
Sekarang Erina sudah berada di Lembang, Jawa Barat. Rumah masa kecilnya yang dekat perkebunan teh adalah tempat yang Erina datangi sekarang. Bukan sekadar mencari ketenangan, tapi juga Erina ingin mencari jawaban atas semua dilema yang dialaminya belakangan ini.
"Tumben Rin, kamu ingat untuk pulang ke sini?" tanya Bu Lia kepada putrinya itu.
"Erina kangen dengan Bapak dan Ibu. Selain itu, ingin menikmati hawa sejuk di kota Lembang," balas Erina.
"Suami dan anak kamu enggak ikut?" tanya Bu Lia juga.
"Nanti Mas Zaid dan Raka menyusul ke sini, Bu. Erina kangen dengan rumah Erin sewaktu kecil. Kangen Oncom, Bu," balasnya.
Bu Lia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Oncom selalu ada di rumah, nanti Ibu buatkan untuk kamu. Zaid dan Raka sehat kan?" tanya Bu Lia kemudian.
"Sehat, Ibu. Kan waktu Mas Zaid mengantar Erina tadi, Ibu juga melihat bahwa Mas Zaid sehat," balas Erina.
Ya, Erina tiba di Lembang tidak seorang diri. Melainkan ada Zaid yang mengantarnya. Selain itu, Zaid juga berkata kepada Erina bahwa setelah dua hari, dia dan Raka akan menjemputnya ke Lembang.
"Kamu tidak ada masalah dengan Zaid kan?" tanya Bu Lia lagi.
__ADS_1
Yang menjadi kekhawatiran Bu Lia adalah ketika anak pulang ke rumah orang tuanya biasanya karena terjadi masalah. Oleh karena itu, sekarang Bu Lia, bertanya kepada Erina demikian. Sebagai orang tua pun, tentu Bu Lia mengharap kebahagiaan rumah tangga anaknya.
"Ibu juga bisa melihat sendiri tadi kalau Erin dan Mas Zaid baik-baik saja," balasnya.
Sebenarnya tidak enak berkilah kepada orang tua sendiri. Akan tetapi, memang biarlah saja. Toh, Erina berniat mencari jawaban atas dilema yang dia alami. Ingin mendapatkan solusi terbaik untuk apa yang dia alami sekarang.
"Ya sudah. Intinya kalau ada permasalahan itu diselesaikan dengan baik-baik. Jangan disimpan seorang diri," balas Bu. Lia.
Erina menganggukkan kepalanya. Kemudian dia sekarang duduk di depan rumah. Melihat hijaunya perkebunan teh, para pengerja teh yang tampak menanen pucuk daun teh terbaik. Suasana yang sangat asri. Memang ada kalanya membutuhkan suasana seperti ini untuk sedikit menenangkan diri.
Hingga menjelang malam, suasana di Lembang begitu dingin. Bapaknya Erina pun sudah pulang, karena Bapaknya bekerja di perusahaan Teh yang ada di Lembang. Malam dalam kekeluargaan di rumah keluarga Erina yang sederhana.
"Dua hari lagi Mas Zaid akan menjemput Erina kok, Pak. Erin butuh waktu tenang, liburan sebentar, dan Mas Zaid memberikan izin," balasnya.
"Ya, tidak apa-apa. Namun, kalian berdua tidak ada masalah kan?" Jika tadi Ibunya yang menanyainya, sekarang giliran Pak Raplan yang bertanya kepada Erina.
"Tidak kok, Pak ... kami baik," balas Erina lagi.
__ADS_1
Pak Raplan kemudian menatap Erina sesaat. Kali ini agaknya ada sesuatu yang harus Pak Raplan sampaikan kepada Erina.
"Rin, sebenarnya ada peristiwa yang harus kamu ketahui. Terkait Zaid," ucap sang Bapak.
"Ya, Pak ... ada apa dengan Mas Zaid?"
"Satu tahun lalu, perusahaan teh milik Bapak nyaris kolaps, Rin. Pendapatan yang jauh lebih sedikit dengan pengeluaran operasional perusahaan. Di saat perusahaan Bapak nyaris tak bisa beroperasi. Zaid adalah orang pertama yang Bapak telepon dan mintai tolong. Bahkan Zaid mengajari Bapak bagaimana membawa perusahaan Teh ini bisa bangkit. Dalam sebulan dia bolak-balik ke Lembang, menginap di sini. Tujuannya untuk membantu memulihkan perusahaan."
Mendengar cerita dari Bapaknya, Erina tertegun. Jika menilik dari rentang waktu bukankah itu satu tahun yang lalu, ketika Erina merasa Zaid tidak ada waktu untuknya. Dalam sebulan, Zaid bisa tiga kali perjalanan ke luar kota. Rupanya itu karena Zaid berusaha memulihkan perusahaan Bapaknya.
Memang adalah sosok yang piawai untuk memproyeksikan sebuah bisnis. Kejeliannya menciptakan peluang bukan hanya diterapkan di usaha food & beverage miliknya dengan berhasil mendirikan kafe di berbagai kota besar di Indonesia. Dia juga pernah memotivasi rekan dan seorang wanita yang dulu pernah singgah di hatinya untuk mendirikan kopi shop yang kini memiliki ratusan cabang di Indonesia. Rupanya, Zaid pun pernah membantu Bapak mertuanya sendiri untuk memulihkan perusahaan teh miliknya.
"Perusahaan teh Bapak memang kuno, dari zaman Kakek Buyutmu. Namun, berapa banyak jiwa yang menggantungkan hidup dan keluarganya ke perusahaan teh milik kita. Untung Zaid bisa menciptakan peluang bisnis baru. Bahkan kedai Teh di ujung Perkebunan itu adalah pengembangan bisnis dari sensasi minum teh di alam terbuka, di kebun Teh. Itu adalah ide Zaid, investornya juga adalah suaminya."
Ketika Bapaknya menceritakan semua itu, sontak Erina merasa bersalah. Ketika suaminya dengan niat yang tulus membantu perusahaan Bapaknya bangkit, kala itu Erina justru merasa ditinggalkan, tidak mendapatkan perhatian dari Zaid. Menyadari kesalahannya, Erina merasa malu dengan dirinya sendiri.
"Kenapa Mas Zaid tidak pernah cerita, Pak?" tanya Erina lagi.
__ADS_1
"Sebab, Zaid tidak ingin kamu kepikiran dengan situasi di Lembang. Dia ingin kamu bisa tidur nyenyak, mengasuh Raka, dan dia yang turun tangan sendiri."
Usai mendengar semua cerita dari Bapaknya. Erina merasa bersalah kepada suaminya. Bahkan waktu itu, justru waktu yang dia habiskan dengan Erick semakin banyak. Membuatnya berkeinginan untuk bercerai. Merasa tidak bisa mendampingi Zaid dengan ritme bekerjanya yang begitu tinggi.