
Zaid mengamati Erina yang tengah bekerja di ruangannya. Zaid mengakui dalam hati, banyak waktu yang terlewat begitu saja. Namun, Zaid sekarang berkomitmen untuk memperbaiki diri dan memperbaiki keadaan. Tidak ingin rumah tangganya dan Erina ditimpa prahara, melainkan bisa diselamatkan. Toh, semua itu Zaid ambil untuk untuk Raka, bukan untuk dirinya sendiri.
Pria itu tersenyum mana kala melihat Erina yang sedang menggambar. Bukannya tidak tahu, Erina tahu kalau suaminya itu sedang memperhatikan dirinya. Bahkan ada seutas senyuman di bibir Erina ketika dia mendapati Zaid yang sedang memperhatikannya.
"Sayang, kamu justru seperti CEO loh. Kerja dengan ruangan sendiri dan ber-AC," celetuk Zaid dengan tiba-tiba.
Erina yang mendengarkan Zaid pun terkekeh perlahan. "Kamu itu yang CEO, Mas. Aku cuma pemilik butik. Ini saja patungan sama Mela. Kamu ini berlebihan," balas Erina.
"Lha ini ruangan kamu bagus. Dingin ada ACnya, terus ada kamar mandi dalam. Selain itu ruangan kamu juga harum banget," ucap Zaid.
Erina tersenyum, itu berarti Zaid mengamati ruangannya. Hingga Erina geleng-geleng kepala. Ketika hubungan telah membaik, komunikasi juga membaik, ternyata tidak sukar untuk memulai pembicaraan. Wajah pun tidak lagi masam, melainkan bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala sendiri.
"Ruangan kamu emang gak harum, Mas?" tanya Erina.
__ADS_1
"Bau kopi dan masakan dari kafe. Soalnya berdekatan dengan pantry," balas Zaid.
Barulah Erina juga baru mengetahui bahwa ruangan Zaid berdekatan dengan pantry. Begitu terlihat bahwa memang ada masa di mana mereka acuh dan tidak saling tahu. Sekadar bertanya pekerjaan pun tidak. Sekarang, Erina juga rasanya ingin tahu banyak tentang sosok suaminya. Seakan memang terlambat, tapi sebenarnya asal mau memperbaiki, waktu yang terlambat pun bisa menjadi waktu yang tepat.
"Satu busana, berapa lama sketsanya, Sayang?" tanya Zaid kemudian.
"Tergantung sih, Mas. Kalau pas dapat feelnya ya satu jam bisa jadi. Kalau tidak menemukan feelnya, bisa berhari-hari. Atau kayak gambarku ini, sudah sebulan mungkin dan tidak pernah selesai. Detailnya seperti apa tidak selesai," balas Erina.
Erina tersenyum perlahan, kemudian dia menatap lagi ke arah suaminya. "Sebenarnya sih grogi ... ditemenin Pak Zaid, Bos besar kafe yang jumlahnya puluhan di seluruh kota besar," balas Erina.
Zaid sama-sama tertawa, hingga akhirnya dia memilih kembali duduk. Namun, entah kenapa di matanya sekarang Erina menjadi lebih cantik dan membuatnya bisa dengan mudahnya bergairah.
"Kalau kerjanya dipending satu jam bisa enggak Sayang?" tanya Zaid.
__ADS_1
"Hmm, kenapa emangnya Mas?" tanya Erina.
Zaid tersenyum tipis. "Aku kangen kamu," balasnya.
Erina menggelengkan kepalanya. Alibi yang sangat manis dari suaminya. Beralibi kangen, padahal aslinya menginginkan lebih. Seumur hidup, tidak pernah Erina membayangkan Zaid akan menemaninya dan juga melakukan hal-hal panas di ruangannya. Namun, jika sudah seperti ini, Erina rasanya juga terombang-ambing dengan jawaban yang harus dia berikan kepada Zaid.
"Kan kita selalu bersama, masak ya kangen sih," balas Erina.
"Iya, kangen kok ... gak boong," balas Zaid.
"Pasti hanya alibi saja," balas Erina saja.
Dengan cepat Zaid menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin, aku beralibi ke wanita yang selalu kucintai. Tidak akan pernah," balas Zaid dengan tersenyum dan menatap Erina.
__ADS_1