
Obrolan antara Zaid dan Erina seolah membuka kembali memori mereka. Mengingatkan pada masa awal pernikahan mereka di mana tidak ada api yang membuat keduanya sama-sama hangat. Hanya ada rutinitas. Mungkin dilatarbelakangi dengan perjodohan di antara keduanya, hingga butuh waktu juga untuk menumbuhkan cinta.
Selain itu, adanya pihak ketiga yang menggerogoti pernikahan yang belum sepenuhnya kuat, membuat pernikahan keduanya rawan dengan yang namanya perceraian. Nyatanya lima tahun pertama pernikahan membuat keduanya tidak saling menguatkan ikatan, melainkan hubungan itu justru kian rapuh. Ketidakberdayaan Zaid dan juga kekerasan hati Erina seakan menjadi pemicu perpisahan yang terjadi beberapa bulan yang lalu.
Sekarang, ketika keduanya sudah saling membuka hati. Sama-sama memberikan kesempatan untuk hubungan mereka berdua, yang ada bahwa cinta itu barulah semakin tumbuh.
"Kamu pengen?" tanya Zaid mengulangi pertanyaannya.
Tidak langsung memberikan jawaban. Akan tetapi, Erina tersenyum di sana. Lantas Erina mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Zaid di sana.
Cup.
Usai itu tidak ada lagi yang Erina katakan. Namun, sebagai pria Zaid tahu bahwa itulah jawaban yang diberikan oleh Erina. Oleh karena itu, Zaid tidak akan mengulur waktu. Dia kemudian mulai segera mencium bibir Erina. Hati Zaid melimpah dengan kebahagiaan sekarang. Baginya, inilah yang namanya sebuah bentuk hubungan yang baru.
Pria itu mencium bibir Erina dengan sepenuh hati. Dia labuhkan kecupan berbalut dengan lu-matan di bibir istrinya. Akhirnya tidak menunggu waktu lama, decakan pun terjadi begitu saja. Keduanya terombang-ambing di dalam perjalanan dari hulu menuju ke hilir. Ada desakan yang seolah menuntun keduanya.
"Mas Zaid," suara Erina terdengar dengan sedikit de-sahan di sana.
Sungguh, Erina sangat terbakar dengan cara suaminya menciumnya. Itu adalah hisapan yang benar-benar menyulut dirinya. Disertai dengan lu-matan yang membuat hatinya berdesir. Erina semakin memejamkan matanya. Dia biarkan suaminya, melakukan apa pun yang dia mau.
Ketika Erina sudah tersulut, nyatanya Zaid sendiri sudah terbakar. Dia merasakan bagaimana dirinya yang benar-benar sudah merasa panas. Ketika, bibirnya mencium, Zaid mengombinasikan dengan sentuhan tangan yang seakan menghantarkan arus listrik kepada istrinya.
__ADS_1
"Kita pindah ke tempat tidur yah, biar kamu lebih nyaman," kata Zaid sekarang.
Dia hanya ingin Erina nyaman, terlebih dengan kondisi Erina yang sedang hamil muda. Mengutamakan kenyamanan Erina adalah prioritas dari Zaid. Pria itu pun menggendong Erina ala bridal style. Lantas, Zaid menurunkan Erina di ranjang dengan hati-hati.
Dengan pandangan yang mengunci Erina, Zaid membawa tangannya perlahan-lahan membuka kancing demi kancing di piyama Erina. Sangat hati-hati. Kehati-hatian Zaid ini justru yang membuat Erina berdebar-debar. Jika diperlakukan seperti ini, rasanya justru seperti menjadi pengantin baru.
Tidak ingin bersikap pasif, Erina beringsut sedikit duduk, lantas dia menarik ke atas kaos yang dikenakan suaminya. Membuat suaminya itu tampil shirtless di hadapannya. Tangan Erina membelai perlahan area dada suaminya. Dia menatap Zaid, entah dari mana Erina berusaha untuk tidak malu-malu di hadapan suaminya. Tangannya bergerak memberikan elusan lembut. Hingga tangan itu berani membelai perlahan pusaka sang suami.
Sebatas meraba saja, Erina tahu bahwa suaminya sudah sangat siap. Ada desisan Zaid, manakala merasakan sentuhan Erina yang lembut, tapi sangat menghanyutkan. Bahkan Zaid sampai memejamkan matanya.
"Ssshhs, Sayang ...."
Tak ada jawaban dari Erina. Akan tetapi, wanita itu akhirnya memberanikan dirinya melepas sisa-sisa busana di tubuh suaminya. Tidak menyisakan sehelai benang pun. Ditambah dengan Erina sedikit menunduk dan memberikan sapaan di pusaka sang suami.
"Sayang," suara Zaid yang serak dan dalam pun mulai terdengar.
Namun, Erina tetap memberikan sapaan dalam kesan yang hangat dan basah. Dia benamkan pusaka itu benar-benar di rongga mulutnya. Bersarang di dalam sana dan merasakan kehangatannya.
Namun, Zaid tak mau menjadi pria yang egois. Pria itu menatap Erina, dan memberi isyarat sudah cukup. Maka, Zaid membantu Erina untuk rebah, dan dia mulai memuja Erina. Dia raba perlahan bulatan indah milik Erina, meremasnya, mempermainkan bulatan indah itu. Tak sampai di sana, Zaid pun memberikan sapaan berupa hisapan dan gigitan di bulatan indah milik Erina.
"Mas Za ... id."
__ADS_1
Erina memekik. Wanita itu hanya bisa memejamkan matanya, menikmati kecupan, hisapan, bahkan gigitan Zaid yang membuatnya benar-benar gila sekarang. Tak hanya itu, Erina bahkan sampai membawa satu tangan suaminya yang lain ke bulatan indahnya. Zaid sangat tahu apa yang diinginkan Erina. Oleh karena itu, ketika Zaid mencumbu satu bulatan indah, maka tangannya akan memberikan godaan yang serupa di bulatan indah yang lain.
Di dalam hatinya, Zaid justru sangat senang ketika Erina benar-benar membebaskan dirinya. Erina menunjukkan sosok yang baru. Tentunya ini juga menandai hubungan baru keduanya.
"Mas ... Zaid ...."
Suara Erina mengalun indah disertai dengan deru napas yang terengah-engah. Namun, itu justru menjadi lecutan untuk Zaid. Dia melakukan semuanya. Tidak akan tergesa-gesa. Semua ini Zaid lakukan karena dia ingin melakukan yang terbaik untuk istrinya.
Hingga Zaid melakukan invansi terus ke bawah. Sasarannya kini adalah di lembah yang sudah menjadi wilayah jajahannya. Dia menginvansi di sana dengan sapaan hangat dan basah. Lidah yang terus bergerak dan memberikan usapan, tusukan, dan godaan yang benar-benar memabukkan. De-sahan Erina tak menghentikan Zaid. Justru dia sangat menikmatinya.
Sampai di batas, Zaid merasakan lembah di bawah sana kian basah. Maka, Zaid mulai menindih Erina dengan hati-hati. Dia mulai merapatkan dirinya, menyatukan pusaka dengan cawan surgawi yang hangat, erat, dan basah. Cengkeraman otot-otot di bawah sana membuat Zaid menggeram.
"Astaga, Erina ... Sayang," suara Zaid.
Pria itu berusaha untuk bergerak dalam gerakan maju dan mundur. Benturan yang terjadi pun sudah diperhitungkan oleh Zaid, karena dia tahu istrinya tengah hamil muda. Tusukan, hujaman, dan pacuan yang diperhitungkan kekuatannya.
Dua jiwa bermuara. Sungguh luar biasa. Tangan-tangan Erina yang mencengkeram punggung suaminya, dan tubuh yang saling berbagi peluh menciptakan atmosfer tersendiri. Sangat indah. Luar biasa rasanya.
Dalam setiap hujaman dan penerimaan Erina, Zaid tahu inilah bentuk hubungan yang baru bagi keduanya. Sama-sama tenggelam, tapi tak kehilangan oksigen untuk terus bernapas. Sama-sama terjerembab, tapi mereka selamat. Sama-sama jatuh terperosok, tapi ini adalah jurang kenikmatan.
"I Love U, Sayang."
__ADS_1
Zaid menuntaskan semuanya dengan memenuhi cawan surgawi Erina. Nikmat dan mantap, dua kata yang membuat Zaid meledak dalam kenikmatan tiada tara.