Rujuk Bersyarat

Rujuk Bersyarat
Tidak Senang Melihat Orang Lain Bahagia


__ADS_3

Erick berdecak kesal melihat Erina yang sekarang hamil dan bisa Erick lihat bahwa Erina tampak bahagia dengan Zaid. Bahkan ketika dia mengatakan masa lalunya dulu, Erina seperti tak terpengaruh. Padahal menurut Erick, bisa saja nanti Zaid akan meninggalkan Erina lagi ketika Erina usai melahirkan, menyapih bayi, atau sebagainya.


"Erin, suatu saat nanti ... jika suami itu meninggalkanmu kala kamu baby blues atau menyapih, jangan mencariku," kata Erick sekarang.


Erina yang sebelumnya sudah berjalan dengan Zaid pun menoleh kepada suaminya. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar.


"Tidak ... tidak akan, Rick. Terima kasih dulu kamu sudah banyak membantuku," balas Erina.


"Di masa depan, jika hal serupa terjadi padamu tidak akan ada yang membantumu," balas Erick.


Zaid mengambil langkah lebih dekat dengan Erick, semula Zaid sudah diam dan memilih untuk mengajak Erina pergi. Akan tetapi, sekarang ... Zaid merasa harus menanggapi mulut lemes pria bernama Erick itu.


"Aku sangat yakin bahwa dulu ... kamu sengaja memberikan arahan yang tidak benar. Ketika Erina terguncang dan lelah dengan semuanya, kamu sengaja mengatakan yang tidak-tidak. Membuat Erina memilih jalan yang salah," kata Zaid.


"Kamu peduli apa kepada istrimu sendiri?" balas Erick.

__ADS_1


Bagaimana pun juga di mata Erick bahwa Zaid adalah pria yang tidak bertanggung jawab. Suami yang tidak menemani istrinya. Namun, lebih memilih untuk mengurus bisnisnya. Tanpa Erick ketahui, bahwa Zaid harus bolak-balik Jakarta ke Lembang untuk memulihkan bisnis mertuanya sendiri. Tidak ada yang tahu, jika bukan mertuanya yang akhirnya bercerita kepada Erina.


"Seorang suami selalu memperhatikan istrinya, tentu dengan caranya masing-masing. Sekali lagi, aku tidak butuh mengatakan semua yang aku lakukan untuk orang lain. Ketika tangan kananmu memberikan untuk orang lain, tangan kiri tidak perlu mengerti bukan? Begitu juga untuk peduli kita, tidak harus dijelaskan kepada siapa pun," balas Zaid.


"Ngeles aja loe," balas Erick.


"Gak, gue hanya berusaha memberitahu, jika kamu melakukan sesuatu untuk orang lain, lakukanlah dengan ikhlas. Tidak menuntut balas. Sorry, Rick ... sikapmu sekarang menunjukkan betapa kamu tidak bahagia dengan kebahagiaan Erina sekarang. Tenang saja, suaminya Erina ini akan selalu memprioritaskan Erina lebih dari apa pun," balas Zaid.


"Termasuk kalau bisnismu runtuh?" tanya Erick.


"Dalam susah atau senang, sehat atau sakit, kaya atau miskin, aku akan selalu bersama Erina," balas Zaid.


"Kamu bisa berkata begitu karena sekarang kamu berlimpah secara materi," balas Erick.


"Kamu salah besar, kalau aku tidak memiliki apa pun. Untuk kebahagiaan Erina aku akan mengupayakannya," balas Zaid dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Sekarang Erick tak berkutik. Terlihat jelas bahwa Zaid sungguh-sungguh dengan setiap ucapannya. Selain itu, juga pria seperti Zaid tidak akan meninggalkan janji begitu saja. Melainkan, dia akan melakukan dan mengupayakan apa pun untuk Erina dan Raka, dua orang yang paling berharga untuk Zaid sekarang.


"Lebih baik bersihkan hatimu, Rick. Tidak pantas kamu menjadi duri dalam daging di dalam pernikahan kami. Sebaiknya lupakan Erina, biarkan dia bahagia ... bersamaku."


Usai mengatakan semua itu, Zaid kembali menautkan tangannya untuk menggenggam tangan Erina. Dia akan berupaya untuk melakukan apa pun untuk Erina. Dengan sungguh-sungguh, kesejahteraan Erina adalah prioritas utama Zaid.


"Ayo, Sayang ... tidak usah dibiarkan. Mungkin dia sebenarnya sirik dengan kita," kata Zaid.


"Maafkan aku, Mas ... kayaknya aku salah memilih teman dan mengandalkan orang yang salah," balas Erina.


"Jadikan itu sebagai pelajaran, Sayang. Ada kalanya perkara rumah tangga kita cukup kita berdua saja yang tahu. Tidak perlu melibatkan orang lain. Ujung-ujungnya bisa seperti ini."


Itu adalah jawaban dan nasihat dari Zaid. Di lain waktu, dia berharap Erina bisa semakin belajar. Bahkan cukup pihak suami dan istri saja yang tahu, tidak perlu melibatkan pihak ketiga. Erina mendengarkannya, selain itu Erina akan lebih berhati-hati di masa yang akan datang.


"Iya, Mas ... maafkan aku yah," balas Erina.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Yang. Aku tidak marah sama sekali kok."


Erina benar-benar bersyukur karena Zaid sama sekali tidak marah kepadanya. Justru Zaid memberikan nasihat dengan bijaksana. Asam garam rumah tangga itu beragam, tapi tergantung bagaiman pasangan suami dan istri menyingkapinya.


__ADS_2