Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Acara Sekolah Raka


__ADS_3

Selang satu bulan berlalu, rumah tangga Erina dan Zaid seolah tidak ada titik temu. Sementara, dengan hasil terapi Raka, selalu memberikan perkembangan yang baik. Selain itu Dokter Sonny mengatakan bahwa Raka tidak perlu melanjutkan terapi karena Raka sudah sehat. Hanya saja, jika mengingat Raka kembali nanti, mereka perlu berkata jujur dan memberikan penjelasan kepada Raka.


Selain itu, di sekolah Raka akan diadakan liburan bersama anak-anak dan orang tua dan akan menginap dua malam di Villa di Bogor. Untuk itu, Raka sudah meminta kepada Mamanya untuk tidak bekerja terlebih dahulu, dan mau untuk mengantarkannya di acara sekolah ini.


Sekarang Zaid, Erina, dan Raka sudah berada di dalam satu mobil untuk menuju ke Villa yang akan digunakan untuk acara sekolah Raka. Lantaran menginap beberapa hari, sehingga mereka pun membawa koper yang berisi pakaian mereka.


"Mama, Papa ... nanti di acara sekolah ada perlombaan anak dan orang tua loh. Kalau bisa, kita menangkan yah," ucap Raka.


"Iya, Raka ... kita akan berusaha untuk mengikuti lomba yah," balas Zaid.


"Dilihat dulu lombanya apa, Ka," balas Erina.

__ADS_1


Rupanya jawaban yang diberikan Zaid dan Erina pun berbeda. Jika Zaid menjawab bahwa dia akan berusaha memenangkan lomba. Sementara, Erina berkata harus melihat lombanya dulu. Raka yang duduk di car seat belakang pun menatap Papa dan Mamanya bergantian.


"Ma, kalau bisa menang dong, Ma. Raka pengen menang. Katanya yang menang dapat piala, Ma," balas Raka.


Agaknya sekarang Raka tertarik dengan piala yang akan diberikan ketika seorang siswa berhasil menjadi juara. Raka begitu ingin memenangkan kompetisi ini. Jika Mama dan Papanya mau berusaha, pastilah mereka bisa menang bersama-sama.


Hingga akhirnya mereka sampai di Villa yang memiliki kurang lebih lima puluh kamar, dan setiap keluarga akan menjadi satu kamar yang akan mereka tempati selama tiga hari. Begitu masuki kamarnya, Erina melihat tempat tidur yang hanya ada dua. Satu ranjang ukuran besar, dan satu ranjang untuk anak-anak. Wanita itu sudah menghela nafas panjang pastilah nanti dia harus satu ranjang dengan Zaid, suaminya.


"Aku tidak mau satu ranjang denganmu," ucap Erina.


"Hanya ada satu ranjang untuk orang tua," balas Zaid.

__ADS_1


"Kamu tidur saja dengan Raka, aku tidur di kasur kecil itu," balas Erina lagi.


Zaid menghela nafas panjang dan menatap istrinya. "Jangan kekanak-kanakan Erina. Di sini kita harus tidur sesuai dengan kondisi di dalam kamarnya. Lagipula, hanya dua malam. Apa susahnya menyesuaikan diri terlebih dahulu?" balas Zaid.


"Kamu pasti mencuri kesempatan nanti," balas Erina.


Zaid pun tersenyum miring dan mendengkus usai mendengar jawaban Erina itu. "Ck, mencuri kesempatan? Kalau aku mau, setiap malam aku bisa melakukannya. Namun, aku tidak melakukannya karena aku menghormati kamu, Rin," balas Zaid.


Perdebatan mereka berakhir, ketika Raka kembali masuk ke dalam kamar dan memanggil Mama dan Papanya untuk keluar.


"Ma, Pa ... diminta berkumpul di taman belakang. Acara pembukaan dimulai," ucap Raka.

__ADS_1


Zaid dan Erina pun akhirnya mengikuti Raka untuk keluar menuju ke taman, dan mengikuti acara pembukaan. Walau Erina sangat enggan, tapi dia akan menyelesaikan acara sampai selesai. Sebab, dia mau mengikuti acara ini hanya karena Raka yang meminta.


__ADS_2