Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Ingin Pulang ke Lembang


__ADS_3

Ketika seorang wanita tengah tertekan itu akan terlihat dari raut wajahnya dan kening yang begitu mudahnya berkerut. Sama seperti malam ini, terlihat jelas bahwa Erina sedang banyak pikiran. Sehingga, Zaid pun mengambil tempat duduk di taman rumahnya malam itu dan kemudian menanyai Erina.


"Rin," sapanya sembari duduk di samping Erina.


"Eh, Zai ... kenapa?" balas Erina. Wanita itu juga terkejut dengan Zaid yang sekarang duduk di sampingnya.


"Sudah malam, Rin ... kenapa kamu justru di sini?" tanya Zaid.


Kali ini Zaid benar-benar memberikan bukti bahwa ketika Erina mengalami masalah, mengalami mood yang buruk, atau membutuhkan teman mengobrol, dia akan ada untuk Erina. Zaid memberikan bukti bahwa dia akan benar-benar berubah untuk Erina. Yang Zaid inginkan adalah Erina tidak perlu mencari orang lain untuk berbagi dan mendengarkan keluh kesahnya. Sebab, sekarang dia ada di sana dan siap untuk mendengarkan Erina.


"Kalau memang mau cerita, cerita aja, Rin," ucap Zaid.

__ADS_1


Bahkan Zaid sudah membuka pintu di mana Erina boleh dan bisa bercerita dengannya. Yang Zaid inginkan adalah Erina bisa terbuka dengannya. Jika dengan Erick, dia bisa menceritakan semuanya, kenapa tidak dengan Zaid yang notabene adalah suaminya sendiri?


"Tidak apa-apa, Zai ... hanya sedikit pikiran saja," balasnya.


"Ceritakanlah itu ... kalau tidak justru bisa membebani kamu," balas Zaid.


Erina menghela nafas panjang, wanita itu lantas membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada dan mengusapi lengannya sendiri. Sementara, Zaid masih duduk di samping Erina. Dia akan menunggu sampai Erina bisa terbuka dan jujur dengannya.


"Tidak, setiap manusia memiliki sisi egoisme tersendiri. Kamu tidak egois, Rin. Mungkin waktunya saja yang tidak baik dan tidak tepat sehingga kamu memilih keluar dari rutinitas yang membosankan untukmu," balas Zaid.


Erina tersenyum kecut. Padahal dia tahu bahwa perceraiannya juga karena dia yang egois. Dia memilih mencari kebahagiaannya sendiri. Menganggap bahwa menikah dengan Zaid tidak membuatnya bahagia.

__ADS_1


"Jujurlah, Zai," balas Erina.


Zaid tampak menganggukkan kepalanya. "Serius, aku jujur. Memangnya aku pernah tidak jujur sama kamu, Rin. Sejak kenal kamu, kita dijodohkan, dan sampai aku menikahimu, aku selalu berkata jujur," balas Zaid.


Mendengar apa yang baru saja Zaid sampaikan Erina merasa bahwa apa yang dikatakan Zaid benar. Memang Zaid selalu jujur. Tidak pernah berbohong dengannya. Lima tahun pernikahannya juga Zaid selalu jujur mengenai karir, bisnis, dan keuangan. Tidak ada yang Zaid tutup-tutupi.


"Zai, bila aku ingin mengunjungi rumah orang tuaku di Lembang dulu bolehkah? Aku ingin menenangkan diri," ucap Erina.


Mungkin dengan pulang ke rumah, curhat dengan orang tuanya, dan juga mendinginkan diri sesaat Erina bisa lebih tahu dengan apa kata hatinya. Oleh karena itu, sekarang Erina berkeinginan untuk pulang ke Lembang terlebih dahulu.


"Tentu saja, boleh ... sejak dulu, aku selalu berkata. Menikah denganku bukan mencuri semua kebebasanmu, Rin. Aku mendukungmu, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Namun, ada celah di antara hubungan kita dulu. Asalkan jangan libatkan Erick, Rin ... boleh jika kamu ke Lembang. Nanti aku dan Raka akan menjemputmu," balas Zaid.

__ADS_1


Sampai di batas ini, Erina menganggukkan kepalanya. Yang Zaid minum adalah Erina yang bisa menjaga kepercayaan. Tidak melibatkan orang ketiga dalam rumah tangganya. Zaid tidak keberatan jika memang Erina ingin pulang ke Lembang, tapi dia juga memberikan pesan bahwa Erina tidak boleh melibatkan Erick lagi.


__ADS_2