
Selang satu pekan berlalu, sekarang Erina dan Zaid membuat peresmian launching butik mereka yang diberi nama Zarina. Nama yang dipilihkan langsung untuk Zaid. Sebab, dalam pikiran Zaid tidak ada nama yang bagus dan indah selain gabungan namanya dan Erina. Zarina, yang berarti Zaid dan Erina.
Kali ini Zaid mengundang keluarganya, Mamanya dan juga mertuanya dari Lembang. Memang sengaja untuk memberikan kejutan untuk Erina. Selain itu, rekan Zaid juga datang yaitu pasangan Belva Agastya dan Sara. Selain itu, Erina juga mempekerjakan tiga orang karyawan yang membantunya berjualan dan berjualan secara online juga. Kemudian dua orang di bagian jahit dan produksi.
Di depan pintu masuk sudah ada pita. Menurut Zaid sendiri, nanti akan ada pemotongan pita. Sekaligus melakukan syukuran kecil-kecilan saja. Sementara itu, pasangan Sara dan Belva, juga membawa sahabatnya untuk turut datang yaitu Abraham dan Marsha. Itu juga karena Zaid pernah bertanya kepada Belva untuk mencari fotografer yang nanti bisa memotret selama grand opening, Zarina Butik. Sehingga, datanglah Abraham dan Marsha sekarang. Jika Marsha menemani suaminya yang bekerja, Abraham bersiap dengan kameranya dan siap untuk mengabadikan momen grand opening itu.
"Kepada Bu Erina, silakan untuk menggunting pita sebagai simbol bahwa Zarina Butik resmi dibuka," ucap salah satu karyawannya yang bernama Lala yang membantu menjadi MC sore itu.
Erina tersenyum, kemudian dia menatap kepada suaminya. "Kita lakukan berdua, Mas," ucap Erina.
"Kamu sendiri saja boleh," balas Zaid.
"Tidak, semua ini terwujud berkat kamu," balas Erina.
Belva kemudian menepuk bahu rekannya itu. "Temani saja. Ayo," ucap Belva.
Akhirnya, Zaid pun menganggukkan kepalanya, dia berdiri di samping Erina. Tangannya memegangi pita itu, dan Erina yang mengguntingnya. Begitu pita sudah selesai digunting, semua yang datang pun bertepuk tangan.
"Selamat ...."
"Congratulations ...."
__ADS_1
Para hadirin pun memberikan ucapan selamat. Sementara Zaid tersenyum, pria itu dengan sendirinya, mendaratkan kecupan di pipi Erina, dengan satu tangan merangkul pinggang Erina yang ramping. "Selamat, Sayang ...."
Tentu saja, Erina malu. Mana pernah Zaid itu menciumnya di depan banyak orang seperti ini. Sehingga, sekarang dicium Zaid saja, wajahnya sudah merona. Benar-benar malu. Terlebih ada bidikan kamera, membuatnya Erina setelahnya tertunduk malu.
Memasuki butik itu, dengan beberapa koleksi baju buatan Erina sendiri yang sudah di display. Namun, acara grand opening belum usai, sekarang dilanjutkan dengan potong Nasi Tumpeng yang dibuatkan sendiri oleh Ibunya Erina dari Lembang.
"Sekarang potong tumpeng dulu, Rin ... semoga berkah yah," ucap Ibunya.
"Makasih, Ibu," jawab Erina.
Masih maunya didampingi Zaid, Erina memotong tumpeng itu. Potongan yang pertama, Erina berikan untuk suaminya. Sebab, memang Erina menyadari semua ini adalah dari Zaid. Wujud cinta dan rasa terima kasihnya kepada suami tercinta. Potongan kedua dia berikan untuk mertuanya, dan kemudian untuk potongan selanjutnya untuk Ibu dan Ayahnya. Tidak lupa, semua hadirin pun mendapatkan nasi tumpeng. Menu untuk sore itu memang Nasi Tumpeng. Merayakannya dengan sederhana dan dalam suasana kekeluarga.
Sekarang adalah suasana bebas, tampak Sara memberikan bunga ucapan selamat untuk Zarina Butik. "Selamat ya, Erina ... semoga sukses selalu butiknya. Oh, iya ... kenalkan, dia sahabatku ... namanya Marsha," ucap Sara.
Sara rupanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian dia berkata kepada Marsha. "Lihatlah, Sha ... kamu sudah terkenal tuh," ucap Sara dengan tertawa.
"Benar, dia adalah Brand Ambassador untuk SaVa Beauty Care," ucap Sara.
"Halo, perkenalkan ... Marsha," ucap Marsha.
"Ya ampun ... makasih banget sudah datang. Didatangi model loh," ucap Erina yang tampak begitu senang.
__ADS_1
"Sukses yah, untuk butiknya," ucap Marsha.
"Datang sama siapa, Kak Marsha?" tanya Erina.
"Panggil Marsha saja ... mungkin kita seumuran. Itu, dengan suamiku, yang memotret itu," balas Marsha dengan menunjuk Abraham yang memotret dengan kameranya.
Erina pun melihat ke pria yang sedang serius memotret. Rupanya Marsha datang bersama suaminya. Erina kemudian menganggukkan kepalanya sejenak.
"Eh, itu Pak Bram bukan sih? Aku dulu dan temanku pernah menggunakan studio milik Pak Bram untuk foto modell di butikku dulu," ucap Erina.
"Benar, dia adalah Abraham ... istrinya Marsha," balas Belva.
"Ya ampun ... dunianya yang sempit atau gimana ini," balas Erina dengan menggelengkan kepalanya.
"Kok bisa mendapatkan model seperti Marsha sih, Sara?" tanya Erina kemudian.
"Kamu tetanggaan. Rumah kami hanya beda cluster," balas Sara.
"Oh, ya ampun ... enak banget yah. Bisa sahabatan, dan juga kerja sama. Positif banget yah," ucap Erina.
Kemudian Erina, bertanya kepada Marsha. "Bisa dong jadi model untuk baju desainanku, Marsha? Harga profesional tidak masalah. Kan yang motret suami kamu sendiri," ucap Erina.
__ADS_1
Sara, Belva, dan Marsha, serta Abraham yang turut bergabung sekarang. Terlebih dengan celetukan Belva. "Biasa yah ... harga paket. Beli satu dapat satu," canda Belva.
Erina sendiri sangat senang. Dikelilingi teman yang baik. Suami yang baik, dan keluarga yang baik. Semoga saja usai grand launching ini Zarina Butik juga bisa berjalan dengan lancar. Bisa menjalankan bisnis di bidang fashion dan menghasilkan omset tentunya.