Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Tawaran Rujuk


__ADS_3

Kurang lebih selang dua hari berlalu, ketika Erina datang ke rumah dan menjenguk Raka. Waktu itu akan dimanfaatkan oleh Zaid untuk mengajak Erina berbicara bersama. Akan tetapi, terlebih dahulu Zaid meminta izin kepada Raka supaya Raka juga tahu bahwa Papa dan Mamanya ingin berbicara terlebih dahulu.


"Raka, Papa bisa mengajak Mama untuk bicara terlebih dahulu enggak?" tanya Zaid kepada Raka.


Tampak Raka yang kini sudah dilepaskan gendongan di tangannya pun menganggukkan kepalanya. Ya, di bahu Raka dipasang pen di sana, tapi sudah tidak perlu digendong lagi tangannya.


"Iya, boleh Papa ... jangan lama-lama yah," pinta Raka kepada Papanya itu.


Akhirnya, Zaid pun mengajak Erina untuk berbicara bersama. Walau enggan, Erina pun mengikuti Zaid untuk berbicara. Kali ini, Zaid mengajak Erina ke kamarnya untuk bisa berbicara empat mata. Sebenarnya Erina menolak, ada tempat lain untuk berbicara. Akan tetapi, Zaid justru mengajaknya untuk berbicara di kamar.


"Kenapa harus di kamar Zai?" tanya Erina bingung.


"Supaya lebih privasi, Rin," balas Zaid.


Erina menghela nafas sepenuh dada dan menatap mantan suaminya itu, "Jangan sampai semua ini hanya akal-akalanmu saja, Zai," balas Erina.


Zaid dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Akal-akalan yang bagaimana Rin? Bahkan selama kamu menjadi istriku saja, aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa persetujuanmu," balas Zaid.


Ya, kala masih menikah dengan Erina. Sekadar untuk pemenuhan nafkah batin saja, Zaid selalu menunggu Erina. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak seizin Erina. Dulu, kala menikah bisa dikatakan kehidupan seksulitas Zaid dan Erina biasa saja. Tidak ada yang namanya hasrat menggelora. Bahkan ketika keduanya masih menjadi pengantin baru saja kehidupan percintaan mereka biasa saja. Tidak menggebu-gebu.

__ADS_1


Erina terdiam, kemudian mengambil tempat duduk di sofa yang berada di dalam sudut kamar itu. Sekilas, Erina mengedarkan pandangannya menatap kamar yang dulu dia tempati sehari-hari dan tidak ada yang berubah di sana. Bahkan masih ada foto pernikahan keduanya, di dalam hatinya Erina mencari tahu kenapa masih ada foto pernikahan keduanya di sana.


Hingga kemudian Zaid mengambil tempat duduk di samping Erina. Hendak berbicara dengan tenang dan menyampaikan niatannya dengan baik-baik kepada Erina.


"Rin, ada yang perlu aku bicarakan dengan serius, ucap Zaid kemudian.


"Iya, mau bicara apa?" tanya Erina.


"Begini Rin ... dua hari yang lalu Raka mengalami sakit lagi. Kerusakan sistem limbik. Dokter Sonny menyarankan bahwa Raka membutuhkan kebersamaan kita sebagai orang tuanya. Selain itu bisa terjadi masalah mental yang terjadi pada Raka. Oleh karena itu, Erina ... maukah kamu ... rujuk ... denganku?"


Dengan mengucapkan kalimat yang penuh jeda. Akhirnya Zaid mengatakan bahwa dia memiliki niatan untuk mengajak rujuk. Perlu digarisbawahi bahwa semua ini bukan karena cinta, tetapi adalah untuk Raka semata. Sebagaimana janjinya kepada Raka, Zaid akan memberikan apa pun, termasuk rujuk dengan Mamanya, mantan istrinya sendiri.


Zaid yang semula diam akhirnya kembali berbicara sekarang, "Aku melakukan ini untuk Raka, Rin ... bukan untuk diriku sendiri. Aku tidak mau terjadi hal-hal yang serius dengan Raka. Sebab, ketika terjadi sesuatu yang buruk dengan Raka, kitalah yang akan menyesal," ucap Zaid.


Erina berdecih dan menggelengkan kepalanya, "Ck, perceraian kita baru hampir dua bulan, Zai ... dan sekarang kamu meminta untuk rujuk. Kamu kira perceraian kita dulu main-main? Untuk apa bercerai, kalau belum habis masa iddahku, kamu sudah mengajakku rujuk?" tanya Erina.


Ya, menurut Erina apa yang dilakukan Zaid sekarang tak ubah hanya sebagai main-main belaka. Jika dalam kurang waktu dua bulan mengajak rujuk, sebaiknya dulu tidak perlu bercerai dan capek dengan mengikuti beberapa kali persidangan. Bahkan menurut Erina, tawaran rujuk ini sangat tidak masuk akal.


"Bukan main-main, Rin ... tapi, kamu menggugatku," balas Zaid.

__ADS_1


Zaid pun hanya ingin Erina memahami bahwa sebenarnya Erina yang terlebih dahulu menggugat cerai dirinya. Erina yang merasa sudah tidak bisa bertahan dengan pernikahan mereka. Di saat Zaid meminta maaf dan ingin mempertahankan kehidupan rumah tangganya, tetapi Erina menolak. Seakan tidak ada lagi pintu maaf untuk dirinya.


Erin terdiam, seakan sekarang dia diperhadapkan dengan fakta bahwa memang dirinyalah yang mengajukan gugatan. Sekarang, baru hampir dua bulan berjalan dan Zaid mengajukan rujuk dengannya.


"Sebab, mempertahankan rumah tangga kita rasanya seperti menggenggam bara api, Zai," balas Erina.


Sedikit beringsut, Zaid kemudian menatap Erina di sana, "Rujuklah denganku, Erin ... bahkan Rujuk bersyarat pun tidak masalah," balas Zaid.


Agaknya Zaid sekarang tengah menyusuri jalan buntu. Dia benar-benar takut jika tekanan maupun guncangan secara mental yang dialami Raka kian hari kian memburuk. Sebagai seorang pria, bahkan Zaid mengajukan Rujuk Bersyarat kepada Erina.


"Kalau rujuk, kita berdua akan sama-sama terluka," balas Erina.


"Namun tidak untuk Raka ... Dokter berkata bahwa kita orang tuanya harus menjamin mentalnya stabil, Rin. Untuk Raka, aku bisa melakukan semuanya," balasnya.


Ya, Zaid sampai pada keputusannya, bahwa untuk Raka, Zaid bisa melakukan semuanya. Kesehatan dan pemulihan Raka adalah yang terutama untuknya. Untuk itu, dia ingin memastikan bahwa Raka akan benar-benar pulih.


"Aku butuh waktu, Zai ... kamu tahu bahwa aku tidak ingin mempertahankan rumah tangga kita," balas Erina.


"Namun, kamu harus mempertimbangkan Raka. Sebab, kondisinya bisa membaik atau tidak, tergantung kepada kita berdua. Co-Parenting pun gagal, Rin ... kebutuhan Raka tidak bisa kita akomodir dengan baik. Jadi, rujuklah denganku, tinggallah di sini dan temani Raka," balas Zaid.

__ADS_1


Kali ini Zaid benar-benar meminta semoga saja Erina bisa mempertimbangkannya. Sekali lagi semua ini bukan untuk dirinya. Akan tetapi untuk Raka yang kondisinya tertekan secara mental dan juga membutuhkan dukungan dari orang tua. Bukan orang tua yang hadir salah satu, tetapi kedua orang tua yang membersamai hari-harinya. Akankah Rujuk Bersyarat akan terjadi di antara Zaid dan Erina?


__ADS_2