Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Ingin Mama Menginap


__ADS_3

Rasa sedih seorang anak terkadang hanya bisa diungkapkan dengan air mata. Itu juga yang dilakukan Raka sekarang ini. Dia merasa bahwa Mamanya yang hendak pergi karena Mamanya sudah tidak sayang kepadanya.


"Mama, tidak bisakah Mama tinggal?" tanya Raka kepada Mamanya.


Erina pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tidak bisa, Raka. Pekerjaan Mama sekarang banyak. Sudah, jangan menangis. Raka anak yang hebat kan? Nanti Mama akan sering ke sini," balasnya.


Zaid memejamkan matanya dan mengelus dada. Dia sudah menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, tetapi nyatanya Erina tidak mau mengerti kondisi Raka sekarang. Dia sudah meminta supaya Erina bisa mengesampingkan rasa sakit hati dan terpukulnya. Akan tetapi, nyatanya Erina tetap saja keras kepala di sana.


Bahkan di saat seperti ini, Zaid pun masih harus menenangkan Raka yang menangis dengan memegangi kepalanya. "Yuk Raka ... jangan menangis yah," balas Zaid.


"Papa, kenapa Mama tidak mau tinggal dengan Raka, Pa? Raka tidak nakal loh, Pa," balasnya.


Suara tangis sesegukan dari Raka terdengar begitu pilu, anak itu merasa bahwa dirinya tidak nakal, tetapi Mamanya tidak bisa tinggal bersamanya. Begitu juga dengan Zaid yang sudah meminta Erina untuk bisa bekerja sama dengannya, tetapi semuanya tidak bisa dilakukan. Sebesar apa luka di dalam hati Erina hingga Erina benar-benar terlihat tega dengan Raka sendiri.


"Ma, tinggallah hari ini, Ma," pinta Raka yang sudah begitu mengiba.


Tidak tega dengan Raka, Zaid pun yang semula lebih banyak diam akhirnya kembali berbicara, "Tolong tinggallah untuk Raka, ingat yang kita bicarakan bersama," ucap Zaid.


Erina diam, hingga wanita itu menatap Raka yang menangis di sana. Sebenarnya dia juga merasa kasihan dengan Raka. Akan tetapi, Erina berada di batas dia tidak ingin tinggal dengan Zaid. Bukan masalah dengan Raka, tetapi dengan suaminya.


Yang Zaid khawatirkan adalah Raka yang akan mengalami sakit lagi di kepalanya. Itu yang sangat Zaid takutkan. Terlebih Dokter Sonny sudah mewanti-wanti bahwa tidak boleh ada guncangan emosi dan pikiran untuk Raka.

__ADS_1


Tak tahan dengan tangisan Raka, akhirnya Erina pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, malam ini Mama akan di sini. Akan tetapi, besok Mama akan berangkat bekerja yah?"


Mendengar bahwa malam ini Mamanya akan tinggal, Raka merasa begitu senang.  Tangisannya pun perlahan reda, dan dia segera menghambur ke dalam pelukan Mamanya.


"Makasih Ma ... Raka sayang Mama," ucapnya.


Erina pun membalas dengan memeluk tubuh Raka, dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan begitu pelan. "Sama-sama Raka ... tapi Raka harus janji bahwa Raka tidak akan menangis dulu," balas Erina.


Rasanya mendengar Raka yang terus-menerus menangis membuatnya merasa sakit kepala dan khawatir juga dengan kondisi Raka. Oleh karena itu, lebih baik kali ini Erina akan mengalah. Toh, Erina nanti bisa tidur di dalam kamar Raka, bukan di dalam kamar Zaid.


Hingga menjelang sore, kali ini Erina yang mengambil tugas untuk bisa memandikan Raka, bahkan dia membebat kembali perban di bahu Raka. Setelahnya, Erina juga menyuapi Raka.


"Mama ... Mama tahu enggak, disuapin Mama itu rasanya enak banget loh," balas Raka.


"Benar Mama ... disuapin Mama rasanya enak. Enak banget Ma," balas Raka dengan mengunyah makanannya.


Zaid yang memperhatikan Erina dan Raka merasa senang dan sedih di saat yang bersamaan. Senang karena kali ini Raka makan dengan begitu lahap, tetapi sedih karena saat-saat bahagia untuk Raka seperti ini tidak berjalan selamanya. Agaknya kini Zaid merasa keputusan keduanya untuk bercerai adalah keputusan yang salah. Jika, bisa memutar kembali waktu sudah pasti, dia akan memilih untuk mempertahankan rumah tanggaku untuk Raka.


"Mama, nanti malam tidur sama Raka yah? Dibacain dongeng ya Ma," pinta Raka sekarang ini kepada Mamanya.


"Iya, boleh ... nanti Mama akan tidur di kamarnya Raka saja boleh?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya Ma ... boleh," balas Raka yang merasa senang hingga anak kecil itu terus-menerus tersenyum.


Hingga ketika malam tiba, Raka sudah mengajak Mamanya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin meminta Mamanya untuk membacakan buku untuknya.


"Ma, bukunya ini saja yah," pinta Raka dengan membawa buku dongeng dan menyerahkannya kepada Mamanya.


Perlahan-lahan, Erina membuka buku itu dan mulai menceritakannya kepada Raka. "Ini dongeng Gadis Penjual Korek Api, Raka. Sedih loh dongengnya," balas Erina.


Raka pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ma ... katanya Papa, gadis kecil ini berdoa dan meminta kepada Tuhan melalui setiap korek api yang dia nyalakan. Namun, tidak ada jawaban untuk semua yang dia minta. Sama seperti Raka, Ma ... dalam setiap doa-doa Raka, Raka selalu meminta kepada Tuhan supaya Mama datang dan menemani Raka. Raka ingin mengulangi hari di mana selalu ada Mama dan Raka di  rumah, menunggu Papa bekerja, liburan bersama. Apakah itu tidak bisa Ma?" tanyanya.


Ya Tuhan, ini adalah pertanyaan yang sangat sulit. Sebab, sekarang bagi Erina untuk menjalani semua hari itu dengan Raka. Dia dan Papanya Raka sudah tidak seatap sehingga tidak mungkin bisa bersama lagi.


"Kan sekarang Mama yang bekerja, Raka ... jadinya ganti-gantian yah," balasnya.


Raka pun berada di dalam posisi untuk bisa memahami orang tuanya. Ingatannya yang hilang dan juga sakitnyayang belum sepenuhnya sembuh, tetapi dia harus memahami semuanya.Sebatas menceritakan doanya saja, seolah belum sampai terdengar oleh Tuhan, tetapi doanya itu sudah tidak terkabul.


"Sampai kapan Ma?" tanya Raka kemudian.


"Entah Sayang ... tapi Mama janji akan sering ke sini dan menemani Raka," balas Erina.


"Menginap di sini kan Ma? Emangnya Papa enggak kangen sama Mama?" tanya Raka lagi.

__ADS_1


Sekarang, giliran Erina yang tidak bisa menjawab. Sebab, bagaimana akan merasakan rindu jika dia merasakan semua cintanya telah berubah menjadi serpihan lara. Tidak ada yang bisa dikumpulkan dan disusun kembali. Semuanya hancur dan tidak bersisa.


__ADS_2