
Beberapa hari telah berlalu, sebenarnya kehidupan rumah tangga Zaid dan Erina tampak seolah berjalan di tempat. Jika keduanya rujuk, masih sama bahwa itu semua dilakukan hanya demi Raka saja. Namun, tidak dipungkiri bahwa sebenarnya Zaid masih menaruh cinta kepada Erina.
Zaid sendiri sebenarnya adalah pria yang tidak mudah jatuh cinta. Dulu, ketika dia masih muda, Zaid merasa jatuh cinta dengan seorang wanita, sayangnya wanita itu sudah menjadi istri orang lain. Cinta pertama yang tak terbalas. Akan tetapi, Zaid berbesar hati, melepaskan cinta pertamanya. Hingga akhirnya dengan Mamanya, dia dijodohkan dengan Erina, putri seorang desainer terkenal, langganan Mamanya ketika membuat gaun atau kebaya.
Sekarang, ketika Zaid usai mengantarkan Raka ke sekolah. Zaid memilih mampir ke rumah Mamanya. Yang secara jaraknya juga tidak terlalu jauh dengan tempat sekolah Raka.
"Assalamu'alaikum, Mama," sapanya begitu memasuki rumah Mamanya, Linda.
"Waalaikumsalam," balas sang Mama.
Kembali bertemu dengan putranya setelah sekian lama tentu membuat sang Mama sangat senang. Zaid pun memeluk Mamanya itu. "Mama sehat?" tanyanya.
"Alhamdulillah, Mama sehat," balas Mama Linda. "Gimana, kamu dan Erin juga baik kan?" tanya Mamanya.
Ketika ditanyai tentang Erina, sebenarnya Zaid tak bisa menjawab. Terlebih merasa berdosa ketika berbicara yang bukan berdasarkan fakta dengan Mamanya sendiri. Namun, Zaid tetap harus memberikan jawaban.
"Baik, Ma ... kami berdua baik-baik saja," balas Raka.
Mama Linda tersenyum di sana. "Wajah kamu tidak bisa berbohong, Zaid. Kamu adalah anak Mama yang sangat baik dan tidak pernah bohong kepada Mama. Sekarang, ceritakan kenapa kamu dengan Erina?" tanyanya.
Zaid menggelengkan kepalanya perlahan. Dia sudah memberikan jawaban bahwa dia dan Erina dalam keadaan baik, rupanya sang Mama bisa mengetahui hal yang lain. Hati seorang ibu memang tidak bisa dibohongi dan itu yang terjadi sekarang ini.
__ADS_1
"Zaid dan Erina baik-baik saja, Ma. Kalau rumah tangga ada masalah itu kan wajar, Ma," balas Zaid.
"Tergantung masalahnya, Zaid. Masalah besar atau kecil. Masalah kecil kalau dibiarkan saja juga akan menjadi besar," balas Mama Linda.
Zaid sepenuhnya percaya dengan apa yang disampaikan oleh Mamanya. Bahwa sebenarnya masalah kecil pun jika dibiarkan akan menjadi besar. Zaid seolah melakukan instropeksi dengan dirinya sendiri.
Jika bermain hati dengan wanita lain, itu yang tidak pernah dilakukan Zaid. Namun, memang dulu Zaid bekerja sangat keras dan membuka banyak cabang kafe di berbagai kota. Pekerjaan yang membuatnya sering keluar dari rumah, menuju satu kota ke kota yang lain. Dulu, Erina pernah mengeluh kepadanya. Merasa sendiri mengurus rumah dan Raka kecil.
Sebagai solusinya, Zaid pun menawarkan babysitter untuk Erina, supaya ada yang mengasuh Raka. Namun, Erina menolaknya. Hingga di batas, cinta mula-mula dalam pernikahan itu menjadi hambar. Tidak ada lagi kasih sayang yang dekat antara suami dan istri. Berhubungan pun hanya sekadar melakukan, tidak pernah sampai merasakan tingkat kepuasan tersendiri. Di titik Erina yang menggugat cerai kepada Zaid. Istrinya mengatakan bahwa dia kehilangan hidupnya sendiri. Tidak ada ruang bagi hidupnya.
Zaid audah berusaha untuk mencegah Erina, tapi semua tidak membuahkan hasil. Benar-benar nihil. Perceraian pun tak bisa dielakkan. Namun, perceraian itu hanya bertahan dua bulan dan akhirnya keduanya memilih rujuk.
Zaid menggelengkan kepalanya dan tersenyum di sana. "Enggak, Ma. Tiba-tiba kangen Erina aja, Ma. Sekarang Erina sudah mulai bekerja, Ma," ceritanya.
"Ya, itu bagus. Mama mendukung Erina. Asalkan karir dan kehidupan rumah tangga berjalan seimbang tidak ada salahnya bukan?"
Respons yang diberikan Mama Linda pun adalah respons yang positif. Tidak masalah jika seorang istri bekerja. Asalkan bisa berjalan seimbang tidak masalah.
"Iya, Ma ... Zaid juga mendukung Erin, kok," balasnya.
"Mama memasak ikan tongkol cabai hijau kesukaan Erin, nanti kamu berikan untuk Erin yah," ucap Mama Linda.
__ADS_1
"Iya Ma, sekalian minta nasi putihnya sedikit, Ma," balas Zaid.
Mungkin jika sekaligus ada nasi putih bisa langsung dimakan Erina. Toh, bisa dimakan sebagai makan siang. Pikir Zaid, dia akan mengantarkan itu ke Butiknya Erina.
Rupanya benar, begitu Mamanya menyiapkan nasi dan lauk dalam satu kotak makan, Zaid berpamitan pulang kepada Mamanya. "Ma, Zai ke Butiknya Erina dulu yah," pamitnya.
"Ya ya, Zai ... hati-hati," balas Mama Linda.
Tidak perlu menunggu lama, Zaid segera menuju Butik milik Erina. Niatannya adalah mengantarkan kotak bekal itu. Mungkin saja dengan melakukan perhatian kecil, dia bisa mendapatkan perhatian Erina lagi. Kali ini berjuang untuk cinta rasanya tidak masalah bukan?
Sembari mengemudi, Zaid sesekali melirik kotak bekal dan juga tersenyum. Baru kali ini, Zaid melakukan hal seperti ini. Namun, tidak masalah. Dia juga sedang berusaha.
Begitu sudah tiba di butik Erina, Zaid yang hendak turun dari mobil terkejut melihat Erina keluar dari Butik bersama Erick. Zaid merasa kakinya merasa lemas. Ingin melangkah, rasanya sukar. Hingga akhirnya dia memilih untuk kembali ke mobil.
Dari pandangan kini, bisa Zaid lihat senyuman Erina, dan bagaimana Erick membukakan pintu mobil untuk Erina. Akan tetapi, kebahagiaan itu Erina rasakan bukan bersama dengannya.
"Apa dia pilihan hatimu, Rin? Mungkinkah itu adalah cinta yang lain di dalam hatimu. Bukan aku, tapi dia, Rin ... jika sudah begini, apa aku harus kembali melepasmu? "
Zaid hanya bisa mende-sah perlahan dan menaruh kembali kotak bekal itu di kursi yang berada di samping kursi kemudi. Agaknya akan sukar untuk memperbaiki keadaan, membina kembali rumah tangga.
Meruntuhkan suatu bangunan itu mudah, tapi membangunnya kembali itulah yang tidak mudah. Mungkinkah selama kesibukannya berbisnis, ada kalanya Erina bertemu dengan Erick tanpa sepengetahuannya? Zaid paham benar bahwa senyuman semerekah itu sudah lama tidak Zaid lihat dari Erina. Apakah dengan meminta Erina rujuk dengannya, Zaid tengah menghalang-halangi cinta dan perasaan istrinya dengan pemuda yang adalah Desainer terkenal bernama Erick itu?
__ADS_1