
Kabar yang diterima Erick mengenai sebuah butik baru yang baru saja berdiri benar-benar membuatnya geram. Sebab, Erick merasa bahwa Erina tengah menjadi oposisi untuknya dan Mela di dunia bisnis fashion. Selain itu, Erick juga mendengar bahwa butik yang baru saja launching itu sudah bisa menjual beberapa produk dan jajaran produk itu sudah Best Seller sekarang.
Di meja kerjanya, Erick begitu kesal dan memukul meja kerjanya. Bukan karena butiknya, lebih tepatnya yang membuat Erick kesal tentu adalah Erina. Dulu, Erina yang adalah teman, bahkan dicintai oleh Erick, kini justru memilih menjadi lawan.
"Loe lihat deh, Mela. Lihat ini kerjaan Erina sekarang. Dia membuka butik juga, mau saingan yah sama kita. Dikiranya menganggap kita kompetitor, kemudian bersaing," ucap Erick dengan begitu kesal.
Mela kemudian mengambil handphone Erick, melihat akun media sosial resmi dari butik itu. Kemudian Mela menatap kepada Erick.
"Rick, sudahlah. Memang Erina memiliki selera fashion yang bagus. Selain itu, dia bisa mendesain busana dengan sangat bagus. Justru kalau bersaing sehat itu tidak apa-apa," balas Mela.
__ADS_1
Erick yang kesal sekarang geleng-geleng kepala. Baginya sendiri, dia tetap tidak bisa menerima Erina akhirnya membuka bisnis butik sendiri. Sebab, itu bisa berimbas ke pendapatan mereka.
"Loe gak bisa mikir ya, La? Kalau Zarina butik ini laku, kita yang bakalan nyungsep. Kenapa enggak membuka kafe seperti lakinya, justru buka butik."
Erick masih sangat kesal. Baginya bisa saja Erina memilih bisnis kafe seperti suaminya, tidak dengan bisnis butik dan busana. Padahal, peluang berbisnis itu banyak, tapi Erina memilih menjadi kompetitor mereka.
Mela tidak menganggap Erina sebagai saingan. Namun, dia justru berharap bahwa Erina juga akan sukses dengan karirnya sendiri. Selain itu, Mela yakin Erina memiliki bakat luar biasa, didukung dengan kepemimpinan Zaid, pastilah Zarina Butik akan begitu berkembang.
"Gue bingung sama jalan pikiran loe. Yang jelas-jelas kompetitor justru didoakan berhasil," balas Erick.
__ADS_1
Usai itu, Erick memilih meninggalkan Mela. Berbicara dengan Mela justru membuatnya emosi. Dia pikir Mela akan satu tujuan dan satu pemikiran dengannya. Ternyata tidak. Mela justru mendoakan kesuksesan Erina dan butiknya.
"Awas loe, Rin. Gue gak akan tinggal diam. Gue akan buktikan bahwa selera loe di fashion itu rendahan dan tidak berkualitas. Jangan bergantung pada modal suamimu."
Erick sudah benar-benar begitu kesal. Bahkan sekarang, Erick akan berusaha untuk menghancurkan Erina dan bisnis. Setelah semua yang Erina lakukan seakan tak ada pintu maaf di hati Erick. Di terlanjur disakiti. Justru akan menggali celah demi celah untuk menghancurkan Erina.
"Sekarang kamu boleh berbangga hati, Rin. Namun, selanjutnya gue yang akan menang. Loe akan menangis. Bisnis loe akan hancur. Loe lupa siapa yang sudah loe sakiti. Erick tidak akan tinggal diam. Erick akan membalas, Rin. Gue akan melupakan semua hubungan baik di antara kita. Sebab, sekarang loe gak lebih dari debu, Erina!"
Dulu Erick mencintai Erina. Mengambil celah untuk memanfaatkan situasi dan membuat Erina menjauh dari suaminya. Namun, setelah merasa usahanya berhasil, Erina justru memilih kembali kepada Zaid. Untuk semua itu Zaid tidak bisa memaafkan Erina lagi.
__ADS_1