Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Disambut Raka


__ADS_3

Terus mengemudikan mobilnya hingga kini Zaid dan Erina sudah hampir tiba di rumah. Tampak kini Zaid melirik kepada Erina, pria masih hendak berbicara. Juga menyampaikan bagaimana harus bersikap di hadapan Raka.


"Rin, nanti saat berada di hadapan Raka, kita bisa bersikap biasa saja kan?" tanya Zaid kepada Erina.


"Ya, tentunya bisa. Toh, kita rujuk juga karena Raka," balas Erina dengan menghela nafas panjang.


Wanita itu mengingat kembali bahwa tujuannya rujuk semata-mata hanya untuk Raka. Jadi, memang ketika dia dan Zaid di hadapan Raka harus bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kalau melakukan kontak fisik, sebatas di hadapan Raka tidak apa-apa kan?" tanya Zaid lagi.


Erina tampak merotasi bola matanya dengan malas. Kemudian mengdengus kesal, "Ck, baru beberapa jam kamu sudah mengajukan pembatalan syarat. Emang tidak bisa bersikap biasa saja tanpa melakukan kontak fisik?" tanya Erina.


"Hanya saat di hadapan Raka ... itu pun kalau dibutuhkan. Jadi, sifatnya optional," balas Zaid lagi.


"Terserah kamu saja, Zai ... yang penting jangan terus beralasan untuk melanggar batas yang ada," balas Erina.


Zaid pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian dia menepikan mobilnya di pinggir jalanan di depan rumahnya, menunggu sekuriti untuk membukakan pintu gerbang. Setelahnya, Zaid membawa masuk mobilnya. Kemudian, keduanya turun bersama-sama dari mobil, dan di depan pintu rumah sudah ada Raka yang berdiri dan membukakan pintu.

__ADS_1


"Mama ... Papa," sapanya dengan begitu girang. Senyuman pun mengembang di wajah anak kecil itu.


"Ya Nak," balas Zaid yang tampak senang juga melihat Raka yang sudah membukakan pintu.


"Mama dan Papa datang bersamaan yah? Wah, Raka senang," akunya.


Ya, melihat Mama dan Papanya datang secara bersamaan, membuat Raka senang. Sudah begitu lama bagi Raka tidak melihat Mama dan Papanya datang bersamaan. Kini melihat kedua orang tuanya membuat Raka memiliki harapan bahwa kedua orang tuanya tidak akan berpisah lagi.


"Iya, Papa dan Mama datang bersamaan," balas Zaid yang terus menggendong Raka dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


Erina sendiri bisa bermain peran. Sebab, sekarang wanita itu tampak memasang senyuman di wajahnya, dan juga senang juga melihat Raka yang bahagia. Walau, dia harus menekan hatinya sendiri, sudah tidak ada cinta untuk Zaid. Namun, dia sekarang akan rujuk dan kembali seatap dengan suaminya yang baru saja merujuknya.


Zaid pun menganggukkan kepalanya, "Tidak ... Mama dan Papa tidak akan berpisah lagi. Bahkan mulai malam ini, Mama sudah pulang bersama kita. Raka senang?"


Terlihat Raka yang kini berjalan dan memeluk Mamanya. Senang sekali mendengar perkataan Papanya yang memberitahunya bahwa sekarang Mamanya akan tinggal bersama lagi dengan mereka.


"Yang dikatakan Papa benar Ma?" tanya Raka.

__ADS_1


Erina menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, Mama kembali tinggal bersama kamu dan Papa boleh?"


"Boleh ... boleh ... boleh, Mama. Yeay, Raka senang sekali. Raka janji kok Mama bahwa Raka tidak akan nakal," balasnya.


Tampak kini Erina memeluk Raka dan mengusapi punggung putranya itu, "Makasih Sayang ... tapi, ada beberapa hari Mama harus bekerja. Di hari Senin, Selasa, dan Kamis. Jadi, di hari ini Mama akan bekerja dari pagi sampai malam," ucap Erina.


Raka pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mama ... tidak apa-apa. Nanti Raka bisa di rumah dengan Papa. Kan katanya sekarang Papa bekerja dari rumah, untuk bisa menjagai Raka," balas Raka.


"Benar Raka ... cuma kalau Papa ada meeting, Raka main sama Mbok Tini dulu yah. Nanti selesai meeting, Papa akan mengajak Raka bermain lagi," balas Zaid.


"Iya Pa," balas Raka.


Raka kemudian menatap Mama dan Papanya. Walau sudah datang bersama, sekarang Mama dan Papanya tidak duduk bersama. Terpisahkan meja di antara keduanya.


"Papa, sini Pa ... duduk di dekat Mama," pinta Raka.


Saat Zaid hendak berdiri, Erina tampak menggelengkan kepalanya. Seolah meminta kepada Zaid untuk tidak duduk di sampingnya. Namun, Zaid sudah berdiri dan kini duduk di samping Erina, tentu dengan jarak beberapa jengkal di sana.

__ADS_1


"Raka senang ... sekarang Raka memiliki Mama dan Papa di rumah. Makasih Mama dan Papa," ucap Raka yang mengambil tempat duduk di antara Mama dan Papanya.


Tangan Zaid bergerak dan mengusapi puncak kepala putranya itu. Senang melihat Raka bahagia. Entah, akan seperti apa kehidupan rumah tangganya bersama Erina di babak kedua ini, usai rujuk. Yang pasti Zaid sendiri akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, sembari terus berharap bahwa Raka akan membaik dan menemukan memorinya lagi.


__ADS_2