah suaminya. Sekarang, Erina sangat tahu kemana dia harus pergi. Tidak masalah meninggalkan pekerjaan karena Zaid nanti juga akan bisa memahami posisinya.
"Aku pamit ya, La ... sukses selalu untuk butik ini," balas Erina.
Erina keluar dengan membawa kotak persegi yang berisi beberapa barangnya. Dia menuruni tangga dan akhirnya membuka pintu butik itu. Ya, dulu dia berpikir akan bekerja dan mengejar passionnya. Namun, setelah semua terjadi Erina memilih resign. Sekaligus untuk menjauh dari Erick. Erina tahu jika dengan Erick hubungannya tidak akan membaik dan Erick akan selalu ikut campur urusan rumah tangganya.
Melihat Erina keluar dari kantornya dengan membawa kotak persegi, segera bergegas mendatangi Erina. Tampak Zaid juga cukup bingung.
"Sayang," sapa Zaid dengan suaranya yang lirih.
"Biar aku yang bawa," balas Zaid.
Pria itu segera mengambil alih kotak milik Erina. Melihat apa yang ada di sana. Namun, Zaid diam. Dia akan bertanya nanti ketika sudah berada di dalam mobil. Zaid sangat yakin bahwa Erina akan bercerita kepadanya nanti.
Setibanya di mobil, Zaid juga membukakan pintu untuk Erina terlebih dahulu. Barulah, dia menaruh barang-barang milik Erina di bagasi mobil. Setelah itu barulah Zaid memasuki mobil. Baru saja duduk, Erina sudah mengapit lengan suaminya dengan menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
__ADS_1
"Kangen, Mas," ucap Erina.
"Sama, kangen kamu. Ini baru jam 09.00 pagi dan kamu sudah pulang. Mau mampir terlebih dahulu ke suatu tempat?" tanya Zaid.
Namun, Erina menggelengkan kepalanya. "Pulang aja, Mas. Aku mau cepat-cepat sampai di kamar kita."
Perasan Zaid merasa tidak baik sekarang. Terlebih dengan Erina yang walau tersenyum, tapi wajahnya begitu sendu. Tanpa Erina berkata pun, pasti ada yang terjadi sekarang ini.
"Sayang, kamu seriusan tidak apa-apa kan? Kamu pernah mengingat ucapanku kan ... kalau kamu sedih, kamu merasa kesakitan, tidak ada teman, dan dalam kondisi terburukmu carilah aku ... aku akan menjadi orang yang mendengarkanmu. Memberikanmu pelukan. Jangan mencari orang lain. Jadikan aku support sistem untukmu," ucap Zaid sekarang dengan menatap wajah Erina.
Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku sedang bersama support sistemku. Kita pulang ke rumah dulu dan aku akan bercerita semuanya."
Ya, bagi Erina yang dia lakukan sekarang adalah mencari support sistemnya. Sebab, begitu keluar dari ruang meeting dia segera menghubungi Zaid. Namun, untuk berbicara, Erina sudah pasti akan menceritakan semuanya di rumah nanti. Cerita dengan tenang bersama Zaid di dalam kamarnya. Menunggu beberapa belas menit, sebelum mereka tiba di rumah.
Zaid menganggukkan kepalanya perlahan. Tangannya bergerak dan menggenggam tangan Erina. "Baiklah, aku akan membawamu pulang."
__ADS_1
Segera tiba di rumah adalah keputusan yang baik. Sebab, Zaid juga ingin segera mendengar cerita Erina. Namun, Zaid bersyukur ketika Erina terlihat sedang memiliki masalah sekarang yang Erina cari adalah dirinya. Bukan orang lain. Semoga saja Zaid akan selalu menjadi orang pertama yang Erina cari.