
Mengikuti Kids Camp, Zaid sendiri merasakan bahwa banyak rumah tangga yang bersalah. Namun, untuk memperbaiki tergantung pada orang tuanya. Asal mau berkolaborasi dan bekerja sama, pasti bisa.
Malam itu, ketika Raka sudah tidur, Zaid dan Erina masih berada di balkon kamar mereka. Ini menjadi malam terakhir bagi mereka mengikuti Kids Camp. Esok mereka akan kembali lagi ke Jakarta.
"Kids Camp ini berharga ya, Rin," ucap Zaid perlahan.
Menurut Zaid apa yang dilakukan selama Kids Camp adalah kegiatan yang bermanfaat. Dari kegiatan kompetisi hingga aktivitas untuk Raka. Semuanya adalah kegiatan yang mendekatkan seorang anak dengan orang tuanya.
"Iya," balas Erina dengan singkat.
"Setelah mengikuti semua kegiatan, aku menyadari kesalahan kita berdua, Rin. Kita kurang berkomunikasi dan juga kurang bisa mencari cara untuk memecahkan solusi."
__ADS_1
Ya, sekarang Zaid pun melakukan instrospeksi diri. Menurutnya, semua yang terjadi karena dia dan Erina yang kurang berkomunikasi. Keduanya juga enggan untuk segera mencari solusi. Selain itu, juga Erina yang melibatkan orang ketiga. Sehingga mau tidak mau, ada orang ketiga yang memanfaatkan celah untuk bisa turut terlibat.
"Satu lagi, Rin ... mulai sekarang jangan libatkan orang lain dalam rumah tangga kita, Rin. Sekarang, aku minta kepadamu ... kita perbaiki rumah tangga kita bersama-sama," ucap Zaid lagi.
Sekarang, Zaid agaknya benar-benar berbicara dengan serius bahwa dia ingin memperbaiki rumah tangganya. Selain itu, dia meminta kepada Erina untuk berhenti melibatkan orang lain dalam urusan rumah tangganya. Erina terdiam, seakan dia tidak bisa memberikan jawaban.
Zaid sedikit beringsut, dan kemudian pria itu memberanikan diri untuk menggenggam tangan istrinya. Kemudian Zaid berkata lagi kepada Erina.
Kali ini, Zaid mengatakan dengan tulus. Bahkan ucapannya malam itu begitu lembut. Dia bahkan menyatakan diri bahwa ketika Erina mengalami apa pun dalam hidup, tidak perlu mencari orang lain. Melainkan cukup mencari dirinya saja. Zaid akan memastikan bahwa dia akan selalu ada untuk Erina.
"Zai, sebaiknya kita masuk," ucap Erina.
__ADS_1
Sekarang mereka berada di balkon. Sementara ada Zaid yang menggenggam tangannya membuat Erina merasa was-was jika ada orang lain yang melihatnya sekarang.
Mengikuti permintaan Erina, sekarang mereka memasuki kamar dan Zaid menutup pintu yang menghadap ke arah balkon itu. Erina memilih untuk menaiki ranjang, dengan posisi untuk bersandar di headboard.
Zaid pun turun mengambil tempat di sisi Erina. Kini tangan Zaid kembali menggenggam tangan Erina di sana. Seakan Zaid harus bekerja keras untuk meluluhkan hati Erina.
"Bagaimana menurutmu, Rin?" tanya Zaid kemudian.
Kali ini Erina masih diam. Hingga akhirnya, Erina pun memberinya jawabannya. "Zai, beri aku waktu untuk berpikir, Zai," balasnya.
Zaid beringsut dan kemudian dia melihat wajah Erina di sana. "Lupakan semua syarat dalam kesepakatan rujuk kita berdua. Terimalah aku sepenuhnya," balas Zaid.
__ADS_1
Seorang pria seperti Zaid, benar-benar mengungkapkan bagaimana dia berusaha menyentuh hati Erina dengan tulus. Seorang suami yang mau untuk memulai semuanya bersama. Melupakan semua syarat dalam kesepakatan rujuk, dan Erina bisa menerima Zaid seutuhnya.