
Sungguh, Zaid benar-benar tidak mau memaksa Erina. Zaid hanya tahu dulu, Erina mengalami masa sulit. Untuk itu, dia tidak mau membebani Erina. Walau Raka sudah berbicara ingin meminta adik, tapi Zaid kembalikan semuanya kepada Erina.
"Kamu mau punya baby lagi gak, Sayang?" tanya Zaid perlahan.
Erina tersenyum, kemudian dia menatap ke Zaid. "Ya, dulu waktu menyapih Raka itu yang paling berat. Udah gitu, kamu keluar kota. Jadinya, aku sampai sakit," cerita Erina.
"Maafkan aku ya, Sayang. Dulu, aku banyak salah ya sama kamu. Fokus bekerja, sampai begitu," balas Zaid.
"Tidak apa-apa, Mas. Kalau tidak ada masalah di masa lalu, sekarang kita tidak akan bisa mengurai masalah dan lebih baik hubungannya," balas Erina.
Erina kemudian bertanya kepada suaminya. "Kamu tidak ingin bekerja, Mas?" tanya Erina kemudian.
"Kerja dari rumah aja, Sayang. Toh, semua kafe bisa berjalan sendiri. Kalau urgent aja baru ke kafe," balas Zaid.
Ya, semua pekerjaan yang bisa dia kerjakan dari rumah akan Zaid kerjakan dari rumah. Toh, bisa dihandle. Selain itu, kafe juga bisa berjalan semua. Yang penting laporan keuangan bisa berjalan dan Zaid tinggal menggaji karyawannya saja.
"Kenapa Mas?" tanya Erina.
"Ya, tidak apa-apa. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Sayang. Sudah cukup. Yang penting pekerjaan jalan saja. Kalau memang aku ke luar kota untuk kerja, kamu harus mendampingi aku," balas Zaid.
Kali ini Zaid mengatakan dengan jujur dan sepenuh hati. Ketika ada kerjaan di luar kota, lebih baik untuk mengajak Erina saja. Tidak akan membiarkan Erina menunggu di rumah dan akhirnya bisa didatangi Erick. Hal itu yang akan Zaid antisipasi.
"Lah, kok gitu?" tanya Erina.
"Aku gak mau, kamu didatangi Erick lagi. Mending, ikut aku ke luar kota aja. Aku akan menjagamu dengan sungguh-sungguh," balas Zaid.
"Posesif," balas Erina.
__ADS_1
"Bukan posesif, tapi aku harus menjaga dan mengamankan sesuatu yang adalah milikku," balas Zaid.
Kali ini Zaid memang ingin belajar dari masa lalu. Tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama. Sudah cukup sekali kehilangan Erina. Sekarang, ketika sudah mendapatkan Erina lagi, jadi Zaid akan benar-benar mempertahankannya.
"Aku sih, sekarang gak pake kontrasepsi apa pun, Mas. Jadi, ya enggak tahu gimana nanti," balas Erina.
Zaid sekarang terkejut. Bagaimana bisa istrinya itu tidak menggunakan kontrasepsi apa pun. Kalau mereka berhubungan saat masa subur, bisa jadi adik untuk Raka bisa segera on the way nanti.
"Yang, kalau gak hati-hati bisa ada baby loh," tanya Zaid dengan panik.
"Kan kalau aku hamil, aku wanita bersuami. Ada yang tanggung jawab. Benar kan?" tanya Erina kemudian.
Zaid tersenyum perlahan dan kemudian menatap Erina. "Kamu ingin punya baby lagi? Hamil adiknya Raka? Kalau gitu, mending kita tambah semangat aja bikin adonan. Sapa tahu nanti ada bonus baby," balas Zaid.
"Ah, modus deh," balas Erina.
Sekarang barulah Zaid bisa berbicara jujur kepada Erina. Dulu ketika pisah ranjang, rasanya begitu sukar untuk menahan pria. Kadang hasrat datang dan menerpanya begitu saja. Bagaimana pun, Zaid adalah pria normal, sangat wajar jika merasakan semua itu.
"Kamu sabar ya, Mas," balas Erina kemudian.
"Harus bersabar, Yang. Lebih baik sabar menderita, nanti pelan-pelan bisa mendapatkan kamu lagi," balas Zaid.
Ya, bagi Zaid tidak apa-apa bersabar terlebih dahulu. Jika pada akhirnya akan mendapatkan Erina lagi. Mendapatkan kesempatan kedua untuk bisa memperbaiki semuanya.
"Jadi, gimana mau jadi Mama lagi untuk adik bayi?" tanya Zaid sekarang.
Erina tersenyum, sekarang wanita itu justru duduk di pangkuan suaminya, tangannya melingkari leher suaminya. Tentu saja, Zaid senang ketika Erina makin dekat dan memiliki inisiatif seperti ini.
__ADS_1
"Kalau aku hamil, kamu tanggung jawab engga Mas?" tanyanya.
"Pasti tanggung jawab, dong. Tanggung jawab secara utuh dan penuh," balas Zaid.
"Kalau hamil lagi, kamu ninggalin aku ke luar kota enggak?" Lagi Erina bertanya kepada Zaid.
"Kan aku udah bilang, aku akan mengajak kamu ke luar kota. Atau mau Honeymoon kedua, Yang? Biar puas bersama. Mau enggak?" tawar Zaid sekarang.
Sayangnya, Erina dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak usah. Kasihan kalau sampai meninggalkan Raka. Curi-curi waktu dan memanfaatkan waktu ketika Raka sekolah aja," balas Erina.
Zaid sekarang merespons dengan memeluk Erina. "Makasih sudah memprioritaskan Raka. Walau dulu, hubungan kita tidak baik, aku selalu berpikir bahwa hanya kamu Mama terbaik untuk Raka."
"Sekalipun dulu aku menyebalkan?" tanya Erina kemudian.
"Iya, kamu memang menyebalkan. Apalagi saat Raka kecelakaan. Namun, aku bisa memahaminya. Pasti karena kamu sendiri baru emosi. Tidak apa-apa," balas Zaid.
Erina tersenyum lantas wanita itu mengecup pipi Zaid. Refleks, Zaid tersenyum dan menatap Erina. Tidak ada angin, dan tidak ada hujan, istrinya bisa berinisiatif sejauh ini.
"Kamu sengaja goda aku ya Sayang?" tanya Zaid.
Dengan cepat Erina turun dari pangkuan Zaid. Was-was dengan tindakan yang mungkin saja bisa terjadi usai ini. Namun, Zaid tak akan membiarkan Erina kabur begitu saja. Dengan cepat tangannya menggapai tangan Erina. Lantas Zaid mendekap Erina dari Erina. Tidak perlu banyak bicara, Zaid segera melabuhkan kecupan di leher dan tengkuk Erina. Tidak perlu waktu lama, Erina sudah memejamkan mata dan mende-sah di sana.
"Mas, udah dong ... aku cuma bercanda," balas Erina dengan terengah-engah.
"Kamu yang mulai duluan, Sayang. Jadi, aku yang akan menuntaskan," balas Zaid.
Tidak perlu waktu lama, kembali Zaid dan Erina bergumul bersama. Bersatu padu, berbagi peluh, dan mengekspresikan rasa cinta dalam satu tindakan yang membuatnya seolah tengah berhasil menggapai surga.
__ADS_1