
Keesokan harinya adalah hari yang baru untuk Zaid, Erina, dan Raka. Pagi hari yang dia sambut dengan berdua dan juga ada Raka yang begitu senang. Jika dalam beberapa hari yang lalu, anak kecil itu menyambut pagi hanya dengan Papanya. Sekarang, di meja makan ada Mama dan Papanya. Terasa begitu lengkap untuk Raka.
"Pagi," sapa Zaid begitu keluar menuju ke meja makan.
"Pagi," sapa Erina dan Raka bersamaan.
Kemudian Raka tampak tersenyum kepada sang Papa.
"Pa, karena pagi ini Mama ada di antara kita. Raka mau disuapin oleh Mama boleh?" tanya Raka kepada Papanya.
Mungkin saja Raka bertanya demikian, karena sejauh ini memorinya yang tersisa adalah Papanya yang terus menyuapinya makan. Bahkan Raka masih ingat bahwa suapan Papanya terasa biasa saja, tidak seenak suapan Mamanya.
"Kalau Papa sih boleh ... coba tanya kepada Mama. Mama mau tidak menyuapi Raka?" tanya Zaid dengan menatap wajah Erina sekarang.
"Tentu, boleh ... Raka suka disuapin Mama yah?" tanya Erina.
Raka pun menganggukkan kepalanya. "Iya Ma ... disuapin Mama rasanya enak. Kalau disuapin Papa ... biasa saja," balasnya.
__ADS_1
Dulu Raka mengatakan bahwa disuapin Papanya rasanya tidak enak. Akan tetapi, sekarang Raka mengatakan bahwa disuapin Papanya rasanya biasa saja.
"Tidak apa-apa, Raka ... yang pasti Papa selalu sayang sama kamu," balas Zaid.
"Iya Pa ... Pa, kapan Raka boleh sekolah Pa?" tanya Raka kemudian.
Zaid terdiam. Kali ini mungkinkah memang Raka mengingat sedikit-sedikit, bahkan putranya itu mengingat bahwa dia bersekolah. Zaid pikir bahwa Raka juga tidak ingat mengenai sekolahnya.
"Raka ingat kalau Raka sekolah?" tanya Zaid.
Ketika Raka berbicara mengenai seragamnya yang terkena darah. Tampaknya Zaid harus hati-hati untuk menjelaskan kepada Raka. Bagaimana pun kecelakaan kala itu adalah hal yang sensitif dan mungkin bisa menyebabkan trauma sendiri untuk Raka.
"Raka jatuh ya Pa?" tanyanya.
Zaid akhirnya menganggukkan kepalanya. "Iya, untuk luka di bahu kamu itu," balasnya.
"Oh, luka ini ya Pa ... kapan sembuhnya Pa?" tanya Raka lagi.
__ADS_1
"Kalau jahitannya sudah kering, Raka. Raka yakin mau sekolah?" tanya Zaid kepada putranya itu.
"Mau Pa ... kan sekarang ada Papa dan Mama. Nanti bisa ke sekolah dianterin Mama dan Papa, kan katanya Papa tidak bekerja ... bekerja dari rumah?" tanyanya.
Zaid tersenyum. Rupanya untuk informasi yang baru, Raka juga masih ingat. Semoga saja Raka juga perlahan-lahan akan mendapatkan ingatannya lagi. "Konsultasi dengan Dokter Sony dulu ya Raka? Namun, ketika Raka harus terapi ke Rumah Sakit, sekolahnya libur dulu yah," balas Zaid.
Raka yang tidak sepenuhnya tahu pun akhirnya memilih untuk menganggukkan kepalanya. "Iya Papa ... mau. Nanti diantar Mama juga ya kalau Mama tidak bekerja," balas Raka.
Erina yang lebih banyak diam pun menyela pembicaraan Zaid dan Raka. "Kalau mau sembuh, makan yang sehat dan bernutrisi dulu ya Raka. Yuk, Mama suapin. Ini adalah Sup Ikan kesukaan kamu," ucap Erina.
"Ini ikan apa, Ma?" tanya Raka.
"Ikan Dory, Raka ... Fillet Ikan Dory kesukaan kamu," balas Erina.
Raka pun membuka mulutnya dan kemudian menerima suapan dari Mamanya itu. "Makasih banyak Mama. Pagi ini rasanya lebih indah untuk Raka. Melihat Mama dan Papa di satu meja makan, bikin Raka bahagia," ucapnya.
Ada helaan nafas yang panjang dari Zaid dan Erina. Walau urusan hatinya banyak tertekan dan belum pulih. Akan tetapi, jika memang untuk kebahagiaan Raka, maka keduanya sepakatan untuk melakukan yang terbaik untuk Raka, putra mereka satu-satunya.
__ADS_1